Wednesday, 15 July 2026


Peluang Bisnis Mesin Pertanian masih Terbuka Lebar

07 Mar 2024, 16:11 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah dorong penyerapan KUR alsintan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Peluang bisnis mesin pertanian (agribisnis) ternyata cukup menggiurkan untuk digeluti kalangan industri. Bukan hanya di on farm, tapi juga pengolahan hasil pertanian mempunyai potensi pasar cukup besar.

Guru Besar IPB University, Prof. Bungaran Saragih melihat sebagai negara agribisnis nomor 4 di  dunia, potensi pasar alat mesin pertanian di Indonesia sangat besar. Sayangnya, hingga pertanian di Indonesia  belum banyak menerapkan mekanisasi. “Kita mungkin sudah menerapkan, tapi belum secara luas,” katanya saat Seminar Pertanian Modern: Meraih Peluang  Pasar Mesin Pertanian Indonesia yang diselenggarakan Majalah AGRINA di Jakarta, Kamis (7/3).

Karena itu menurut Bungaran, ke depan paradigma pertanian harus berubah yakni dengan pendekatan sistem agribisnis. Artinya pertanian tidak bisa dilihat hanya dari hulu, tapi juga hilir hingga jasa penunjang. ”Kita harus melihat pertanian dalam skala bisnis,” tegasnya.

Dikatakan, meski rata-rata petani di Indonesia merupakan petani kecil dengan lahan yang sempit, tapi bukan berarti tidak bisa diterapkan mekanisasi pertanian. Dengan pendekatan bisnis, petani berlahan sempit juga bisa mengaplikasikan mesin pertanian. ”Bicara meraih peluang mesin agribisnis lebih banyak di hulu hingga hilir, bukan off farm,” ujarnya.

Bungaran yang juga mantan Menteri Pertanian ini menilai, program mekanisasi yang saat ini dijalankan pemerintah tidak sesuai harapan. Penyebabnya, karena hilirisasi tidak berjalan dengan baik. Karena itu ia menilai, dunia usaha yang harus memecahkan masalah tersebut, namun harus ada dukungan pemerintah.

Sementara itu Kepala BSIP Mekanisasi Pertanian, Agung Prabowo mengatakan, tantangan pembangunan pertanian kini bukan hanya ancaman perubahan iklim, tapi juga makin berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian. Kini rata-rata usia petani di atas 54 tahun dan generasi muda enggan terjun ke dunia pertanian, sehingga  diperkirakan pada tahun 2035, tenaga pertanian akan habis (zero).  ”Padahal di sisi lain, kebutuhan pemenuhan pangan sangat tinggi,” ujarnya.

Karena itu, menurut Agung, solusinya adalah dengan dukungan mekanisasi pertanian. Dari hasil kajian penggunaan alsintan dapat meningkatkan efisiensi waktu kerja 97,4?n menurunkan biaya kerja 40?lam pengolahan lahan. Sedangkan dalam penanaman dapat meningkatkan efisiensi waktu kerja 98?n menurunkan biaya kerja 20%.

Sementara dalam penyiangan, penggunaan alsintan akan meningkatkan efisiensi waktu kerja 88,5?n menurunkan biaya kerja 28,6%.  Selain itu, meningkatkan efisiensi waktu kerja 98,6?n menurunkan biaya kerja 26,9?lam pemanenan. Susut hasil panen pun hanya sekitar 3,5-5,5 persen.

Meski saat ini pemerintah gencar melakukan mekanisasi untuk memenuhi kebutuhan pangan, tapi penggunaannya belum optimal dan belum tepat jumlah dan lokasi. Untuk itu, bantuan alsintan dari pemerintah harus tepat lokasi.  ”Jadi kalau kita mau modernisasi pertanian dengan mekanisasi tidak bisa disamakan antara di Jawa dengan luar Jawa,” katanya.

Ada dua strategi dalam pengembangan alsintan. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018