Senin, 18 Februari 2019


UPJA Rina Karya, Tambah Combine Harvester untuk Ekspansi Usaha

26 Nov 2018, 13:34 WIBEditor : Ira

UPJA Rina Karya juga mendapat bantuan alsintan dari pemerintah

TABLOIDSINARTANI.COM -- Seiring berkembangnya mekanisasi pertanian, sejumlah UPJA saat ini sudah banyak yang mampu meraup untung dengan menyewakan alsintan ke petani. Bahkan, belakangan juga mulai banyak yang melakukan ekspansi usaha dengan cara membeli alsintan secara swadaya.

Salah satu yang siap melakukan ekspansi usaha dengan membeli alsintan adalah Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Rina Karya. UPJA yang berlokasi Desa Tanah Harapan, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) termasuk salah satu UPJA berkinerja cukup baik.

UPJA yang berdiri pada tahun 2010 ini tercatat sebagai salah satu dari enam UPJA berprestasi yang mendapat penghargaan dari Kementan di Hari Pangan Nasional (HPS) ke-38 di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Manager UPJA Rina Karya, Yosua Rante Ladjuk mengatakan, petani di Desa Tanah Harapan, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi saat ini sudah familiar dengan alsintan. Setelah mereka diperkenalkan cara menggunakan alsintan yang lebih efektif dan efisien, petani di Desa Tanah Harapan banyak yang tertarik mengaplikasikannya. Sehingga, ketika saat olah tanah, tanam hingga panen sudah banyak yang menggunakan alsintan.

“Di sini sudah ada irigasi dan petani bisa tanam padi tiga kali setahun. Karena ada dukungan irigasi, hampir setiap hari ada permintaan sewa alsintan yang datang dari anggota UPJA maupun petani dari desa lain. Karena jumlah alsintannya terbatas, kami saat ini mulai kewalahan menerima permintaan sewa alsintan dari petani,” papar Yosua Rante, di Jakarta, pekan lalu.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan sewa alsintan, manajemen UPJA Rina Karya pada tahun 2019 akan membeli combine harvester satu unit lagi. Pembelian combine harvester ini juga dimaksudkan untuk ekspansi usaha UPJA pada tahun depan. Mengingat, permintaan sewa alsintan, khususnya combine harvester pada tahun depan diperkirakan meningkat.

Pengguna alsintan tak hanya petani di Kecamatan Palolo, tapi juga banyak permintaan dari Kecamatan Noki Lalaki. Luas lahan pertanian di dua kecamatan tersebut sekitar 4.000 ha. “Jadi, kami tahun depan akan fokus mengembangkan alsintan di dua kecamatan tersebut,” papar Yosua Rante.

Ia juga mengatakan, apabila manajemen UPJA tak ada uang cash untuk membeli combine harvester, kemungkinan alsintan tersebut akan dibeli dengan cara kredit. “Kami juga sudah konsultasi dengan dinas terkait, katanya kalau kredit pun tak masalah. Apabila dibeli secara cash, manajemen harus menyiapkan uang untuk membeli combine harvester yang harganya sebesar Rp 400 juta-Rp 500 juta/unit,” jelas Yosua.

Seperti UPJA lainnya, UPJA Rina Karya juga mendapat bantuan alsintan dari pemerintah. Pada tahun 2017, manajemen UPJA Rina Karya mendapat bantuan dari pemerintah berupa combine harvester 2 unit, hand traktor 2 unit, pompa air 4 unit, rice translpanter 2 unit, dan traktor roda 4 satu unit. Diterimanya Alsintan bantuan Kementan tersebut langsung disosialisasikan ke petani.

“Petani pun sangat antusias menyambut mekanisasi pertanian tersebut. Kami juga tak kesulitan dalam mengaplikasi alsintan tersebut ke petani. Sebab, sejak tahun 2010 kami sudah punya bengkel yang mengembangkan mesin perontok padi (power thresher) ke sejumlah petani di Kecamatan Palolo,” kata Yosua.

Yosua mengakui, peralihan penggunan power thresher ke combine harvester di tingkat petani tidak menimbulkan masalah. “Petani di sini malah senang menggunakan combine harvester untuk panen padi. Sebab, combine harvester lebih efektif dan efisien. Artinya, untuk panen padi tak perlu waktu lama, kehilangan hasilnya juga sangat kecil,” jelas Yosua.

Dari sejumlah alsintan yang dimiliki UPJA Rina Karya, combine harvester paling dominan diminati petani. Karena itu, hampir 70 persen pendapatan UPJA diperoleh dari sewa combine harvester.

“Sebelum ada combine harvester, alsintan yang banyak diminati petani adalah power thresher. Nah, saat ini memang era combine harvester. Karena itu kami antusias untuk menambah satu lagi combine harvester untuk ekspansi tahun depan,” papar Yosua. Selain combine harvester, menurut Yosua, petani di Kecamatan Palolo juga banyak yang menyewa traktor roda dua dan empat untuk olah tanah. Namun, untuk sewa pompa air kurang diminati petani, karena sudah ada irigasi. “ Karena itu kalau ada yang sewa pompa air kami hanya mengenakan ongkos ganti minyak (bensin) sebanyak lima liter/unit,” ujarnya.

Reporter : idt
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018