
Sawah becek dan berlumpur bukan lagi masalah! Combine Harvester MUD MAX siap menembus medan berat, bikin panen cepat, gesit, dan hemat tenaga. Petani bisa senyum lebar!
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Sawah becek dan berlumpur bukan lagi masalah! Combine Harvester MUD MAX siap menembus medan berat, bikin panen cepat, gesit, dan hemat tenaga. Petani bisa senyum lebar!
Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) baru-baru ini memperkenalkan MUD MAX, combine harvester generasi baru yang tangguh menembus sawah berlumpur dan efisien saat panen.
Mesin ini lahir dari kebutuhan nyata petani, terutama saat musim hujan di mana panen sering tersendat karena sawah becek.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, hadir langsung untuk menyaksikan uji coba MUD MAX. Ia tampak puas ketika mesin itu melaju mulus di lahan berlumpur, tanpa kendala berarti.
Menurut Mentan Amran, transformasi pertanian dari cara tradisional menuju sistem modern bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.
Pemanfaatan teknologi seperti drone, precision agriculture, dan smart farming diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas.
Kehadiran combine harvester seperti MUD MAX menjadi simbol bahwa Indonesia kini bukan hanya pengguna, tapi juga pengembang teknologi pertanian.
Plt. Kepala BRMP Mektan, Agung Prabowo, menjelaskan bahwa MUD MAX lahir dari suara petani yang disampaikan melalui penyuluh.
Tim BRMP Mektan merancang mesin dengan konsep lincah di lumpur, mudah dirawat, dan hemat bahan bakar.
“Kami ingin mesin ini bukan hanya unggul di atas kertas, tapi benar-benar bekerja di kondisi sawah Indonesia yang beragam,” ujarnya.
MUD MAX dibekali daya 100 HP dengan bobot sekitar 2,9 ton, tapi tekanan tanahnya rendah sehingga tidak mudah tenggelam di lahan basah.
Tingginya jarak mesin dari tanah memastikan operasional tetap aman meski lumpur tebal.
Hasil uji coba awal menunjukkan MUD MAX mampu memanen satu hektare sawah dalam 4–5 jam dengan tingkat kebersihan gabah tinggi, menurunkan biaya panen dan mengurangi kehilangan hasil karena terlambat panen.
Pemerintah juga mendorong agar teknologi pertanian semakin terjangkau. Harga combine harvester turun drastis dari Rp600 juta menjadi sekitar Rp300 juta per unit.
Skema pembelian, kemitraan, dan sewa melalui Unit Pelayanan Jasa Alsintan membuka akses petani terhadap alat modern.
Agung menekankan bahwa MUD MAX bukan hanya soal kecepatan, tapi menjaga hasil panen. Penundaan akibat cuaca kerap membuat gabah rontok dan kualitas menurun.
Kini petani bisa memanen tepat waktu, keuntungan lebih terjaga, dan penyuluh punya bukti nyata untuk meyakinkan petani bahwa pertanian modern memberi manfaat langsung.
Lebih dari itu, MUD MAX menjadi kebanggaan karya anak bangsa. Banyak combine impor kurang cocok untuk sawah Indonesia yang berlumpur dan tidak rata.
MUD MAX lahir dari “DNA sawah Nusantara,” dirancang sesuai kondisi lokal dan mudah dioperasikan serta diperbaiki di bengkel desa.
BRMP Mektan tak berhenti di sini, mereka tengah mengembangkan Mini Transplanter 4 Row untuk kebutuhan petani kecil hingga menengah, serta tahap berikutnya combine berbasis tenaga listrik dan sistem semi-robotik.
Tujuannya, menanamkan visi pertanian modern sebagai sektor masa depan yang menarik bagi generasi muda.
Dengan MUD MAX dan alat tanam efisien, indeks pertanaman bisa meningkat, waktu tanam dan panen dipangkas, serta frekuensi tanam per tahun bertambah.
Petani pun berpeluang meraih pendapatan lebih tinggi, sementara penyuluh menjadi jembatan penting agar teknologi ini diterima luas di lapangan.