Senin, 18 Februari 2019


Optimalkan Peran P3A: Bukan Sekedar Pembagi Air, Tapi sebagai Unit Usaha

11 Peb 2019, 11:48 WIBEditor : Yul

P3A Triguna Tirta

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA - Dalam pengelolaan air, kiprah Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sangat diharapkan kehadirannya. Namun tak hanya perkumpulan partisipatif, P3A juga bisa menjadi unit usaha sosial bagi anggota kelompok tani.

Direktur Irigasi Pertanian, Rahmanto menuturkan, upaya pembinaan P3A tidak hanya diarahkan pada penyediaan atau pembagian air secara merata kepada anggotanya. Tetapi juga, mengelola atau memelihara jaringan irigasi tersier hingga mencari solusi secara lebih mandiri terhadap persoalan-persoalan menyangkut air irigasi yang muncul di tingkat usaha tani.

Di lapangan menunjukkan kehadiran P3A mampu menjadi pengelolaan air dalam suatu sistem irigasi yang lebih luas. Sebagai contoh, pemeliharaan saluran irigasi di tingkat sekunder dan primer ataupun daerah irigasi secara utuh yang pembinaan dan pemberdayaan kelembagaannya sudah mencapai pada tingkat mandiri.

“Partisipasi P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi meliputi partisipasi pada operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi serta partisipasi pada rehabilitasi jaringan irigasi. Ditambah, partisipasi pada pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi,” katanya.

Unit Usaha

Sedangkan peran serta masyarakat petani dapat pula dalam hal pembiayaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi primer dan sekunder. Namun Rahmanto mengakui, P3A/GP3A seringkali menemui hambatan pada kemauan petani untuk membayar iuran irigasi rendah.

“Kita sudah berlakukan Iuran Pengelolaan Air (IPAIR) yang dikelola sepenuhnya oleh P3A. Memang, kalau hanya mengandalkan uang iuran dari petani sulit sekali. Hal ini merupakan tantangan dan peluang bagi P3A dalam memperluas kegiatan usaha ekonominya yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para anggotanya,” tuturnya.

Rahmanto menegaskan bukan berarti P3A “menjual” air irigasi pada pihak yang membayarnya. Karena, pemilikan atas hak guna air dan jaringan irigasi oleh para petani anggota P3A bersifat kolektif.

Dalam perkumpulan P3A menurutnya, sebaiknya tidak hanya pengelolaan air sebagai unit usaha, perlu adanya unit usaha sampingan seperti pengadaan saprodi, simpan pinjam, jasa alsintan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, mampu melayani berbagai kebutuhan anggotanya, namun basis unit kegiatan tetap pada pengelolaan air irigasi.

Pengembangan unit baru ini diharapkan mampu menghidupkan aktivitas perekonomian wilayah setempat serta mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan anggota. Unit usaha tersebut sebaiknya dilakukan mulai pada level organisasi P3A Gabungan mengingat pada tingkat ini jumlah anggotanya sudah relatif banyak (setara dengan satu kecamatan).

Selain mampu memenuhi kebutuhan petani dengan harga yang lebih murah, nantinya sebagian keuntungan dari unit usaha baru ini bisa dialokasikan untuk pembiayaan OP (saluran air menjadi bagus/ketersediaan air lebih terjamin). “Ini tentunya sangat berdampak pada tingkat produksi mendatang,” ujar Rahmanto.

Dalam perjalanannya, lanjutnya, kemungkinan kontribusi terbesar dalam pendanaan biaya OP bukan lagi berasal dari iuran irigasi, tetapi dari sumbangan unit usaha lainnya. Misalnya, pada P3A “Tani Subur” di Cibadak Sukabumi-Jawa Barat, ternyata dari unit usaha warung saprodi telah berkontribusi besar dalam pembiayaan OP.

Hal ini sekaligus menjadi salah satu fakta yang menunjukkan bahwa P3A pun mempunyai peluang dan mampu membangun. Jadi, selain unit usaha irigasi juga membangun beberapa unit usaha lainnya seperti saprodi, jasa alsintan, simpan pinjam, dan lain sebagainya dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada.

Kunci kekuatan P3A untuk mandiri dalam melakukan kegiatan dan mengatasi persoalan yang dihadapinya adalah kepercayaan yang cukup tinggi dari anggota terhadap pengurus P3A,” tutur Rahmanto.

Tumbuhnya kepercayaan anggota tersebut lahir dari pendekatan yang dilakukan P3A yang mampu merespon dan mengakomodasi kepentingan anggota. Dari sisi peran pengurus yang mampu mengorganisir dan memobilisasi sumberdaya tanpa mengesampingkan kepentingan anggota menjadi bagian yang sangat penting dalam meningkatkan partisipasi anggota terhadap kegiatan yang dilakukan oleh P3A.

Kepentingan anggota yang mampu diakomodasi P3A terlihat sangat jelas dari upaya pemenuhan kebutuhan petani terhadap input produksi seperti pupuk, dan obat-obatan melalui pengembangan unit usaha lain,” katanya.

Namun, Rahmanto menegaskan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 50 Tahun 2001 tentang pedoman pemberdayaan P3A di daerah mengamanatkan bahwa P3A dapat membentuk suatu usaha ekonomi atau agribisnis, dengan tetap melestarikan pengelolaan irigasi.

Namun demikian Rahmanto mengingatkan, asalkan, unit usaha atau koperasi tersebut berbeda secara struktural organisasi dengan kelembagaan P3A. Misalnya, anggota P3A tidak diharuskan menjadi anggota unit usaha/koperasi, Ketua P3A tidak boleh merangkap menjadi pengurus unit usaha/koperasi. Paling terpenting adalah dana dari iuran pengelolaan irigasi P3A tidak boleh dipakai untuk kegiatan unit usaha/koperasi,” tegasnya.

Reporter : Gsh
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018