Minggu, 18 Agustus 2019


Menghidupkan Lahan Tadan Hujan, Belajar dari Kegigihan Petani Sikka

18 Peb 2019, 13:57 WIBEditor : Yul

Petani memanfaatkan pompa air.

TABLOIDSINARTANI.COM, SIKKA, NTT -- Modernisasi pertanian yang pemerintah gaungkan bukan hanya untuk pertanian di lahan sawah, tapi juga untuk petani di lahan marginal, seperti lahan rawa lebak dan kering. Namun mengenalkan mekanisasi pertanian ke petani yang berada di lahan marginal tidaklah semudah “membalikkan sebuah telapak tangan”.

Keuletan dan ketekunan menjadi kunci UPJA Tani Mandiri. Di bawah komando Abidin sebagai Ketua UPJA, petani yang berada di daerah tadah hujan di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, akhirnya bisa tanam padi. “Ada sekitar 15-20 ha yang sudah olah lahan dengan bantuan traktor roda empat (TR 4). Ada juga petani di Kabupaten Sikka ada yang sudah mulai tanam padi,” kata Abidin.

Lantaran hujan yang terjadi di Kabupaten Sikka pada awal tahun 2019 belum sederas wilayah di Jawa, namun kata Abidin, petani tetap bersemangat menanam padi. Agar tanaman bisa tumbuh dengan baik, mereka memanfaatkan pompa air yang dimiliki UPJA Tani Mandiri.

“Ada juga yang saat ini baru menyemai benih. Kami perkirakan, petani yang menyemai benih ini akan mulai tanam pada Februari. Untuk menyemai benih padi, petani memanfaatkan pompa air,” papar Abidin.

Abidin memperkirakan pada awal Februari di Kabupaten Sikka baru turun hujan secara merata. Saat itulah semua petani baru bisa tanam padi. “Karena banyak yang tanam padi, sewa alsintan seperti mesin traktor dan rice transplanter akan berjalan terus,” ujarnya.

Tak hanya bisa menanam padi, petani di Kabupaten Sikka yang kebanyakan lahannya berupa lahan tadah hujan tersebut juga kini membudidayakan jagung. Umumnya petani yang ada di lereng pegunungan dan bukit menanam palawija, seperi jagung. Petani sudah memanfaatkan mesin penanam jagung, sehingga petani tak perlu waktu lama untuk menanam jagung di hamparan yang bisa dibilang cukup luas,” ujarnya.

Menurut Abidin, petani yang menyewa pompa air hanya dikenakan biaya Rp 500 ribu - 1 juta/musim (3 bulan). Manajemen UPJA Tani Mandiri sudah menyiapkan pompa untuk petani yang memerlukan. Sedangkan pemakai (petani) wajib membeli bahan bakar untuk operasional. “Karena itu, sewa pompa air yang diberlakukan ke petani dipatok dengan harga cukup terjangkau,” ujarnya.

Reporter : Idt
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018