
Panen raya padi
TABLOIDSINARTANI.COM, BLORA -- Petani di Wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah bagian selatan seperti Kecamatan Kedungtuban, Cepu, Kradenan dan sebagian Kecamatan Randublatung saat ini sudah mulai panen padi. Tanaman padi yang dipanen pada Januari 2019 lalu sebagian besar adalah tanaman padi yang ditanam pada Oktober 2018.
Hal itu dibenarkan beberapa petani Desa Ketuwan dan Jimbung Kecamatan Kedungtuban. Salah satunya, Asnawi (68 tahun) petani dari Desa Ketuwan. Ketika ditemui Sinar Tani, ia mengatakan tanaman padi yang dipanen pada Januari 2019 ini adalah tanaman padi yang ditanam pada Oktober 2018. “Kami berharap awal Maret 2019 mendatang sudah bisa tanam padi lagi untuk musim tanam yang kedua (MT II),” ujarnya.
Menurut Asnawi, rata-rata hasil panen padi pada Januari tahun ini kualitas maupun produksinya cukup baik. Sebab, organisme pengganggu tanaman seperti wereng, penggerek batang maupun penyakit yang lain intensitas serangannya rendah.
“Hama penggerek batang atau sundep sempat muncul pada awal tanam. Karena kami selalu melakukan pengamatan dini, begitu ada gejala serangan, dengan cepat dapat diketahui dan sesegera mungkin untuk dilakukan tindakan pengendalian,” kata Asnawi.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Ir. Reni Miharti saat panen padi bersama Komandan Distrik Militer (Kodim) 0721 Blora, Letkol Inf. Imam Mahmudi, SE di Desa Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban mengatakan, sasaran tanaman padi untuk Kabupaten Blora pada Oktober 2018 sampai nanti Maret 2019 seluas 110.693 ha. Sedang luas panen yang dijadwalkan pada Januari-Desember 2019 seluas 104.299 ha.
Data Dinas Pertanian juga menyebutkan, capaian luas tanam sampai minggu I Januari 2019 baru seluas 58.950 ha. Adapun luas panennya sampai Minggu I Januari ini seluas 412 ha. Panenan padi seluas itu ada di Kecamatan Kedungtuban.
“Mudah-mudahan target sasaran luas tanam padi untuk Kabupaten Blora nantinya bisa tercapai,” kata Reni. Apalagi lanjutnya, menurut ramalan cuaca dari BMKG curah hujan pada Februari dan Maret 2019 untuk Blora di bawah normal, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu pertanaman.
“Saya mengharap kepada kelompok-kelompok tani maupun para petani untuk memanfaatkan air sebaik mungkin untuk budidaya tanaman padi, sehingga sasaran luas tanaman padi untuk Kabupaten Blora bisa tercapai syukur nanti bisa lebih,” harap Reni.
Harga Gabah Panen
Terkait dengan harga jual hasil panen padi berupa gabah kering panen, Kepala Desa Ketuwan, Moktar mengatakan, harga jual gabah kering panen saat ini antara Rp 4.200-Rp 4.600/kg tergantung kualitasnya gabah. “Kalau dijual secara tebasan atau borong ada yang mencapai Rp 50 juta/ha,” katanya.
Harga tersebut cukup tinggi dibandingkan Inpres No. 5 Tahun 2015 dengan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 3.700/kg di petani dan Rp 3.750/kg di penggilingan. Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) Rp 4.600/kg di penggilingan dan Rp 4.650/kg di gudang Bulog, serta harga beras di gudang Bulog Rp 7.300.
Sementara itu Komandan Distrik Militer (Dandim) 0721 Blora Letkol Inf. Imam Mahmudi, SE, ketika melaksanakan panen padi di Desa Ketuwan merasa senang karena di wilayah lain ada yang belum bisa tanam padi, tetapi di Desa Ketuwan dan Kecamatan Kedungtuban pada umumnya sudah bisa tanam padi, bahkan sudah ada yang panen.
Menurutnya, hal ini berkat adanya sumur-sumur bor (pantek) yang dibuat masyarakat sendiri secara swadaya dan memakai tenaga listrik. “Maka layak jika Kecamatan Kedungtuban merupakan lumbung pangan Kabupaten Blora dan sebagai penyangga pangan Jawa Tengah,” ujar Imam Mahmudi.
Selesai panen, Dandim 0721 Blora, Letkol Inf. Imam Mahmudi, SE, bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Ir. Reni Miharti, M.Agr.Bus melaksanakan penanaman pohon kelapa, jambu kristal dan manggis di lapangan desa setempat, kemudian dilanjutkan bakti sosial berupa donor darah.