Kamis, 23 Mei 2019


Petani : Alsintan Jadi Solusi Mahalnya Ongkos Buruh Tani

08 Apr 2019, 09:43 WIBEditor : Gesha

Petani merasakan langsung manfaat dari alsintan yang diberikan langsung kepada mereka, salah satunya mengatasi mahalnya ongkos buruh tani | Sumber Foto:INDARTO

Setelah menggunakan alsintan kurun 2-3 tahun terakhir, usaha taninya lebih bagus.

 

 

TABlOIDSINARTANI.COM, Cirebon-- Petani Desa Mundu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar) sudah memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) kurun 2-3 tahun terakhir. Petani pun merasakan manfaat langsung dari aneka alsintan, salah satunya menjadi solusi mahalnya ongkos buruh tani di Kecamatan Mundu, Cirebon.

"Penggunaan alsintan sangat membantu petani mulai olah tanah hingga panen. Kami bisa olah tanah, tanam dan panen lebih cepat sehingga lebih efektif dan efisien," papar Ketua Kelompok Tani  Cikendal Makmur Desa Mundu, Kec.Mundu ,Cirebon,  Maman Suherman, di Cirebon.

Menurut Maman, petani di Desa Mundu sangat terbantu dengan tersedianya alsintan dari UPJA. "Sebab untuk mendapatkan buruh tani di sini sangat sulit dan ongkosnya mahal.  Nah, dengan adanya alsintan justru memudahkan petani olah tanah, tanam maupun panen. Sewa alsintannya juga sangat terjangkau," papar Maman.

Bapak empat anak ini juga mengakui, setelah menggunakan alsintan kurun 2-3 tahun terakhir, usaha taninya lebih bagus.

Misalnya saja, produktivitas padi yang ditanam sebanyak 5-6 ton/ha gabah kering panen (GKP). Sedangkan harganya Rp 3.700-Rp 3.800/kg.

"Kalau gabah kering giling (GKG) Rp 4.500/kg. Semua gabah dari petani di sini umumnya dijual melalui koperasi, " ujarnya.

Menurut Maman, petani Mundu bisa tanam padi 2 kali/tahun, yakni pada  Januari-Maret. "Memang sawahnya sebagian besar sudah irigasi. Namun di musim kemarau (April-Juli) petani di sini lebih suka tanam palawija seperti jagung. Setelah musim penghujan petani tanam padi lagi," kata Maman.

Tak hanya padi, tanaman lainnya seperti jagung juga memiliki produktivitas jagung rata-rata 8 ton/ha dengan  harganya Rp 2.000/kg (plus tongkolnya). "Petani jualnya langsung ke pedagang," ujarnya.

Menurut Maman, di Desa Mundu masih banyak tengkulak yang membeli padi atau jagung dengan cara ijon. Sehingga, padi atau jagung dijual petani dengan harga murah." Karena itu kami minta pemerintah atau Bulog turun tangan mengatasi masalah ini, " ujar Maman.

Maman juga berharap pemerintah bisa memberi solusi terhadap tingginya serangan OPT di sini , seperti hama wereng dan sundep. "Sebab kalau OPT ini tak bisa dikendalikan kami kawatir bisa gagal panen," kata Maman. 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018