Senin, 19 Agustus 2019


Petani : Alsintan Jadi Solusi Mahalnya Ongkos Buruh Tani

08 Apr 2019, 09:43 WIBEditor : Gesha

Petani merasakan langsung manfaat dari alsintan yang diberikan langsung kepada mereka, salah satunya mengatasi mahalnya ongkos buruh tani | Sumber Foto:INDARTO

Setelah menggunakan alsintan kurun 2-3 tahun terakhir, usaha taninya lebih bagus.

 

 

TABlOIDSINARTANI.COM, Cirebon-- Petani Desa Mundu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar) sudah memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) kurun 2-3 tahun terakhir. Petani pun merasakan manfaat langsung dari aneka alsintan, salah satunya menjadi solusi mahalnya ongkos buruh tani di Kecamatan Mundu, Cirebon.

"Penggunaan alsintan sangat membantu petani mulai olah tanah hingga panen. Kami bisa olah tanah, tanam dan panen lebih cepat sehingga lebih efektif dan efisien," papar Ketua Kelompok Tani  Cikendal Makmur Desa Mundu, Kec.Mundu ,Cirebon,  Maman Suherman, di Cirebon.

Menurut Maman, petani di Desa Mundu sangat terbantu dengan tersedianya alsintan dari UPJA. "Sebab untuk mendapatkan buruh tani di sini sangat sulit dan ongkosnya mahal.  Nah, dengan adanya alsintan justru memudahkan petani olah tanah, tanam maupun panen. Sewa alsintannya juga sangat terjangkau," papar Maman.

Bapak empat anak ini juga mengakui, setelah menggunakan alsintan kurun 2-3 tahun terakhir, usaha taninya lebih bagus.

Misalnya saja, produktivitas padi yang ditanam sebanyak 5-6 ton/ha gabah kering panen (GKP). Sedangkan harganya Rp 3.700-Rp 3.800/kg.

"Kalau gabah kering giling (GKG) Rp 4.500/kg. Semua gabah dari petani di sini umumnya dijual melalui koperasi, " ujarnya.

Menurut Maman, petani Mundu bisa tanam padi 2 kali/tahun, yakni pada  Januari-Maret. "Memang sawahnya sebagian besar sudah irigasi. Namun di musim kemarau (April-Juli) petani di sini lebih suka tanam palawija seperti jagung. Setelah musim penghujan petani tanam padi lagi," kata Maman.

Tak hanya padi, tanaman lainnya seperti jagung juga memiliki produktivitas jagung rata-rata 8 ton/ha dengan  harganya Rp 2.000/kg (plus tongkolnya). "Petani jualnya langsung ke pedagang," ujarnya.

Menurut Maman, di Desa Mundu masih banyak tengkulak yang membeli padi atau jagung dengan cara ijon. Sehingga, padi atau jagung dijual petani dengan harga murah." Karena itu kami minta pemerintah atau Bulog turun tangan mengatasi masalah ini, " ujar Maman.

Maman juga berharap pemerintah bisa memberi solusi terhadap tingginya serangan OPT di sini , seperti hama wereng dan sundep. "Sebab kalau OPT ini tak bisa dikendalikan kami kawatir bisa gagal panen," kata Maman. 

Peran Swasta

Modernisasi pertanian dengan penggunaan alsintan memang tidak lepas dari peran swasta. Bahkan Sekretaris Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani), Abdul Karim  mengakui, penggunaan alsintan telah banyak membantu petani.

Beralihnya petani ke mekanisasi menurut Karim berpengaruh ke segala hal. Selain lebih efisien dari segi biaya, tenaga kerja, hingga waktu, penggunaan alsintan juga bisa meningkatkan produksi tanaman. “Petani sekarang kalau dibilang lebih senang mekanisasi karena jelas lebih menghemat waktu, tenaga dan biaya,” ujarnya.

Bahkan Karim pun mengakui, kini hampir seluruh petani di Indonesia melakukan usaha tani menggunakan alsintan. “Kalau kita lihat di sepanjang Jawa Barat hingga Jawa Timur, bahkan di luar Pulau Jawa, pasti mudah dijumpai petani yang sedang memakai handtraktor. Itu tandanya petani di Indonesia sudah mulai beralih, dari manual ke modern (mekanisasi),” tuturnya.

Alsintan yang sering dijumpai di petani adalah traktor (roda 2 dan roda 4), transplanter (alat tanam), pompa air, power trasher, dan combine harvester. Bahkan di setiap kabupaten kini ada combine harvester.  Petani pun mengakui penggunaan combine harvester lebih praktis dibandingkan power trasher.
“Tetapi power trasher tetap digunakan di wilayah yang areal persawahannya bukan hamparan. Misalnya seperti Tasikmalaya atau Garut, itu masih menggunakan power trasher,” ujarnya.

Data Ditjen PSP, sejak tahun 2015, pemerintah memberikan bantuan alsintan sebanyak 54.083 unit, tahun 2016 sebanyak 148.832 unit, pada tahun 2017 sebanyak 82.560 unit, dan pada tahun 2018 sebanyak 112.525 unit. Alsintan tersebut telah diberikan kepada kelompok tani/gabungan kelompok tani, UPJA dan brigade alsintan.

Sedangkan tahun 2019, Kementan akan mengalokasikan alsintan sebanyak 50 ribu unit. Alsintan tersebut berupa Traktor Roda dua (20 ribu unit), Traktor Roda empat (3 ribu unit), Pompa Air (20 ribu unit), Rice Transplanter (2 ribu unit), Cultivator (4.970 unit) dan Excavator (30 unit).

Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian, Sarwo Edhy berharap, semua bantuan alsintan yang dikelola UPJA ataupun KUB bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.  Mengingat, petani yang menggunakan alsintan usaha taninya lebih efektif dan efisien.
"Kalau dulu petani membajak sawah dengan alat tradisional butuh waktu 5-6 hari/hektar. Dengan memanfaatkan traktor, petani hanya butuh waktu 3 jam/ha. Sehingga, penggunaan alsintan 40% lebih efisien," kata Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, poktan atau gapoktan bisa membentuk UPJA, koperasi dan KUB untuk mengembangkan alsintan bantuan pemerintah. Alsintan bantuan pemerintah apabila dikelola dengan baik akan memberi keuntungan bagi pengelola UPJA atau KUB.

Bahkan,  penggunaan alsintan akan mampu mendorong indeks pertanaman (IP) petani dari yang semula 2 kali menjadi 3 kali/tahun. Petani yang menggunakan alsintan hampir bisa dipastikan produktivitas tanamannya meningkat.

“Pastinya, apabila alsintan bisa dikelola dengan baik akan memberi penghasilan tambahan bagi poktan atau gapoktan. Sebagai contoh, kelompok mahasiswa di Sumatera yang mengelola alsintan dengan mendirikan KUB selama tiga bulan sudah mampu meraup untung Rp 170 juta," pungkas Sarwo Edhy.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018