Senin, 26 Agustus 2019


Dongkrak Skill, Penyuluh di Aceh Berlatih Manajerial Alsintan

10 Apr 2019, 10:50 WIBEditor : Yulianto

Peserta pelatihan manajerial alsintan | Sumber Foto:Fathan

Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, penyuluh dituntut menguasai pengetahuan dan skill yang memadai dibidang manajemen pengelolaan alsintan

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh-- Program mekanisasi pertanian yang dilakukan besar-besaran oleh Kementerian Pertaian, menuntut kesiapan penyuluh pertanian untuk mampu membina petani dalam mengelola alsintan bantuan pemerintah tersebut. Tanpa pengelolaan yang baik, alat mesin pertanian tersebut tidak akan bertahan lama dan pada akhirnya hanya akan menjadi onggokan besi tua.

Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, penyuluh dituntut menguasai pengetahuan dan skill yang memadai dibidang manajemen pengelolaan alsintan. Mustahil penyuluh akan mampu membina kelompok-kelompok UPJA jika tidak memiliki kemampuan teknis dan manajerial pengelolaan alsintan yang kini telah menyebar sampai ke pelosok desa yang notabene merupakan wilayah keja dan binaan penyuluh pertanian.

Namun ironisnya, masih banyak penyuluh pertanian yang belum memiliki keterampilan memadai di bidang teknis maupun manajemen pengelolaan alsintan ini, termasuk penyuluh yang bertugas di Aceh. Menyuikapi haa tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Aceh bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, saat ini tengah menggelar Diklat ‘Manajemen Pengelolaan Alsintan’ bagi penyuluh dan petugas mekanisasi pertanian dari seluruh wilayah provinsi Aceh.

Diklat ini bertujuan untuk membekali para penyuluh dengan pengetahuan manajemen pengelolaan alsintan. Dengan demikian, penyuluh mampu menjalankan fungsinya sebagai pembina yang baik bagi kelompok-kelompok UPJA.

Diklat yang akan berlangsung selama 5 hari dari 25-29 Maret 2019 diikuti 30 peserta dari kabupaten/kota se provinsi Aceh ini, Senin (25/3). Kegiatan itu dibuka Kepala BPSDM Aceh, Dr. Mahyuzar, M Si didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan, SP, MM dan Kepala UPTD MEkanisasi Pertanian, drh. Ahdar, MP, bertempat di aula BPSDM Banda Aceh.

Mahyuzar mengungkapkan, diklat ini merupakan perdana yang dilaksanakan BPSDM Aceh untuk tahun 2019. Dipilihnya diklat manajemen pengelolaan alsintan ini, merupakan bentuk apresiasi dan kepedulaian BPSDM Aceh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian.

Lebih lanjut Mahyuzar menyampaikan, bahwa pelayanan alsintan saat ini sudah merupakan bagian penting dari pelayanan publik. Karenanya penyuluh harus mampu di dikelola dengan baik, sehingga masyarakat terlayani dengan baik.

Untuk itu ia berharap agar penyuluh yang merupakan bagian utama dari pelayanan ini, terus mengasah kemampuan dibidang manajerial pengelolaan alsintan. Dengan demikian, semua bantuan alsintan dari pemerintah dapat dikelola dengan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat tani.

“Saya berharap penyuluh milleial yang bertugas di Provinsi Aceh memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai di bidang manajemen pengelolan alsintan. Ibarat perusahaan, manajemen adalah nyawanya, tanpa pengelolaan manajemen yang baik, sebanyak apapun bantuan alsintan dari pemerintah tidak akan memberikan manfaat optimal,papar Mahyuzar.

Sementara itu Kadistanbun Aceh, Hanan mengungkapkan, sebenarnya pengelolaan alsintan bantuan pemerintah ini sudah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) sendiri. Namun masih banyak penyuluh dan petugas yang belum memahami sepenuhnya SOP tersebut. Untuk itu pihaknya menyambut baik upaya BPSDM Aceh untuk meningkatkan kemampuan manajerial penyuluh pertanian dalam pengelolaan alsintan melalui diklat ini.

“Kamu terus berupaya untuk mempercepat proses alih teknologi pertanian ini, dukungan berbagai pihak dalam pengadaan sarana prasarana, serta dukungan administratif dan amanjerial melalaui diklat seperti ini, sangat membantu kami untuk dapat mengelola alsintan sesuai SOP yang ada,papar Hanan.

Kepala UPTD Mektan Distanbun Aceh, Ahdar yang selama ini menjadi penaggung jawab pengelolaan teknis alsintan di Provinsi Aceh mengungkapkan, pihaknya terus berupaya agar pengelola alsintan terus meningkatkan kemandirian. Ia berharap kelompok-kelompok UPJA yang sudah terbentuk, nantinya akan mampu berkembang menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMK) maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMD) Mektan.

Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan pihaknya, Ahdar menilai sudah ada beberapa UPJA yang layak untuk dijadikan BUMD di Aceh. Dengan terbentuknya BUMP atau BUMD Mektan, pengelolaan alsintan akan lebih profesional dan bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.

“Ini merupakan tantangan berat bagi kami, tapi kami punya prinsip untuk merubah tantangan menjadi peluang, dan mudah-mudahan tahun ini pembentukan beberapa BUMD Mektan bisa terealisasi,” pungkasnya.

Reporter : Fathan MT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018