Sabtu, 19 Oktober 2019


Melihat Istri Plt Gubernur Aceh ‘Bermain Lumpur’

15 Mei 2019, 14:22 WIBEditor : Yulianto

Istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati saat mencoba rice transplanter | Sumber Foto:Fathan

Apa yang dilakukan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh itu merupakan bentuk dukungan dalam pengembangan klaster IP 300 di Aceh

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar---Mengenakan baju merah dan topi, Dr. Dyah Erti Idawati, MT langsung terjun ke lumpur. Tanpa mempedulikan pakaian yang kotor penuh lumpur, istri Plt Gubernur Aceh ini nampak  sangat menikmati bermain di tengah sawah sambil menjalankan rice transplanter.

Apa yang dilakukan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh itu merupakan bentuk dukungan dalam pengembangan klaster IP 300 di Aceh. Didampingi Kepala BPTP Aceh, Ir. Massagus Ferizal, M Si dan Sekretaris Distanbun Aceh, Cut Huzaimah, MP serta dibantu operator dari UPT Mekanisasi Pertanian (Mektan), Dyah mencoba sendiri mengoperasikan alat penanam padi otomatis itu.

“Dulu, saya tahunya menanam padi itu hanya bisa dilakukan secara manual, butuh tenaga banyak dan melelahkan, tapi dengan alat ini ternyata menanam padi menjadi mudah dan menyenangkan,” ungkap Dyah.

Meski harus berlumur lumpur di tengah terik matahari, perempuan cantik ini terlihat tetap bersemangat, bahkan wajahnya tetap memancarkan keceriaan. “Hari ini saya mendapatkan pengalaman baru yang sangat menyenangkan, teknologi pertanian membuat bertani menjadi mudah dan menyenangkan, kalau bapak (Plt Gubernur) saja tidak segan turun ke sawah, ibunya pun nggak boleh ketinggalan,” canda Dyah sambil tersenyum.

Menurut Dyah, penggunaan alat mesin tanam akan mempercepat kegiatan usaha tani. Dengan pola konvesional, menananam padi seluas 1 ha perlu waktu beberapa hari dan melibatkan puluhan tenaga kerja. Namun, dengan rice transplanter ini menurutnya, cuma perlu waktu sekitar 4 jam. Ini yang membuat Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ini terkagum-kagum dengan kecanggihan alat ini.

Dyah mengakui, cara mengoperasikan alat ini pun relatif mudah. Cukup meletakkan tray bibit di atas mesin kemudian menjalankannya, bibit padi itupun akan tertanam berbanjar lurus dengan sendirinya.

Kehadiran isteri Plt Guernur Aceh ini bukan semata-mata karena ingn mengetahui bagaimana mengoperasikan alat tanam modern ini, tapi sekaligus memberikan motivasi kepada petani agar lebih bersemangat dalam mensukseskan program IP 300 ini.

Apalagi petani peserta klaster IP 300 ini juga sudah diikut sertakan dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang menjamin petani tidak akan menderita kerugian meskipun hasil panen mereka gagal.Akhirnya saya tahu dengan memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian, ternyata menanam padi menjadi sangat mudah, cepat dan mengasyikkan,” katanya.

Usai mencoba rice transplanter, Dyah juga melakukan penanaman Refugia di pematang sawah di lokasi kluster IP 300. Penenaman berbagai jenis bunga di lokasi persawahan merupakan salah satu cara alami untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman padi.

Refugia diyakini akan membuat beberapa jenis hama dan penyakit tanaman akan ‘menjauh’ dari lahan persawahan. Selain itu, kahadiran refugia akan membuat lahan sawah menjadi indah dan cantik, sehingga menarik untuk dikunjungi.

Klaster IP 300 merupakan salah satu program Pemerintah Aceh untuk meningkatkan produktivitas padi. Indeks pertanaman digenjot dari 1,6 menjadi 3. Dengan program peningkatan IP ini, diharapkan produksi padi di Aceh akan meningkat 2 kali lipat dari sebelumnya.

Begitu juga dengan program intesifikasi pajele diharapkan mampu mendongkrak produktivitas dari rata-rata 6 ton/ha menjadi 9 – 10 ton/ha. Program IP 300 dilaunching 23 April 2019 lalu oleh Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT.

Reporter : Fathan MT
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018