Sabtu, 24 Agustus 2019


Perlukah Daerah Menyediakan Sarana dan Prasarana Klimatologi?

22 Jul 2019, 16:27 WIBEditor : Yulianto

Alat-alat klimatologi | Sumber Foto:Fathan

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh---Perubahan iklim global (global climate change) yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, telah berdampak hampir kepada semua sektor, mulai dari pertanian, perikanan, infrastruktur, perhubungan dantransportasi, sampai berbagai peristiwa bencana seperti banjir bandang dan longsor.

Di sektor pertanian, perubahan iklim global telah berdampak pada penurunan produktivitas berbagai komoditi pertanian, gagal panen (puso), meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman yang bermuara pada kerugian petani. Disektor perikanan juga berdampak pada penurunan hasil tangkapan pada perikanan laut dan kematian masal ikan pada budidaya perikanan darat.

Kondisi tersebut sebenarnya bisa diantisipasi atau setidaknya diminimalisir dampaknya jika informasi cuaca dan iklim tersedia secara lengkap. Selama ini Badan Metorogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyajikan informasi lengkap tentang cuaca dan iklim melalui informasi harian, early warning, informasi bulanan dan prakiraan cuaca dan iklim secara berkala.

Namun karena luasnya cakupan wilayah, serta kondisi wilayah yang sangat beragam dan keterbatasan peralatan klimatologi, belum semua daerah terekam informasi cuacanya secara detil. Ditambah lagi dengan masih banyaknya pihak yang mengabaikan informasi cuaca dan iklim, serta kekengganan sebagian besar masyarakat untuk mengakses informasi tersebut. Kondisi itu menyebabkan berbagai kejadian alam terlambat diantisipasi, sehingga banyak menimbulkan korban baik nyawa maupun harta benda.

Upaya maksimal BMKG dalam menyediakan layanan informasi cuaca dan iklim, tentuk hasilnya tidak akan optimal jika tidak didukung pemerintah daerah. Informasi cuaca dan iklim yang disajikan BMKG berdasarkan wilayah dan dikendalikan Stasiun Klimatologi yang jumlahnya hanya satu atau dua dalam setiap provinsi dengan kondisi peralatan klimatologi yang standar (kalau tidak boleh dibilang minim).

Bisa dimaklumi, karena pengadaan alat-alat klimatologi pada stasiun klimatologi sangat bergantung pada anggaran BMKG yang juga sangat minim. Ada juga stasiun klimatologi di seputaran bandara, namun informasi cuaca yang dihasilkan lebih difokuskan untuk keperluan pengeloalan bandara dan navigasi.

Secara umum, sebenarnya peralatan pemantau cuaca yang dimiliki BMKG  Pusat sudah memadai dukungan teknologi satelit Himwari, sehingga kondisi cuaca secara umum dapat terpantau dan terprediksi secara periodik. Namun tidak demikian dengan stasiun klimatologi yang ada di daerah. Kondisi peralatan klimatologi seperti Campbell Stokes, Penakar Hujan Otomatis, Anemometer, Pengukur Suhu, Evaporator dan peralatan klimatologi lainnya jumlahnya sangat terbatas.

 Sumber informasi cuaca dabn iklim

Selain mengandalkan satelit cuaca, informasi cuaca dan iklim yang kemudian disampaikan BMKG kepada publik, berasal dari hasil pengamatan, pengukuran  dan pencatatan alat klimatologi. Data curah hujan misalnya, berasal dari hasil pengamatan dan pencatatan alat penakar hujan baik yang manual (type OBS), semi maual (type Hellman) maupun otomatis (Automatic Rain Gauge/ARG) yang dilakukan secara terus menerus. Data curah hujan ini kemudian dijadikan BMKG dalam menyusun analisa dan prakiraan hujan di berbagai wilayah serta  menentukan awal musim hujan dan kemarau.

Begitu juga dengan keberadaan alat pengukur arah dan kecepatan angin (Anemometer). Hasil pengukuran dan pencatatan dari alat ini menjadi dasar informasi tentang arah dan kecepatan angin di suatu daerah pada waktu tertentu dan sarana peringatan dini (early warning) kemungkinan terjadinya angin kencang, badai dan ketinggian gelombang

Secara kumulatif, hasil pengamatan, pengukuran dan pencatatan alat-alat klimatologi itulah yang kemudian menjadi acuan dalam menyusun informasi, analisis dan prakiraan cuaca dan iklim. Hasil itu jika diakses publik akan sangat bermanfaat untuk berbagai keperluan baik oleh stake holder terkait, kelompok komunitas maupun perorangan.

Bagi pemerintah, informasi, analisis dan prakiraan cuaca dan iklim bisa dimanfaatkan stakeholder dalam menyusun perencanaan, jadwal pelaksanaan kegiatan dan monitoring serta evaluasi kegiatan, sehingga semua kegiatan bisa tepat waktu dan sasaran. Bagi komunitas seperti kelompok tani, informasi iklim dan cuaca dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam menyusun pola dan jadwal tanam yang dilakukan secara berkelompok. Dengan demikian dapat menekan biaya produksi dan tidak terjadi over produksi di suatu waktu dan kelangkaan produksi di waktu lainnya, sehingga harga produk pertanian terjaga stabilitasnya.

Sementara bagi perorangan, informasi cuaca dan iklim sangat dibutuhkan untuk semua profesi, mulai dari petani, nelayan, pengusaha, peneliti, kontraktor dan bidang jasa lainnya, karena sangat terkait erat dengan skedul aktifitas mereka.

Dengan kemampuan dan kemauan mengakses informasi iklim dan cuaca, petani akan lebih tepat dalam mengatur pola taman maupun jadwal tanam sertamemilih  komoditi tepat yang akan dibudidayakan. Begitu juga dengan nelayan, dengan mengetahui informasi cuca dan iklim, akan dapat menentukan kapan waktu melaut yang tepat. 

Sejauh mana peran pemerintah daerah dalam memfasilitasi sarana dan parasarana klimatologi ini? Baca halaman 2

Reporter : Fathan MT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018