Minggu, 18 Agustus 2019


Antonius Wukak Sogen, Terjun ke Lapangan untuk Melayani Petani

23 Jul 2019, 16:58 WIBEditor : Yulianto

Antonius Wukak Sogen | Sumber Foto:Gsh

Anton mempunyai prinsip bahwa menjadi seorang yang bekerja dinas pertanian bukan hanya duduk-duduk di kantor, melainkan harus mau melayani petani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menjadi seorang kepala dinas, tidak hanya bekerja di dalam kantor, melainkan harus terjun ke lapangan. Seperti yang dilakukan Kepala Dinas Kabupaten Pertanian Flores Timur, Antonius Wukak Sogen atau yang akrab disapa Anton yang terjun langsung ke masyarakat.

Dengan cara itu, Anton bisa mengetahui semua persoalan pertanian di wilayahnya, sehingga bisa memberikan solusi untuk memecahkan masalahnya. Semua itu dlakukan Anton demi kemajuan pertanian di wilayahnya.

“Saya ini sudah cukup lama menjadi kepala dinas. Saya bukan hanya berperan sebagai kepala dinas, melainkan turut menjadi penyuluh pertanian. Makanya saya suka sekali terjun langsung ke lapangan,” ungkapnya saat berkunjung ke Kantor Tabloid Sinar Tani di Jakarta.

Anton mempunyai prinsip bahwa menjadi seorang yang bekerja dinas pertanian bukan hanya duduk-duduk di kantor, melainkan harus mau melayani petani. Misalnya, jika petani membutuhkan bagaimana cara budidaya padi yang baik dan benar, maka harus segera diberi pelatihan dan pendampingan. “Hal ini saya terapkan juga ke penyuluh pertanian. Saya tekankan ke mereka bahwa kita bersemangat dalam melayani para petani,” ungkapnya.

Lahan Kering bukan Masalah

Flores Timur adalah salah satu kabupaten di NTT yang potensi pertaniannya cukup tinggi, meski wilayahnya didominasi tanah kering. Di Flores Timur, hampir semua komoditi pertanian dapat tumbuh dengan subur. “Kami kembangkan hampir semua komoditi pertanian. Tanaman pangan, hortikultura, peternakan hingga perkebunan berkembang di Flores Timur,” kata Anton.

Untuk tanaman pangan yang dikembangkan adalah padi gogo, jagung, ubi kayu, sorgum, dan kacang-kacangan. Memang untuk padi gogo dan jagung, hasilnya tidak sebesar di Pulau Jawa karena masalah pengairan.

“Untuk padi gogo produksinya 2,5-3 ton per hektar, sedangkan jagung 3-4 ton per hektar. Tetapi kita punya target Upaya Khusus (Upsus) untuk padi, yang targetnya 250 hektar dan sekarang sudah tercapai adalah 121 hektar,” papar Anton.

Sedangkan untuk komoditas hortikultura, Dinas Pertanian Flores Timur mengembangkan tanaman sayuran dan buah. Untuk komoditas peternakan, NTT lebih mengutamakan pengembangan peternakan sapi. Anton mengatakan, target Upsus Siwab di Flores Timur tahun ini sebanyak 160 ekor sapi. “Dari bulan Januari-Juli, sudah ada kelahiran sapi sebanyak 85 ekor, katanya.

Sementara komoditas perkebunan yang dikembangkan adalah kelapa, kopi, jambu mete, lada, pala, kakao,  cengkeh, dan vanili. Peternakan didominasi oleh peternakan sapi. “Kalau saat ini memang yang paling berpotensi adalah perkebunan dan peternakan. Untuk perkebunan  yang kita dikembangkan adalah kelapa dan jambu mete,” ungkap Anton.

Kelapa asal Flores Timur memang menjadi andalan. Bahkan Flores Timur menjadi penghasil bibit terbesar di NTT. “Karena kita menjadi penghasil utama bibit kelapa, makanya Flores Timur menjadi suplai utama benih kelapa,” katanya.

Meski kelapa menjadi komoditas utama, pihaknya juga sedang mengembangkan jambu mete. Bahkan di Flores Timur terdapat pohon induk yang cukup bagus dan merupakan penghasil bibit mete terbaik.Untuk pengembangan jambu mete, kita fokus ke kegiatan pemangkasan, penjarangan dan peremajaan, apalagi Juli ini memasuki masa panen,” jelasnya.

Anton mengakui, memang iklim di NTT ini terkenal kering, jadi masalah pengairan yang menjadi kendala. Makanya diperlukan adanya pembuatan sumur bor, sumur dangkal dan tampungan air lainnya. “Masalah air memang menjadi kendala utama di NTT. Jadi harus dibangun sumber serta tampungan air baru,” ungkap Anton.

Tidak hanya itu, masalah lainnya di Flores Timur adalah pengolahan. Selama ini produk hasil pertaniannya hanya sebatas panen, kemudian langsung dikonsumsi tanpa diolah dahulu. “Industri pengolahan komiditi pertanian memang tidak berjalan di kami. Di Flores Timur terdapat satu kawasan jambu mete organik dan perlu pengolahnnya agar kita mendapatkan nilai tambah yang lebih,” harapnya.

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018