Senin, 18 November 2019


Asuransi Pertanian Bentengi Petani Lamongan dari Tengkulak

12 Sep 2019, 13:26 WIBEditor : Ahmad Soim

Bupati Lamongan secara simbolis menyerahkan Klaim gagal panen program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk para petani di Desa Truni. | Sumber Foto:Rinaldi NSA

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Petani padi bisa terhindar kesulitan biaya karena lahannya gagal panen dengan ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Dengan ikut AUTP, petani padi bisa mendapatkan klaim AUTP sebesar Rp 6 juta per musim per ha.

 
Bupati Lamongan hari ini secara simbolis menyerahkan Klaim gagal panen program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk para petani di Desa Truni, Kecamatan Babat, Lamongan (12/9). Untuk musim tanam April September 2019 ini luas lahan pertanian yang diasuransikan melalui program Pengembangan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) mencapai 34 ribu hektare.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Lamongan, Aris Setiadi mengungkapkan, bukti klaim yang dibayarkan di musim tanam itu mencapai Rp.95.000.000. Klaim tersebut dibayarkan setelah melalui survei kerusakan yang dilakukan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) selaku pelaksana program.

Sementara di musim tanam pertama dan kedua tahun 2018 kemarin, lahan pertanian yang diasuransikan seluas 136.103 hektare.

Fadeli, Bupati Kabupaten Lamongan mengatakan, “Biasanya petani hanya pada musim tertentu mengasuransikan lahan pertaniannya. Seperti jika dirasa akan terjadi banjir atau serangan hama, “ ujarnya. Fadeli pun mengatakan, pihaknya menyambut positif dengan semakin banyaknya lahan pertanian di Lamongan yang diasuransikan.

Menurutnya, ini sebagai bagian dari prinsip petani modern, untuk mengantisipasi risiko gagalnya pertanian karena bencana alam atau serangan hama.  “Ini bisa membentengi petani untuk berhutang kepada tengkulak jika mereka mengalami gagal panen,“ katanya.

Sebagai tambahan informasi, lahan pertanian yang dapat diklaimkan harus memiliki kerusakan minimal 75 persen. Kerusakan atau gagal panen tersebut bisa dikarenakan hama, baik itu tikus atau wereng, serta musibah banjir maupun kekeringan.

Petani yang ingin mengasuransikan lahan pertaniannya bisa mendaftar pada Dinas TPHP dengan membayar Rp 36.000 tiap musim tanam. Setelah premi dibayarkan, akan keluar polis yang berlaku selama satu musim tanam, yakni 4-6 bulan.

Premi yang dibayarkan ini menjadi sangat rendah karena mendapat subsidi dari pemerintah dari yang seharusnya Rp 180 ribu per hektare, sebesar 80 persennya ditanggung pemerintah.

Sementara harga pertanggungan yang akan diterima petani jika sawahnya mengalami 100 persen kerusakan adalah sebesar Rp 6 juta per hektar. Jika tidak terjadi kerusakan, maka premi senilai dua pack rokok tersebut hangus.

Dan pada tahun 2019 ini, luas lahan pertanian yang diasuransikan seluas 50.000 hektare

 

Reporter : Rinaldi NSA
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018