Monday, 19 October 2020


Gerakkan Ekonomi Masyarakat, KKP Aplikasi Budidaya Lele Bioflok

09 Oct 2020, 10:51 WIBEditor : Indarto

Budidaya bioflok | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Pada tahun 2020 KKP menggalokasikan 17 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok, khusus untuk provinsi Bali. Dari 17 paket tersebut, 3 paket diantaranya dialokasikan untuk Kabupaten Jembrana.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bali--- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berusaha mendorong kegiatan usaha budidaya secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. Aplikasi praktek budidaya yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan juga dikenalkan ke masyarakat. Salah satunya, berupa budidaya lele sistem bioflok.

 Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, KKP juga terjun langsung ke lapangan untuk memastikan produktifitas pembudidaya terus berjalan. “Kami  juga menggali kendala yang ada di masyarakat untuk dapat dicarikan solusinya,’ ujar Slamet, di Bali, Jumat (9/10).

Slamet mengatakan, pada tahun 2020 KKP menggalokasikan 17 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok,  khusus untuk provinsi Bali. Dari 17 paket tersebut, 3 paket diantaranya dialokasikan untuk Kabupaten Jembrana.

Anggota Komisi IV DPR, I Made Urip yang berkesempatan untuk meninjau sekaligus melakukan panen perdana budidaya ikan lele sistem bioflok bantuan dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) milik Kelompok Mina Kembang di Desa Pendem, Kabupaten Jembrana, Bali. Dalam kesempatan tersebut, I Made Urip mengatakan,  bantuan budidaya ikan sistem bioflok mampu menggerakan potensi ekonomi yang ada di pedesaan dan dapat turut membantu menopang ekonomi Bali yang saat ini sedang terpukul akibat pandemi covid 19.

“Selain membantu di sisi ekonomi, produksi ikan lele yang dihasilkan juga dapat menjaga ketahanan pangan masyarakat, apalagi ikan lele dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi dan pangsa pasar yang luas,” kata Made Urip.

Made Urip juga menyarankan kepada KKP agar dapat membantu mencarikan solusi untuk pemasaran hasil produksi kelompok pembudidaya hingga ke pedesaan. “DPR siap untuk memperjuangkan dari sisi anggaran dan politik untuk pengembangan dan kemajuan usaha-usaha budidaya di masyarakat.” Kata Made Urip.

Sementara itu Sekretaris Kelompok Mina Kembang, Agung Isnawan mengatakan, sangat optimis dengan bantuan yang didapatkan akan berkembang dengan baik. Bahkan, Agung yakin dengan keberhasilan yang didapatkan oleh kelompoknya, akan dapat memotivasi pembudidaya lain dan menjadikan lahan budidaya bioflok miliknya menjadi rujukan untuk dapat dipelajari dan direplikasi di lokasi lain.

“Dengan banyaknya jumlah pekerja yang dirumahkan atau terkena PHK pada masa pandemi ini menjadi sebuah peluang bagi masyarakat untuk dapat belajar menjadi wirausaha,” katanya.

Agung juga mengatakan, ke depan berencana dapat menambah jumlah kolam secara mandiri agar dapat meningkatkan jumlah produksi dan margin keuntungan bagi kelompok. Selain itu, Ia juga memiliki rencana jangka panjang untuk dapat memproduksi benih maupun pakan secara mandiri.

“Guna meningkatkan nilai tambah, kami juga telah menjajaki kemungkinan untuk melibatkan ibu-ibu PKK untuk mengolah hasil produksi agar dapat memperluas pangsa pasar dari produk yang dihasilkan,” katanya.

Bupati Jembrana, I Putu Artha, juga mengucapkan terimakasih untuk dukungan KKP dan Komisi IV DPR RI kepada pelaku usaha budidaya di Jembrana. Menurutnya peluang untuk pengembangan masih terbuka lebar dengan pasar lele yang sebagian besar masih mengandalkan warung pecel lele.

“ Karena itu, kami sangat mendukung niat kelompok agar dapat bekerjasama dengan PKK dan mengembangkan produk lele yang sudah diolah dan tahan lama seperti abon atau dendeng lele,” kata Putu Artha.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018