Thursday, 17 June 2021


Pengalaman Satu Keluarga di Aceh Hidup Cukup dari Udang Vaname dan Bandeng

18 May 2021, 06:39 WIBEditor : Ahmad Soim

Saifullah dan keluarga serta sepeda motornya. | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Dengan pengalaman sejak kecil dan orangtuanya, Security Pertamina EP Rantau di desa Limau Mungkur (perbatasan Aceh - Kabupaten Langkat) ini bisa menambah pendapatan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan memelihara udang Vaname di tambak._

Sejak kecil Saifullah, kelahiran Limau Mungkur, 1 Agustus 1989, sudah tidak asing lagi dengan istilah pertambakan.

Di tambak seluas dua hektar, kata Saiful (panggilan akrabnya), orangtuanya memelihara ikan Bandeng secara tradisional. Yaitu pemberian pakan alami (melalui pemupukan) saja, dan hasilnya kurang maksimal, hanya 500 kg/ha. Hal tersebut dikarenakan lahan tambaknya yang sudah dangkal akibat terjadi sedimentasi. 

Saiful pun cara komoditi lain yang lebih menguntungkan. Ia mengenal udang Vaname dua tahun lalu, melalui Chanel Youtube. Pada masa Covid-19 ini, ia memanfaatkan waktu luang untuk membudidayakan udang Vaname.

Menurutnya, dulu tahun 1980an, orangtuanya juga pernah memelihara udang windu. Namun akibat terkena serangan wabah penyakit Monodon Baculo Virus (MBV) hingga rugi besar, sekarang jadi kapok.

Kini, jiwa dan semangat milenialnya bangkit. Security di salah satu perusahaan migas ini memanfaatkan waktu luangnya memelihara udang Vaname. Tujuannya hanya ingin menambah pendapatan dan mengangkat ekonomi keluarganya. 

Kegiatan budidaya udang Vaname ini kata dia, ditanggung sepenuhnya oleh toke, mulai dari pasokan benur,  pakan hingga Pemasaran hasilnya. "Saya hanya menyediakan lahan tambak dan memberikan pakan saja," katannya. 

Jika jumlah benur melebihi 50 ribu ekor, dirinya terpaksa menyisihkan gaji untuk membayar Down Payment (DP) setengah dari harga benurnya, tapi kalau jumlahnya masih di bawah 50 ribu akan ditanggung semuanya. 

Alhamdulilah dari dua kali memelihara udang Vaname, Saiful sanggup membeli sepeda motor. "Tanpa terasa dengan masa pemeliharaannya hanya 45 hari sudah bisa dipanen," timpalnya. 

Merasa beruntung, sekarang ini ditebar lagi hingga 100 ribu ekor lebih, kini udangnya sudah berumur satu bulan. Rencananya jika hasil panennya nanti meningkat, uangnya digunakan untuk merehab tambak. "Kalau panennya nanti berlimpah, selain untuk merehabilitasi tambak, sisanya akan saya belikan mobil operasional di lapangan," bebernya. 

Harga benur (benih udang) dibelinya Rp 46 per ekor. Sedangkan pupuk yang digunakan hanya Urea 100 kg/ha, TSP 50 kg/ha dan NPK secukupnya. Untuk pakannya diberikan pelet Global sebanyak 200 kg lebih. Jumlah pakan akan semakin meningkat seiring masa pemeliharaan (pertumbuhan dan berat udang). Jika udangnya semakin besar, kebutuhan pakan juga akan meningkat dan bertambah hingga 50 kg per dua harinya. 

Sebelum benur ditebar katanya, air tambak terlebih dahulu dikeringkan hingga macak macak. Selanjutnya untuk mengatasi hama penyakit, ditaburi Saponin sebanyak 50 kg/hektar. 

Keuntungan memelihara udang Vaname terang Saiful, antara lain cepat besar, daya hidup lebih tinggi serta lebih tahan penyakit. "Namun dia berharap agar kegiatan penyuluhan juga dapat memberikan pendampingan," pintanya. 

BACA JUGA:

 

Dalam hal pemasaran kata dia, hasil panen udang Vaname ditampung kembali oleh pemilik modal (toke). Harganya ditampung berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 70.000/kg (berdasarkan size). "Dengan harga tersebut, saya sudah mendapatkan keuntungan yang layak," ujarnya bangga. 

Terkait tenaga kerja dirinya melibatkan lima pekerja, itupun hanya waktu panen saja. Para pekerja dibayar dengan upah sebesar Rp 70.000/orang/setengah hari. "Untuk manajemen pakan, saya berikan sendiri sambil mengisi waktu luang," sambungnya. 

Sementara Mahyidin (71) selaku orangtua Saiful mengatakan, dirinya memelihara ikan Bandeng di tambak lainnya. Di sekitar tempat tinggalnya terhampar tambak seluar 40 hektar yang dikelola 19 anggota kelompok.

Kalau udang Vaname Saiful yang mengelola sendiri. "Saya hanya berperan untuk memberikan motivasi saja, sehingga terjadi proses regenerasi," paparnya. 

Menurutnya, dirinya mulai berusaha di sektor perikanan (tambak) sejak 32 tahun lalu, waktu itu Saiful baru lahir. Namun seiring dengan perkembangannya, Saiful kecil memang suka membantu sehingga dia mengetahui banyak tentang seluk beluk dalam teknologi budidayanya. 

Harga Bandeng saat ini, kata Mahyidin relatif bagus. Setelah panen langsung ada yang tampung dengan harga Rp 15.000/kg. Sedangkan harga di pasar bisa mencapai Rp 30.000 -  Rp 35.000 per kilogram (tergantung ukuran). 

Bandeng yang berukuran dua ekor per kilogramnya, lebih cepat dan mudah dipasarkan dibanding ukuran yang lebih kecil. 

"Dirinya juga tidak merasa dirugikan, walaupun harga panennya ditampung Rp 15.000/kg, karena semua biaya operasional ditanggung semua oleh toke," tambahnya. 

Dari usahanya itu, walaupun tidak mendapatkan uang dalam jumlah besar, tapi ia sangat senang. 

Lahan tambak seluas dua hektar tersebut dibelinya 20 tahun lalu. Disamping itu, dirinya juga mengelola tambak lain.

Memelihara Bandeng kata ayah delapan anak yang baru ditinggal wafat istrinya, sangat mudah dan tidak begitu sulit dibanding dengan memelihara udang. "Dari usaha tambak inilah, saya bisa menyekolahkan anak. Termasuk membangun rumah dan membeli perabotan," kenangnya terharu.

=== 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018