
Raja Ampat, surga bawah laut dunia, kini di ujung tanduk! Tambang nikel menggerus keindahannya. Prof Rokhmin bersuara lantang.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Raja Ampat, surga bawah laut dunia, kini di ujung tanduk! Tambang nikel menggerus keindahannya. Prof Rokhmin bersuara lantang.
Lautnya sebening kristal, terumbu karangnya menari bersama arus, dan biota lautnya seperti lukisan hidup dari tangan Tuhan. Tapi di balik keelokan Raja Ampat, permata biru dari Timur Indonesia itu, kini menganga ancaman yang tak bisa dianggap remeh, tambang nikel.
Ancaman ekologis itu bukan sekadar cerita pesimis. Dalam sebuah pernyataan lantang, Sabtu (7/6), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, menyuarakan kegelisahannya.
“Maka, selamatkan Raja Ampat dari kerusakan oleh pertambangan nikel. Stop pertambangan nikel sekarang juga!” tegas Rokhmin.
Baginya, yang selama ini dikenal sebagai pakar kelautan dan Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), persoalan ini bukan sekadar tarik-menarik antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam. Ini adalah bencana lingkungan berskala global yang bisa menggerus warisan hayati dunia.
"Raja Ampat bukan hanya basis kehidupan Indonesia, tetapi juga dunia," ucapnya penuh penekanan.
Laporan terbaru Greenpeace mengungkap, lebih dari 500 hektare hutan dan vegetasi khas di tiga pulau kecil, Pulau Gag, Kawe, dan Manuran telah dirambah untuk kepentingan tambang.
Ironisnya, ketiga wilayah itu sejatinya termasuk zona konservasi laut dan darat berdasarkan UU No. 1 Tahun 2014 yang melarang aktivitas pertambangan di pulau-pulau kecil dan pesisir.
Tak hanya merusak daratan, pengerukan dan pembukaan lahan juga menyebabkan sedimentasi yang mencemari perairan pesisir.
Lumpur yang terbawa hujan merendam terumbu karang, membunuh plankton, menghambat fotosintesis, dan menghancurkan rumah alami ribuan spesies laut. Terumbu karang yang selama ini jadi benteng alami perairan tropis pun kini perlahan memutih dan mati.
Yang lebih memprihatinkan, limbah tambang juga mengubah kadar keasaman air laut.
Perubahan ini menyebabkan gangguan serius pada kehidupan organisme laut, memicu kematian biota, serta mengancam kelangsungan ekosistem bawah laut yang selama ini jadi pusat keanekaragaman hayati global.
“Ini bukan soal nasionalisme sempit. Ini soal tanggung jawab terhadap bumi. Kalau Raja Ampat rusak, dunia ikut rugi,” ujar Prof. Rokhmin dengan nada getir.
Ironisnya, tambang nikel sering digembar-gemborkan sebagai pilar ekonomi hijau karena menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Tapi di Raja Ampat, yang terjadi justru sebaliknya: kerusakan masif dan permanen.
Desakan agar aktivitas pertambangan dihentikan pun terus menguat, datang dari aktivis lingkungan, peneliti, warga lokal, hingga wisatawan mancanegara. Mereka bersatu dalam satu suara yaitu lindungi Raja Ampat.
Prof. Rokhmin mendesak pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo untuk segera mengevaluasi seluruh izin tambang di kawasan tersebut dan mengambil tindakan nyata sebelum semuanya terlambat.
“Kalau kita gagal menjaga Raja Ampat, kita gagal menjaga masa depan bumi,” tutupnya.