Jumat, 21 Juni 2024


Tambak Udang Windu plus Bandeng, Lebih Untung dan Ramah Lingkungan

27 Nov 2018, 14:20 WIBEditor : Yulianto

M. Syukri sewdang dipinggir tambaknya | Sumber Foto:A.S. Atjo

M Syukri raup untung hingga Rp 19 juta dari budidaya polikultur udang windu dan bandeng

TABLOIDSINARTANI.COM, Pinrang--Kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae di Desa Waetuoe kecamatan Lanrisang, Pinrang selama ini sudah terbiasa tidak menggunakan pakan buatan pabrikan dalam budidaya udang windu. Alasannya, selain dapat hemat biaya produksi dari harga pakan, juga karena lebih ramah lingkungan.

Bukan hanya alasan itu, ternyata udang windu hasil budidaya dari Pinrang sebagian besar diekspor ke Jepang. Konsumen udang di negeri Sakura tersebut lebih memilih mengkonsumsi udang windu yang diproduksi tanpa bahan kimia dan pakan buatan pabrik. Pada prinsipnya masyarakat Jepang benar-benar ingin menkomsumsi udang windu yang diproduksi secara alami dan ramah lingkungan.

Salah seorang petambak yang telah merasakan untung membudidayakan udang windu tanpa pakan pabrikan adalah Muh. Sukri. Pria yang biasa disapa Lakurri bisa panen udang windu tanpa asupan pakan buatan pabrik. Di atas lahan tambak sekitar 1,50 ha, setiap siklus, Lakurri menebar benur udang windu sebanyak 20.000 ekor. Selain benur, ia  juga menebar nener bandeng 1.500 emor pada lahan yang sama. Kedua jenis komoditas perikanan air payau itu dipelihara secara polikultur selama 90 hari hanya mengandalkan makanan alami dan ikan rucah.

“Sebelum tebar kita lebih dahulu melakukan persipan tambak selama kurang lebih 30 hari,” ungkap Lakurri. Persiapan tambak yang dilakukan meliputi pengeringan, perbaikan pematang dari bocoran, pengangkatan lumpur terutama dari sudut tambak, pemberantasan hama dan pemupukan dasar tambak. Selama dalam persiapan tambak Lakurri pantang dengan bahan kimia. Untuk memberantas hama ikan-ikan liar, ia menggunakan pestisida organik berupa biji teh (saponin). Agar makanan alami dapat tumbuh subur digunakan pupuk organik secukupnya.

“Jika semua kegiatan persiapan kita sudah jalani dengan sempurna maka dilakukan pemasukan air pada saat air pasang laut sedang naik,” katanya. Cara memasukkan air dari saluran ke petakan tambak menggunakan saringan berlapis agar benih hama tidak ikut lolos masuk ke dalam tambak. Lokasi tambak yang ada di kawasan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae termasuk kelas satu. Sebab selain dekat dengan jalan raya juga suplai air dari saluran ke petakan tambak tanpa pompanisasi.

Lakurri yang juga sekertaris Pokdakan Cempae mengatakan, bertambak udang windu memerlukan ketelitian dan kedisiplinan yang ketat. Sebab sedikit saja lalai dalam persiapan maka dapat berakibat patal pada saat proses budidaya. Manajemen budidaya udang windu diibaratkan pesawat terbang. Sebelum lepas landas dipastikan semua kompenen pesawat harus terkontrol dengan baik. Demikian juga dengan mengelola tambak udang.

Menurutnya, kunci keberhasilan bertambak udang tradisional ada pada persiapan dalam menumbuhkan makanan alami. Banyak jenis makanan alami yang bisa tersedia dalam tambak, namun ada cara sendiri untuk menumbuhkannya.

Jenis makanan alami yang diperlukan di tambak disesuaikan dengan umur dan perkembangan udang. Jika udang masih kecil maka jenis makanan alami yang ditumbuhkan adalah zooplankton atau hewan-hewan halus. “Berbeda jika udang sudah masuk umur 25 hari ke atas memerlukan makanan alami yang sesuai dengan bukaan mulut udang seperti phronima sp dan cacing sutera,” kata Lakurri.

Meski demikian menurutnya, pertumbuhan plankton tetap dibutuhkan untuk menjaga netralitas air tambak. Plankton yang baik untuk pertumbuhan udang windu adalah jenis skletonema dan diatomae ditandai dengan warna air tambak coklat kehijauan.

Jika makanan alami sudah menipis sementara udang windu belum mencapai ukuran yang diinginkan, maka petambak biasanya menggunakan ikan rucah. Jenis ikan rucah seperti mujair sebelum diberikan pada udang di tambak lebih dahulu dimasak atau direbus. “Ikan mujair lebih baik kita masak dulu agar telur mujair tidak menetas di tambak,” kata Lakurri.

Setelah dipelihara sekitar 90 hari Lakurri bisa panen udang windu sebanyak 200 kg dengan jumlah udang 25-30/kg. Hasil penjualannya mencapai Rp 23 juta. Selain udang windu, Lakurri juga panen bandeng 300 kg dengan hasil Rp 6.750.000.

Sedangkan biaya operasional meliputi persiapan tambak Rp 1,5 juta, benur Rp 800 ribu dan nener bandeng Rp 200 ribu. Sewa lahan dan tenaga kerja sekitar Rp 8 juta. Selama satu siklus (4 bulan) Lakurri mendapatkan hasil bersih sekitar Rp 19.250.000 atau Rp 4.812.000/bulan. Sebelum ada pendampingan dari penyuluh perikanan, Lakurri mengaku hanya mampu panen sekitar 100 kg.

Reporter : A.S Atjo
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018