Monday, 13 April 2026


Panen Bandeng 3 Ton di Buleleng, Nelayan Lokal Bisa Raup Pendapatan Lebih

05 Mar 2026, 10:13 WIBEditor : Gesha

Panen bandeng perdana di Buleleng capai 3 ton, membuka peluang nelayan lokal tingkatkan pendapatan sekaligus memperkuat sektor perikanan budidaya laut di Bali.

TABLOIDSINARTANI.COM, Buleleng -- Panen bandeng perdana di Buleleng capai 3 ton, membuka peluang nelayan lokal tingkatkan pendapatan sekaligus memperkuat sektor perikanan budidaya laut di Bali.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mencatat keberhasilan panen perdana bandeng di Keramba Jaring Apung (KJA) laut Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Rabu (4/3/2026).

Total produksi diperkirakan mencapai 3 ton dari tebar awal 15 ribu ekor dengan bobot rata-rata 300 gram per ekor, membuka peluang pendapatan lebih bagi nelayan lokal dan menjadi momentum penting bagi ketahanan pangan di daerah pesisir.

Panen perdana ini dihadiri oleh Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada. Kegiatan ini menunjukkan bahwa Buleleng tidak hanya menjadi daerah penghasil nener (benih bandeng), tetapi kini mampu membudidayakan bandeng hingga siap konsumsi melalui dukungan teknologi budidaya modern dan pendampingan pemerintah.

“Yang sebelumnya kita hanya dikenal lewat budidaya nener, sekarang sudah bisa membudidayakan dan memanen bandeng. Tentu ini menjadi kemajuan bagi pelaku usaha budidaya perikanan,” ujar Wabup Supriatna. Ia menekankan, keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, tetapi juga diharapkan meningkatkan pendapatan pembudidaya lokal dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Menurut Supriatna, capaian ini tidak lepas dari sinergi antara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng. Kedua instansi ini secara aktif memberikan pendampingan teknis mulai dari persiapan keramba, pemilihan benih unggul, hingga pengelolaan pakan dan pemeliharaan hingga panen.

“Dari sisi peningkatan pendapatan, kita harapkan para nelayan, khususnya pembudidaya nener yang kini berkembang ke budidaya bandeng, pendapatannya semakin membaik. Kami juga berharap dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali terus berlanjut,” tambah Supriatna.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyebut panen perdana ini sebagai sejarah baru bagi budidaya laut di Bali, khususnya di Buleleng. Menurutnya, panen bandeng dengan sistem KJA ini menunjukkan potensi kelautan Buleleng yang sangat besar dan bisa dikelola secara optimal dari hulu hingga hilir.

“Hari ini merupakan sejarah baru tentang panen bandeng di keramba jaring apung di laut. Setelah saya lihat, ini salah satu yang berhasil panen dengan sistem seperti ini,” ungkap Wayan Sunada. Ia menekankan bahwa hilirisasi perikanan di Buleleng sudah berjalan baik, mulai dari penyediaan induk, telur, pendederan, hingga pembesaran bandeng.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat, menambahkan, ikan dipanen pada usia pemeliharaan sekitar 6 bulan dengan tingkat kelangsungan hidup 65–70%.

“Panen bandeng premium ini menunjukkan bahwa budidaya laut berbasis KJA High Density Polyethylene (HDPE) di wilayah Sumberkima memiliki prospek yang sangat baik. Model ini bisa dikembangkan sebagai percontohan budidaya perikanan laut modern, produktif, dan berkelanjutan di Kabupaten Buleleng,” kata Melandrat.

Keberhasilan panen bandeng ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan nelayan lokal. Dengan harga bandeng yang cenderung stabil dan permintaan pasar yang terus meningkat, pendapatan pembudidaya bisa meningkat signifikan. Apalagi, pemanfaatan KJA modern memungkinkan produksi lebih padat dan efisien, sehingga hasil panen bisa terus meningkat dari tahun ke tahun.

Selain aspek ekonomi, panen ini juga menjadi langkah strategis Pemkab Buleleng untuk memperkuat ketahanan pangan lokal. Dengan tersedianya bandeng siap konsumsi dari produksi lokal, ketergantungan pada pasokan luar daerah dapat dikurangi, sekaligus menciptakan peluang usaha baru di sektor pengolahan dan distribusi perikanan.

Panen perdana ini menegaskan posisi Buleleng sebagai sentra perikanan budidaya unggulan di Bali. Dengan dukungan pemerintah daerah dan provinsi, serta penerapan teknologi budidaya modern, sektor perikanan di Buleleng diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, Pemkab Buleleng berencana memperluas model KJA ini ke wilayah lain dengan potensi perikanan laut tinggi, sekaligus mendorong pembudidaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas ikan. Sinergi lintas pemerintah, pembudidaya, dan pihak swasta diyakini akan semakin memperkuat sektor perikanan Buleleng sebagai penggerak ekonomi lokal dan andalan ketahanan pangan Bali.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018