Saturday, 07 February 2026


Udang Windu Air Payau Bisa Dipanen Bersama Padi

19 Dec 2018, 16:50 WIBEditor : Gesha

Udang Windu air payau kini bisa dibudidayakan dengan sistem mina padi

Udang windu sudah memasuki usia 45 hari dengan ukuran panjang tubuh 12-13 cm dan berat rata-rata 10 gram

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Barru --- Mina padi tak hanya dikembangkan di air tawar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Instalasi pembenihan Udang Windu (IPUW) BRPBAPPP juga mengembangkan mina padi di air payau dengan udang windu.

Mina padi air payau  udang windu (Pandu) yang dikembangkan  di lahan seluas kurang lebih 1 ha, saat ini sudah panen parsial.

"Udang windu yang dibudidaya dalam sistem mina padi ini sudah memasuki usia 45 hari dengan ukuran panjang tubuh 12-13 cm dan berat rata-rata 10 gram," kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja di Desa Lawalu, Kecamatan Sopengriaja, Kab. Barru, Sulawesi Selatan, Selasa (18/12).

Sjarief juga mengatakan umur padi saat ini belum memasuki masa panen. Proses tumbuh bulir padi belum serempak dan akan memasuki umur panen pada 110 hari ke depan. "Kami perkirakan pelaksanaan panen padi  pada Januari 2019," ujarnya.

Menurut Syarief, program mina padi merupakan integrasi dua teknologi menjadi suatu inovasi teknologi. Dengan metode ini, diharapkan alih fungsi lahan dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Panen Minapadi Udang Windu di Barru

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Pusat Riset Perikanan (Kapusriskan) Toni Ruchimat mengatakan, udang windu yang dikembangkan dalam mina padi itu selama 47 hari ukuran panjang sudah mencapai 13 cm dengan berat 10 gram. Artinya, udang windu yang ditebar dalam bentuk tokolan itu bisa tumbuh dengan baik.  

"Mina padi yang diaplikasi di air payau ini pada awalnya merupakan lahan tidur (menganggur) yang terjadi akibat intrusi air laut. Karena itu untuk  memanfaatkan potensi lahan tersebut diperlukan teknologi dan komoditas ikan dan komoditas padi yang toleran dan adaptif terhadap lingkungan," papar Toni.

Menurut Toni, udang windu yang dibudidaya bersama padi adalah udang windu unggul yang lahir melalui seleksi individu pada karakter pertumbuhan udang windu di BRPBAPPP-Maros.  Udang windu unggul ini juga dapat diadaptasikan pada air payau dengan salinitas rendah hingga kisaran 3-7 ppt.

Sedangkan pemuliaan padi payau hasil rekayasa dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi yang mampu mengadaptasikan padi pada salinitas 5-7 ppt.

"Budidaya Pandu ini dilaksanakan dalam kondisi off session, yaitu saat memasuki musim kemarau pada bulang Agustus 2018. Sumber air irigasi dan sumber air payau merupakan sumber utama dalam mengairi lahan Pandu ini selama 75 hari," kata Toni.

Reporter : Indarto
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018