Selasa, 21 Mei 2019


Contohkan Masyarakat, KKP Panen Ikan Gabus Hasil Pakan Mandiri

22 Des 2018, 09:14 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menghadiri acara ‘Show up/Panen Hasil Kegiatan INTAN Pakan Mandiri Berbasis Biokonversi untuk Budidaya Ikan Gabus | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

Masyarakat harus menguasai teknologi,dan ikut berperan aktif menyebarluaskan teknologi ini kepada jaringan kelompok dan pembudidayanya

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan diseminasi paket teknologi budidaya lengkap dengan pakan mandiri. Kali ini giliran budidaya ikan gabus yang dipanen di tengah masyarakat.

Hal itu terlihat saat Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menghadiri acara ‘Show up/Panen Hasil Kegiatan INTAN Pakan Mandiri Berbasis Biokonversi untuk Budidaya Ikan Gabus’ di Sentra Minapolitan Kecamatan Ciseeng Kab. Bogor, Jum'at (21/12).

Kegiatan ini merupakan sinergi antara Balai Riset Perikanan Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor, Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRPBIH) Depok, Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi dengan Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Bogor.

Sinergi lembaga tersebut menyediakan Paket Teknologi Lengkap dengan Prasarananya, mulai dari IPAL, Hatchery Tenaga Surya, Rumah Lalat dan Maggot BSF, Hapa. Prasarana tersebut memudahkan Produksi Maggot, Produksi tepung maggot, Produksi Benih dan Induk Ikan Gabus hingga Produksi Ikan Gabus Konsumsi.

"Kegiatan panen ikan gabus dengan pakan maggot ini saya harapkan menjadi pemicu pengembangan dan optimalisasi kawasan minapolitan dan pembangunan industri 4.0 di hilir perikanan budidaya," tutur Kepala BRSD Sjarief Widjaja.

Lebih lanjut, kegiatan tersebut menjadi pemicu pokdakan di sekitar dan para pelaku usaha perikanan bahwa dengan memanfaatkan komoditas gabus dan maggot sebagai alternatif bisnisnya dapat menjadi ujung tombak dalam bisnis perikanan.

Kegiatan ini juga terselenggara atas keberhasilan keberlanjutan sumberdaya, aspek lingkungan sekaligus pemanfaatan limbah organik, diseminasi penyuluhan perikanan, inovasi dan transfer teknologi, bantuan paket teknologi untuk masyarakat, adopsi teknologi, kerjasama pusat dan daerah, segmentasi usaha, kluster komoditas perikanan, seni berbisnis, dan teknik market dengan ikan gabus, hingga pakan mandiri berformula berbasis biokonversi.

“Masyarakat harus menguasai teknologi, memiliki ketrampilan yang layak, mengaplikasikannya, dan ikut berperan aktif menyebarluaskan teknologi ini kepada jaringan kelompok dan pembudidayanya sehingga omset produksi kedepan bukan hanya orang per orang atau kelompok per kelompok namun sudah omset produksi kawasan atau omset kampung desa inovatif, agar dapat memberikan penghasilan yang profitable,” lanjut Sjarief.

Adapun produksi benih gabus yang dihasilkan POKDAKAN Mina Gabus Ponol Sejahtera selama ini terdiri dari ukuran 3-5 (Rp. 500/ekor), ukuran 5-7 (Rp.1000/ekor) dan 8-12 (Rp. 1.500/ekor), dengan distribusi penjualan benihnya menjangkau JABODETABEK, Banyumas, Indramayu, Palembang, Pontianak dan beberapa juga PT Inagro. Namun, untuk ikan gabus ukuran konsumsi distribusi penjualannya masih disekitar Kab. Bogor.

Dari tebar 625 ekor per HAPA dengan Survival Rate/tingkat keberhasilan hidup mencapai 80 persen maka saat panen terdapat 500 ekor yang hidup dengan berat 125 kg atau 1 Kuintal 25 kg.

Sehingga 40 HAPA bisa dihasilkan 5.000 kg atau 5 ton. Apabila harga yang digunakan adalah Rp 60 ribu per kg ikan gabus, maka total hasil panen mencapai Rp 300 juta untuk kelompok.

"Jadi apabila seseorang menjalankan 3 K (Komitmen, Konsisten dan Konsekuen) maka rata rata pendapatan per orang pembudidaya per bulan dapat mencapai 8-9 jutaan kotor dari Bantuan Pemerintah," tutup Sjarief.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018