Selasa, 26 Maret 2019


KKP Pertajam Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya

20 Peb 2019, 15:32 WIBEditor : Gesha

Pengembangan lele bioflok akan menjadi andalan KKP | Sumber Foto:Ditjen Perikanan Budidaya

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya pada tahun anggaran 2019 kembali memprioritaskan program yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, seperti peningkatan produksi perikanan.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, pada tahun ini Ditjen Perikanan Budidaya akan lebih mempertajam program yang fokus untuk meningkatkan produksi perikanan. “Peningkatan produksi ini sangat penting untuk suplai pangan domestik dan ekspor, memperbesar kontribusi sub sektor budidaya terhadap PDB, dan perbaikan struktur ekonomi,” papar  Slamet.

Sasaran target kinerja pada tahun 2019 lebih realistis dengan mempertimbangkan    berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Pertimbangan ini dinilai sangat  penting supaya program yang dicanangkan nantinya lebih terukur.

“Untuk itu, program yang kami canangkan ini sejak dini telah terpetakan unsur kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya,” ujarnya.

Berbagai program prioritas tersebut di antaranya,  program gerakan pakan mandiri (Gerpari) yang telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan efisiensi produksi budidaya dan nilai tambah keuntungan usaha.

Dengan adanya program pakan mandiri, pembudidaya ikan skala kecil mampu mendapatkan nilai tambah keuntungan minimal 30 persen. Di samping itu program ini juga dapat mendorong penggunaan sumber bahan baku lokal dan menekan impor bahan baku, utamanya tepung ikan dan kedelai.

Program lainya yang tak kalah menarik adalah, pengembangan usaha budidaya lele sistem bioflok. Inovasi ini terbukti mampu menggenjot produktivitas hingga 10 kali lipat dibanding teknologi konvensional melalui pemanfaatan lahan dan sumber daya air yang sangat efisien.

“Pengembangan lele bioflok di berbagai daerah juga sangat strategis dalam meningkatkan ketahahan pangan nasional, khususnya dalam mencegah permasalahan "stunting" pada generasi bangsa,” papar Slamet.

Slamet juga menjelaskan pada tahun 2019. Ditjen Perikanan Budidaya akan melanjutkan pengembangan mina padi padi sebanyak 400 paket tersebar di 6 provinsi. Sedangkan untuk pengembangan budidaya lele bioflok sebanyak 250 paket tersebar di 10 provinsi.

Ditjen Perikanan Budidaya juga mengembangkan eskavator sebanyak 20 unit tersebar di 8 provinsi. Pengelolaan irigasi tambak partisipatif (PITAP) sebanyak 10 paket di 10 provinsi. Pengembangan kebun bibit rumput laut (KBRL) hasil kultur jaringan sebanyak 80 paket di 4 provinsi.

Guna menggaungkan Gerpari, Ditjen Perikanan Budidaya pada tahun ini akan memberi bantuan mesin pakan mandiri sebanyak 55 paket di 10 provinsi. Bantuan benih berkualitas sebanyak 213,9 juta ekor di 34 provinsi.  Bantuan induk unggul sebanyak 1,1 juta ekor di 34 provinsi.

Ditjen Perikanan Budidaya juga membangun sarana prasarana perbenihan sebanyak 18 unit di 4 provinsi dan pengembangan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu di 3 lokasi. “Kami juga akan melanjutkan program Asuransi Pembudidaya Ikan untuk meng-cover lahan 5.000 Ha di 14 provinsi,” ujar Slamet.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018