Thursday, 02 July 2020


Teknik Jalanan (12)

24 Jun 2020, 09:51 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM - “Tapi kami cerita yang sebenarnya, Kak Safina. Kan katanya gak boleh bohong. Ini betul,” Lele membela diri.

“Aku tahu, tapi ceritanya jangan di sini. Banyak cicak.”

“Cicak atau buaya?”

“Gak tahu. Aku kuatir kalau dikasih makan teruusss… aja, cicak juga akan gemuk dan akhirnya jadi buaya, ha ha…”

“Udah, cukup. Cerita itu nanti saja di bagian lain. Aku ingin dengar kalian cerita bagaimana kerja di jalan. Katanya banyak yang suka mengancam, ya,” tanya Polo sambil berjalan ke luar dari restoran.

Malam sudah merayap tapi udara masih terasa panas. Mereka berjalan sambil terus bicara dan tertawa.

“Apa Abang bilang? Mengancam?” tanya Lele.

“Waduh… itu sih kami gak berani, Bang. Cuma yang badannya gede aja yang berani mengancam dan menjambret. Istilahnya kami ini ‘generasi dalam asuhan’. Kami dilindungi. Paling disuruh diem kalau tahu sesuatu. Gak berani, Bang.”

BACA JUGA: Teknik Jalanan (11)

“Tapi kalian tahu?”

“Ya… sebagian. Udah ah. Aku gak mau cerita aib sendiri,” kata si Loren.

“Lu ramal aja Ren. Kasih bang Polo ramalan Lu yang jitu.”     

“Gini, Bang. Kalau cuma nipu-nipu dikit sih kan gak apa-apa. Kan kesalahan bukan di pihak kami. Itu masih termasuk keteledoran langganan. Kayak uang kembalian yang dibawa kabur itu. Kan itu sebenarnya kebodohan mereka sendiri.”

“Lagi pula jadi pelajaran supaya nanti gak terjadi lagi. Ibarat sekolah, untuk memperoleh pengetahuan, kan mesti bayar juga ha ha… Betul gak Ren?” kata  si Lele kepada Loren.

“Benar, Bang. Jangan selalu salahkan kami. Kami juga tahu diri. Kalau keseringan kan orang juga bisa hafal muka kami. Kan kami seringnya mangkal di tempat yang sama.”    

“Lagian orang juga banyak yang gak kasihan sama kami. Lampu merah itu tempat berbahaya, Bang.”

“Apa maksud kamu, Loren?”

“Sering kali barang udah diambil, belum dibayar, lalu mobilnya terus jalan. Kami sampai harus lari terus menyusul mobil sampai dia berhenti di tempat macet atau lampu merah lain.”

“Mereka kejam, Bang.”

“Mendingan kalau jalanan macet, mereka gampang disusul. Makanya kami selalu berdoa supaya jalanan macet supaya kami bisa jualan dan santai menunggu pembayaran.”

“Itu makanya Jakarta macet melulu. Doa kami orang kecil dan teraniaya itu didengar Tuhan, Bang,” kata si Bong panjang lebar.

Semua tertunduk seperti disihir mendengar pengaduan Bong yang sangat mengharukan itu.  Kesengsaraan yang dicoba ditutupi dengan gurauan dan kegembiraan palsu yang paling hebat sekali pun, tetap saja tidak menghilangkan bau kesengsaraan. Kekerasan hidup di jalanan yang dirasakan oleh anak-anak itu tergambar dari raut muka, sorot mata, rambut pirang dan kulit yang mengkilat dan pecah-pecah. Tercermin dari sikap yang tidak peduli, sikap keras dan melawan karena setiap saat mereka ditantang kerasnya kehidupan.

Langit seakan pecah menjadi berjuta-juta keping masalah lalu ditaburkan di atas kota Jakarta yang berpenduduk lebih dari 10 juta itu. Di sana ada 10 juta kepala dan 10 juta pemikiran yang berbeda.

 Safina memandang Polo. Matanya berkedip memberi isyarat. Dan dua-duanya mengangguk. Apa yang dia lihat dan dia baca, sekarang didengar dari pelakunya langsung. Ini masalah yang ditakutinya, dan ternyata betul-betul terjadi. Polo memaksakan tertawa.

“Kalian puas dengan pekerjaan sekarang? Mudah-mudahan nggak. Abang pikir kalian masih punya keinginan untuk bekerja yang lebih baik dan terhormat, tidak dikejar-kejar polisi dan Satpol PP, kan?” tanya Polo.

“Kalian tak kalah pintar dari anak sekolahan. Cara kalian bicara dan pengetahuan yang kalian punya menunjukkan kalian orang yang pantas untuk jadi apapun yang kalian mau. Abang bicara jujur.”

“Itu kan sudah kami bilang, kami rajin baca koran, Bang. Koran jualan bang Dewa itu kami baca dulu sebelum dijual. Jadi bang Dewa itu sebenarnya tukang loak ha ha… Betul gak kawan? Dia jualan barang bekas.” kata Lele.

“Bener, Bang. Kalau lagi sepi, kami baca koran. Berita itu ada di tangan kita  he he.. sombong, ya. Cuma teka-teki silang yang diwanti-wanti jangan diisi. Nanti pembeli jadi kapok,” sambung Loren.

“Ah, kentut kau. Aku lihat dia baca cerita porno aja tiap hari. Jangan percaya, Bang.”

“Lu juga.”

“Lu juga.”

“Ah semuanya, Bang. Mereka pada berbohong tuh. Jangan percaya.”

“Sudah berhenti, jangan berantem kalian. Dengar. Kami punya rencana untuk kalian. Rencana bagus supaya kalian berubah menjadi orang yang tidak lagi lari-lari di jalanan,” kata Safina.

“Abang dan kak Safina akan bantu siapa pun yang mau belajar. Kebisaan Abang hanya membagi ilmu. Kalau duit dan kekuatan badan Abang gak ada. Nih kak Fina juga mau bantu kalian. Jadi kalau kalian mau sekolah, datang ke asrama ketemu Abang,” Polo mengakhiri pertemuan sore itu.

Sekian pasang mata memandang Polo dan Safina lama. Semua diam. Semua bimbang. Semua tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan.

 ***

 SEBUAH TANTANGAN telah digelar. Genderang peperangan sudah dipalu.Tidak mudah untuk meraih kemenangan karena jalannya terlalu berbukit batu. Bong berpikir keras. Dia bertekad untuk pantang surut. Janjinya kepada bang Polo akan dipenuhi. Kakinya kuat dan sempurna. Bisa jalan dan berlari. Sedangkan bang Polo saja yang bermasalah tetap semangat untuk belajar walaupun perlu digendong ke sekolah.

"Betul sekali kata bang Polo. Hidup itu dijalani dengan kepala dan pikiran bukan dengan kaki. Orang tidak berkaki masih bisa hidup dan membuat sejarah yang menentukan.”

Polo mewariskan pepatah guru SMA-nya kepada si Bong.

“Sementara aku yang fisiknya sempurna, apa yang bisa aku kerjakan?” pikirnya.

Bong merasakan hebatnya sebuah tekad. Dia termasuk anak yang cepat lapar dan dahaga, tetapi mengapa pada bulan puasa dia bisa bertahan untuk tidak menyentuh makanan dari shubuh sampai maghrib? Mengapa sekarang dia bisa bertahan hidup di tengah lebatnya hujan, dinginnya malam dan di tengah dengung sejuta nyamuk?

“Aku sudah mengalami hidup sepenuhnya,  walaupun umurku baru seperlima umur orangtuaku,” gumamnya.

Sekolah yang menyita waktunya beberapa jam sehari itu dijalani dengan semangat tinggi. Godaannya banyak, terutama cemoohan dari kawan sebayanya di Sektor Satu. Tapi Bong berjalan tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Apalagi ke belakang. Terus saja ke depan. Mencari. Untung ada bang Polo. Ada tempat bertanya dan minta bantuan jika hujan terus menerus turun, banjir melanda dan kerusuhan merebak. Bong perlu melarikan diri ke tempat aman sehingga pelajarannya masih bisa berlanjut. Tak urung, beberapa pelajaran yang rumit seperti IPA (Ilmu Pasti dan Alam) selalu ketinggalan dan mendapat angka merah.

“Jangan kuatir,” kata bang Polo.

“Hidup bukan ditentukan oleh ilmu pasti. Buktinya semua kejadian yang aku alami penuh dengan ketidakpastian.”

“Aku tidak pernah membayangkan akan hidup di jalanan seperti ini,” keluhnya.

Bong terseok-seok. Jalannya sering terantuk batu. Dia harus membagi tenaganya untuk mengasong dan belajar. Badannya yang kurus terus dipacunya bekerja sampai dia kelelahan. Tapi ada sebersit sinar kepuasan terpancar dari matanya. Malam hari dia numpang mandi di asrama dan dengan semangat bertanya ini-itu kepada bang Polo yang semakin lama semakin menjadi panutannya.

Program penyesuaian dan kesetaraan  SLTP itu tidak terasa dijalani dalam waktu yang begitu cepat berlalu. Ketika kebosanan menerpanya karena berdagang di jalan berdebu itu menghanguskan perasaannya dan membuat waktu berjalan begitu lambat, belajar menjadi pelarian.

Hatinya terbakar dalam semangat, waktu berlalu tidak terasa, dan pengetahuannya bertambah tanpa disadarinya. Ditambah dengan hasil membaca koran setiap hari di kios bang Dewa, pengetahuan umumnya tidak dapat lagi disepelekan. Itu diperlihatkannya dalam pertemuan dengan mentornya setiap hari Saptu.   

“Aku hampir lulus SMP, bang Polo,” katanya bangga.

“Kamu senang?”

“Senang sekali, Bang. Abang ikut senang?”

“Abang senang tapi tidak senang sekali. Kurang bangga dengan lulusan SMP. Karena apa? Karena kamu sebenarnya sangat pintar. Lebih pintar dari Abang. Kalau berhenti sampai di sini artinya kamu menyia-nyiakan kepintaran yang diberikan Tuhan, Bong. Dengan otakmu yang encer itu kamu harus terus belajar, paling tidak sampai lulus SMA atau yang sederajat.”

Bong terperangah. Bang Polo ini terlalu memuji-muji dirinya. Tapi dalam hatinya dia juga bertanya, apakah yang dikatakan bang Polo itu benar adanya? Apakah memang dia pintar? Pantas untuk sekolah lagi.

Ketika dia berlari-lari di tengah jalan, dia melihat serombongan murid SMA berangkat sekolah. Mereka kelihatan hebat sekali. Sekolah di gedung yang banyak diteduhi pohon besar itu seperti tempat raja-raja. Tak mungkin bisa digapainya.

“Tapi bang Polo bilang aku pantas sekolah sampai di sana?”

“Umurku sekarang sudah 17 tahun. Terlalu tua untuk sekolah lagi,” pikirnya.

“Tak ada istilah terlalu tua untuk sekolah, Bong. Pembantuku di Medan sekolah SD sesudah dia berumur 50 tahun. Ketika dia lulus, seluruh desa menjemputnya dari balai desa tempat ijazah persamaan itu dibagikan,” kata Polo seperti persis menjawab apa yang dipikirkannya.

“Kamu mengerti, kan. Artinya semua orang menghargai orang yang sekolah mencari ilmu, tidak peduli berapa pun umurnya.” 

“Kalau pun aku sekolah lagi, aku tidak mau sekolah SMA. Aku mau sekolah yang memberi pelatihan agar aku bisa segera bekerja. Aku capek juga jadi pedagang asongan.”

“Tidak masalah. Kamu bisa belajar apa saja yang kamu mau. Kamu ambil saja sekolah kejuruan,” jawab bang Polo gembira.

Ada pertanda bahwa anak asuhannya mulai berpikir untuk meneruskan sekolah lagi.

(Bersambung ke: Ironi)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018