Thursday, 02 July 2020


Ujian Dunia Akherat (15)

27 Jun 2020, 08:37 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM - SAWITRI DATANG pagi-pagi pada hari Minggu sesudah tiga hari absen. Bong sudah mencoba mencari ke sana ke mari. Sudah dua tahun mereka saling mengenal. Bong memberi perhatian khusus pada kawan perempuan sebayanya tanpa mengerti mengapa dia melakukan hal itu.

Hanya menurutnya, Sawitri terlalu baik untuk jadi pengamen. Modal yang dia punyai hanya beberapa tutup botol yang dipakukan longgar ke kayu. Alat musik super sederhana itu dipukul-pukulkan ketangannya sehingga bersuara ‘kecrek…kecrek..’ ditambah nyanyian lagu dangdut sekedarnya. Begitu pengendara mobil mengangkat tangannya pertanda ‘maaf tak ada uang receh’, Sawitri akan segera pindah ke mobil lainnya. Dia tidak memaksa. Karena berdasarkan pengalamannya, memaksa, menunggu terus mengharapkan orang itu punya belas kasihan, selalu tidak berhasil.

BACA JUGA: Ujian Dunia Akherat (14)

Mata Sawitri sembab. Bengkak di bawah alis matanya. Rambutnya kusut seperti biasanya.

“Ke mana saja kamu Witri?”

“Di rumah,” jawabnya pendek.

“Ngapain di rumah?”

“Gak ngapa-ngapain.”

“Kenapa gak datang kemaren-kemaren?”

“Gak apa-apa.”

Jawaban pendek itu sudah memberi isyarat bahwa Sawitri tidak begitu ceria. Dia mempunyai masalah. Bong terus berpikir.

“Mengapa aku harus memikirkan dia?” gerutunya pada diri sendiri.

Agak lama Sawitri menunjukkan kelainan. Berbeda dengan biasanya. Mukanya selalu menggambarkan mendung, sampai akhirnya menjadi hujan berwujud air mata yang deras mengalir. Kabut rahasianya cair.

Dengan isak tangis Sawitri cerita bahwa boss Zoro memaksanya membawa dia ke seorang lelaki di kawasan Senen. Dengan mata tanpa curiga, pemberian berupa pakaian dan uang dia terima dengan senang hati.

Kecurigaan dan ketakutan mulai menerkam dirinya ketika dia diajak naik lift ke lantai 14 dan masuk di kamar mewah. Makanan yang terhidang tidak bisa dinikmatinya karena hatinya was-was dan badannya menggigil ketakutan.

Benar seperti yang diperkirakannya! Di hotel itu dia dipaksa melayani nafsu laki-laki setengah tua. Seolah dalam mimpi, Sawitri menangis ketika badannya diraba-raba.

“Aku memohon, aku meminta dan meratap, tapi laki-laki bejat itu tidak peduli. Dia menghimpit, memeluk, menekan dan merobek bajuku. Aku menangis, tahu? Aku menangis,” Sawitri membiarkan air matanya turun deras disertai engahan nafas dan menelan ludah berkali-kali.

Sawitri masih dicekam ketakutan ketika membayangkan sakit di selangkangannya yang tak tertahankan sampai dia menjerit. Dia menjerit sampai laki-laki itu terkejut. Darah perawan membasahi seprei. Dan itu yang membuat Sawitri ketakutan setengah mati.

“Aku merasa seakan aku ini seekor domba korban yang sudah disembelih, lehernya hampir putus, penuh darah, dan dagingnya sudah siap untuk disayat-sayat dan dibagikan kepada sekian banyak orang.”

Sampai dia berumur 14 tahun, Sawitri tidak pernah melihat darah di bagian rahasianya itu. Menstruasi pun dia belum mengerti. Pada umur 14 tahun, dia adalah seorang anak lugu yang sama sekali tidak mengerti menikmati hubungan seks. Darah yang tercecer itu sangat menakutkan. Dan darah itu keluar dari bagian badannya yang paling rahasia.

“Kamu tahu. Raungan ketakutanku tidak membuat laki-laki itu sedikit menaruh kasihan dan simpati. Dari mukanya yang tidak akan pernah aku lupakan, tidak terlihat sama sekali kesedihan dan penyesalan. Malahan terlihat rasa bahagia karena mendapatkan perawan,” Sawitri menutup matanya dengan kedua belah tangannya.

Sakit hati Sawitri melebihi sakit di selangkangannya. Dia mengalami trauma hebat yang berpengaruh pada dirinya sepanjang hayatnya. Dia mengalami kesakitan, ketakutan, dengan paksaan. Oleh seorang berbadan besar, kekar dan kasar yang tidak dikenalnya.

“Karena aku orang miskin maka mereka tidak semena-mena memperlakukan aku,” jeritnya dalam hati.

Malam hari, sesudah kejadian itu, Sawitri menelungkup menyesali nasibnya yang buruk.

“Taqdirkah ini? Salahkukah ini?” protesnya kepada nasibnya.

Dia tidak bisa berkata tidak ketika boss Zoro membawanya. Laki-laki bertampang kekar itu ditakuti oleh semua orang. Dia bisa mengatur orang melalui anak buahnya yang tersebar di mana-mana. 

Di rumahnya Sawitri terus melamun sehingga akhirnya semua kejadian itu diketahui oleh orangtuanya. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang bapak penarik becak untuk membela anaknya jika harus menghadapi kekuatan yang sebesar gunung batu? 

Ibunya menangis dan bapaknya termenung lama. Mereka hanya bisa membelai rambut Sawitri lama, tapi tak lebih dari itu. Bencana itu sudah datang. Mereka tahu resiko yang akan dihadapi anak perempuannya dalam kehidupan jalanan. Tapi nasib buruk yang menimpa keluarganyalah yang membuat mereka terpaksa merelakan anaknya mencari tambahan penghasilan lewat pekerjaan hina itu. Meminta-minta, mengasong, menjual kesedihan kepada orang lain agar dikasihani.

Pekerjaan ini saja sudah memberikan pengumuman kepada khalayak bahwa mereka yang berada di jalanan itu bisa dibeli. Bisa dibeli karena mereka miskin. Bisa diperdaya karena mereka bodoh. Bisa dipaksa karena mereka tidak punya kekuatan. Dan yang paling penting, tidak ada yang melindungi.

Bong sangat marah.

“Aku akan bunuh orang itu,” tekadnya.

Tetapi kepada siapa marah itu akan dialamatkan? Kepada nasib? Kepada Presiden? Kepada Tuhan?  Hatinya terguncang.

Dia sangat bangga pada Sawitri yang penuh tanggungjawab membantu orangtuanya. Penghasilan sekitar 10 sampai 15 ribu rupiah itu cukup berarti buat keluarganya yang miskin. Sehari-hari Sawitri tetap ceria. Matanya bersinar. Rambutnya keriting, kulitnya gelap dan badannya tegap. Dia mirip gadis Maluku. Cantik.  Bicaranya lepas bebas. Giginya putih bersih. Walaupun pengendara mobil mengangkat tangan tidak memberi uang, dia mengangguk sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih.

Bong membayangkan Sawitri berontak dalam ketakutan dan kesakitan. Sawitri yang hitam manis. Yang muka anak-anaknya sama sekali belum tercemari hasrat seksual. Sawitri berani manampar anak yang kurang ajar terhadap dirinya. Bang Tokek saja tidak berani macam-macam sama dia. Gadis belasan yang ceria itu tiba-tiba jadi murung dan banyak menangis. Noda itu sudah mengotori hidup dan bahkan jiwanya untuk seumur hidupnya. Peristiwa yang terjadi dalam hitungan menit itu mengubah hidupnya sepanjang hayat.

Setelah kejadian itu Sawitri menghilang dari Sektor Satu. Dia sudah bergabung dengan ibunya bekerja di tempat cuci pakaian. Pekerjaan yang lebih terhormat karena tidak perlu menjual muka sedih dan berpura-pura.

(Bersambung ke: Lagu Anak Jalanan)

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018