Thursday, 02 July 2020


Ujian Dunia Akherat (14)

26 Jun 2020, 08:25 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM

Kau hamparkan tanah dan

Tanaman berjenis-jenis

Manusia yang merayap meniti nasib

Di tanah subur atau gersang

Dalam kelebihan atau kekurangan

Relakah kita berbagi?

Tuhan menghamparkan berjenis-jenis tanah, tanaman dan hewan di mana-mana, cukup untuk semua umat manusia. Kalau saja bisa dibagi rata, maka masing-masing, tiap manusia, akan punya tanah dan rumah serta makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Tapi Tuhan menempatkan manusia di tempat-tempat yang berbeda-beda, di tempat yang subur dan gersang, yang lembab dan kering, dengan jumlah manusia yang berbeda-beda pula, sehingga ada yang kaya dan miskin, ada yang kelebihan dan ada yang kekurangan,” kata Polo kepada Ratri dan Safina dalam kesempatan makan siang di kantin kampus.

BACA JUGA: Ironi (13)

“Kamu tidak lagi complain kepada Tuhan tentang nasib, kan, Polo?” jawab Safina.

“Tidak. Aku hanya melihat kejadian ini sebagai pesan kepada manusia,” jawab Polo serius.

“Ah, kamu lagi serius sekali rupanya. Ini ada kaitannya dengan si Bong dan kawan-kawannya?” tanya Ratri.

“Ya. Aku pikir, kalau saja yang kaya dan kelebihan mau berbagi, tak akan ada di dunia ini yang kelaparan. Inilah barangkali ujian bagi umat manusia. Yang kaya dan berlebih diuji antara lain dengan hartanya, apakah mereka mau berbagi. Yang miskin diuji antara lain dengan kesabarannya, apakah mereka tetap sabar dan tawaqal walaupun dalam keadaan miskin.”

“Kamu tahu. Kesejahteraan semua umat hanya akan terjadi jika manusia mau berbagi. Karena Tuhan menghendaki agar kita tidak berlebihan dalam menikmati apapun. Tidak memiliki berlebihan, tidak menikmati berlebihan, tidak senang berlebihan, tidak sedih berlebihan, dan bahkan tidak mencintai sesuatu atau seseorang berlebihan. Karena semua itu akan kita tinggalkan,” lanjut Polo dengan semangat.  

“Ustadz mengatakan bahwa ciri orang yang bertaqwa antara lain adalah yang mau bersedekah dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam keadaan berlebih maupun kekurangan. Tuhan juga mengatakan tak sempurna ibadah kita jika tidak menafkahi orang miskin dan yatim. Bahkan diharuskan menunaikan zakat, berinfaq dan bersedekah. Lalu manusia diharuskan berpuasa agar tahu bagaimana rasanya lapar dan haus, yang biasa dialami orang yang kekurangan.”

Polo mengahiri ceritanya. Safina mengangguk, dan Ratri menggeleng, tidak percaya kalau Polo bisa cerita seperti itu.

“Kamu ada bakat jadi ustadz, Polo. Itu sangat menyentuh,” katanya sambil senyum.

“Bukankah kita tidak bahagia memiliki dan menikmati harta kalau sekitar kita hidup dalam keadaan kekurangan. Itu artinya kita harus berbagi,” kata Safina.

“Betul, kecuali kalau orangnya sudah bebal banget. Gak ada perasaan,” jawab Polo.

“Itu artinya bukan manusia.”

“Kata orang bijak, We make a Living by what we get. We make a Life by what we give.”

“Wuih… Itu sangat menyentuh.” 

Banyak yang menyaksikan, di satu sisi jalan orang miskin masih kekurangan makan sehingga kenyang bagi mereka hanyalah impian. Sementara di seberang jalan lain, makanan terbuang di restoran. Kemiskinan telah membuat manusia nekat melakukan apapun. Mereka akan berani menukar keyakinan, nilai kebenaran dan bahkan hidupnya untuk sesuatu yang sepele. Perkelahian dahsyat itu banyak disebabkan oleh sepotong roti atau berebut rejeki tak berarti.

“Juga akibat rendahnya akhlak orang yang bersangkutan.”

“Ya, pasti. Kejahatan orang terhadap orang lain seperti menjual anak untuk dilacurkan adalah contohnya. Pelacuran anak jalanan, menurut penelitian tidak hanya mereka yang melacurkan diri, tapi banyak juga yang dilacurkan dengan paksa oleh orang jahat. Itulah yang aku maksud dengan ujian bagi orang miskin.”

Kemiskinan, pendidikan, peran orang tua yang tidak peduli menjadi penyebab terjadinya berbagai kejahatan di lingkungan anak jalanan. Ini hasil penelitian. Penelitian memang banyak dilakukan tetapi hasil penelitian itu belum digunakan dengan baik. Terlalu banyak kendala yang menghalanginya.

“Apakah dana jadi kendala?”

“Mungkin, tapi dengan menetapkan prioritas lebih bijak, kayaknya banyak yang bisa kita lakukan dengan dana yang ada.”

“Banyak masalah, ya. Ini menakutkan.”

“Tapi jangan menyerah dulu. Ini tantangan,” kata Safina.

 “Kalau keadaan mereka sudah cukup parah, kita tidak hanya bisa berharap dari peran besar pemerintah dan orangtuanya saja karena dalam banyak kasus mereka juga mengalami masalah yang sama di dunia jalanan. Terlalu terlambat kalau hanya mengharapkan peran mereka. Harus ada peran masyarakat.”

“Ada penelitian yang menarik mengapa seks bebas terjadi di antara mereka. Karena imajinasi mereka tentang seks, karena mudahnya memperoleh informasi dan stimulus tentang seks seperti VCD, gambar dan majalah, dan karena pergaulan dengan orang-orang yang longgar terhadap masalah seks.”

“Ya. Tapi tidak kurang karena mereka memerlukan sesuap nasi tetapi tak menemukan jalan lain kecuali menjual diri.”

“Terlalu banyak penyebabnya, Fina. Bisa karena tekanan ekonomi atau kelonggaran terhadap nilai yang terkait dengan seks. Tapi kurangnya perlindungan terhadap korban juga telah mengakibatkan perdagangan manusia oleh manusia lainnya dan kekerasan yang dilakukan satu kelompok orang karena mereka tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.”

“Bisa saja negara dan aturan sangat kuat memegang teguh nilai, bahwa seks adalah tabu. Pelacuran dilarang oleh agama dan pemerintah. Secara formal dilarang, tapi yang sembunyi-sembunyi melakukannya tetap saja ada dalam lingkungan tertentu.”

“Aku tahu itu,” jawab Safina.

“Tapi akibat kerasnya aturan, sampai berpacaran, jalan dengan lain jenis, apalagi berpegangan tangan saja dihukum keras, akibatnya banyak terjadi incest. Kekerasan dalam rumah tangga.”

“Itu perlu peran besar pemerintah.”

“Persis. Itu justru yang ingin aku katakan.”

“Kamu dengar, kan, mereka cerita dipaksa oral seks oleh orang yang namanya bang Tokek? Beberapa hari yang lalu aku dapat informasi penting dari si Bong. Kawan baiknya si Bong, Sawitri, telah dipaksa diperkosa. Dia tak berdaya.”

“Astagfirullah. Terus bagaimana?”

***

PAGI BARU BERGULIR. Udara Jakarta masih sedikit ramah. Lampu jalan masih terang, udara masih bersih dan dingin. Jam 4 pagi suara adzan bergema di beberapa mesjid. Suara muadzin memanggil umat untuk sholat bersahutan digemakan oleh loud speaker ke semua penjuru. Lantunannya panjang, berliku-liku, meliuk-liuk. Indah. Sambung menyambung tanpa henti dari ujung timur berputar ke arah barat. Ajakan itu begitu memukau buat siapa pun yang mendengarnya dengan hati. Tidak hanya dengan telinga. Bilal yang mengumandangkannya dengan suara lantang telah membuat seluruh umat Islam terpaku terpesona dan segera bergegas melakukan sholat.

Bong menggeliat. Tidur selama 5-6 jam itu memberinya rasa nyaman. Di sanalah kenikmatan untuk melupakan kehidupan yang melelahkan, karena selama tidur dia tidak merasakan kepedihan hidup, lapar, dikejar Satpol PP atau keringatan mengejar mobil untuk uang pembayaran yang tak seberapa itu. Tapi sekarang, adzan sudah tidak lagi memberikan pengaruh apa-apa buat Bong dan kawan-kawannya. Hanya membangunkan. Maknanya sudah berubah, bilal itu sekarang hanyalah seperti weker yang berbunyi krriiinng….  Semacam Morning Call.

Dulu, di kampungnya, dia pasti segera mandi dan sholat Shubuh di mesjid dekat rumahnya. Anak-anak sebayanya sudah berkerumun di pintu mesjid dengan berbekal sarung warna warni. Mereka sholat secara rutin dan teratur walaupun belum tertib.

Kelakuan mereka masih menunjukkan bahwa mereka adalah anak kecil. Misalnya, mereka kesal kalau imam membaca surah panjang pada saat sholat shubuh. Kekesalannya ditumpahkan dengan mengucapkan amin yang panjang setiap akhir al Fatihah. Amiiiiinnn……. iiinnnn.  Berkali-kali dia dimarahi oleh orang tua. Tidak hanya oleh ayahnya, tetapi oleh orang tua siapa pun yang ada di mesjid. Tapi anak-anak adalah anak-anak. Pada umur 10 tahun mereka tidak dapat diharapkan khusuk seperti salatnya seorang sufi.

Kini, setelah 3 tahun di Jakarta, kebiasaannya telah berubah 180 derajat. Tidak hanya menjalani hidup serabutan di tengah hiruk pikuk, kekerasan di tengah lingkungan kotor dan kadang sampah, tetapi kebiasaan ibadah secara berangsur mulai hilang. Tidak ada lagi sentuhan emosi ketika mendengar suara adzan. Adzan hanyalah pertanda waktu sudah menjelang pagi. Bahwa dia harus bangun memulai hari baru dan kegiatan mencari uang. Adzan hanyalah alarm untuk membangunkan.

“Si Witri gak kelihatan hari ini,” kata Bong pada Lele di sampingnya.

“Wah kamu merindukan dia, ya.”

“Bukan gitu. Sebagian dagangannya ada sama aku. Kemaren dia ngobrol sama boss Zoro. Jangan-jangan ada obyekan kakap deh.”

“Lu hati-hati kalau ada yang ngajak pergi. Gara-gara uang cepek tuh si Sotong jadi begini,” kata si Lele sambil ujung jempol dan telunjuknya ditempelkan membentuk bulatan.

“Kenapa dia rupanya?” Bong bingung

“Kamu belum tahu?”

“Si Sotong yang selalu full tank[1].  Tajir[2] terus dia.”

“Iya. Kan aku bilang begini. Kamu ngerti? Dia  ngebool[3] melulu,” katanya sambil nungging dan telunjuknya mengarah ke anusnya.

Bong terperangah. Dia mendengar banyak tentang hal itu tapi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana itu bisa terjadi. Dia hanya melihat beberapa kali si Sotong pergi dengan bule atau dengan orang tua, dan beberapa hari tidak kelihatan. Si Sotong memang royal. Dia sering beli makanan di Restoran Padang, sementara yang lain kalau bisa beli makanan di Warteg saja sudah istimewa. Makanan sehari-hari mereka adalah nasi kucing[4] yang banyak dijual di sekitar kehidupan mereka.  

“Tuan bool itu pura-pura baik sama anak-anak. Kamu harus hati-hati sama dia,” kata si Lele di depan anak-anak yang sedang mengobrol di pinggir jalan.

“Ada juga yang benar-benar baik mau menolong. Tapi tetap hati-hati, siapa tahu ada udang di balik batu.”

“Siapa tahu dia hanya akan memainkan udangnya, ya ha ha…”

“Wah kalau bergerigi seperti udang bisa gawat si Sotong.”

Mereka serentak tertawa gemuruh, diiringi gemuruh kendaraan yang tak henti memenuhi jalan protokol kelas satu. Gedung mewah berjejer di kiri kanan jalan. Hotel berbintang, restoran dan perkantoran tumbuh subur di kawasan terhormat. Demikian juga gedung Kedutaan Besar yang berpagar tinggi berdesakan menyaksikan kehidupan jalanan yang terus membesar, bertambah dari tahun ke tahun.

Kemiskinan dan kekerasan hidup di ibukota itu ditampilkan di hadapan para wakil negara sahabat di depan tempat tinggalnya. Potret buram anak-anak calon barisan masa depan itu terlantar di sudut-sudut jalan. Mereka kurang dipersiapkan baik fisik maupun mentalnya.

(Bersambung)

 

[1] Istilah jalanan untuk punya uang banyak.

[2] Artinya kaya.

[3] Istilah jalanan untuk sodomi.

[4] Nasi kucing adalah nasi bungkus berukuran kecil dengan lauk sangat minim. Istilah ini berasal dari Yogyakarta. Disebut nasi kucing karena hanya cukup untuk makan kucing.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018