Thursday, 02 July 2020


Ironi (13)

25 Jun 2020, 12:42 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

TABLOIDSINARTANI.COM

Tanya di matamu anak muda

Mengapa bencana lebih tenteram dari sepi malam

Miskin papa lebih bahagia dari kaya raya

Durjana lebih mulia dari pendeta dan ulama

Zaman telah berubah, anak muda

Setiap orang mempunyai mata dan cara pandang yang berbeda sehingga suatu keadaan yang sama bisa diartikan lain-lain. Sungguh sangat subyektif. Bencana adalah kehancuran tetapi bisa juga berarti kesempatan. Oleh karena itu bagi yang selalu optimis, sisi negatif selalu punya sisi positif. Seperti yang sering jadi misal, bahwa air setengah gelas bisa berarti setengah kosong atau setengah penuh. Atau orang bijak selalu bilang kejadian buruk atau bencana selalu ada hikmah di belakangnya.

Bang Tokek yang galak dan selalu memalak itu di mata orang adalah seorang penjahat atau pimpinan geng yang ditakuti. Keberadaannya merupakan benalu yang merugikan orang lain. Berbagai kerusakan dan kerugian yang diakibatkannya, kalau dihitung bisa menggunung. Dia harus dijauhi, atau kalau bisa harus diberantas. Tapi di  mata anak jalanan dia yang mukanya berantakan itu adalah pelindung. Mengapa? Karena tidak ada lagi yang bisa diharapkan untuk melindungi mereka. 

Pemerintah tidak mampu melindungi mereka. Memang ada biaya yang harus dibayar oleh anak-anak, seperti upeti atau pekerjaan meloli yang membuat muntah itu. Tapi itulah hidup. Saling menerima dan memberi. 

Dalam kasus bang Tokek, sebenarnya dia mengambil kekosongan akibat tidak adanya peran lain yang seharusnya ada di sana. Pemerintah. Apa yang tidak bisa diberikan pemerintah itu lalu diambil alih oleh perorangan seperti bang Tokek.

Di mana-mana di dunia ini selalu ada pemimpin dan yang dipimpin. Tidak selalu pemimpin itu lebih baik dan lebih mulia dari yang dipimpinnya. Perbedaan itu adalah sesuatu yang natural terjadi karena bakat dan kemampuan manusia berbeda. 

Tempat di mana manusia itu diletakkan Tuhan seolah sudah diatur sesuai dengan kemampuannya. Ada tipe orang yang suka dipimpin ada yang suka memimpin. Ada yang suka jadi atasan dan ada yang suka jadi bawahan. Semua mempunyai peran. Selain itu pimpinan yang hebat itu belum tentu di bidang kebaikan. Bisa juga di bidang kejahatan. 

Bang Tokek itu tidak diketahui asalnya dari mana. Maupun siapa nama sebenarnya. Hanya mukanya yang banyak luka dan bercak-bercak hitam itu yang membedakan dia dengan orang lain. Karena itulah dia dipanggil bang Tokek. Karena kulitnya seperti tokek. Badannya kecil, jalannya pelan sambil agak membungkuk-bungkuk. Sorot matanya tajam membuat orang yang melihatnya tergetar. Dia tidak pernah membawa senjata apapun, tetapi semua orang di jalan sekitar Sektor Satu hormat kepadanya. Tanpa syarat. 

BACA JUGA: Teknik Jalanan (12)

Bong merasa dilindungi oleh bang Tokek walaupun dia harus tunduk pada aturan yang dibuatnya. Setoran tiap hari dari penghasilannya dikeluhkan, tapi tak ada orang yang mengganggunya selama dia dalam lindungan bang Tokek. 

Hal yang sangat menyebalkannya hanyalah ketika harus meloli bang Tokek sebagai bagian dari masa plonco yang harus dilalui oleh setiap anak baru di kawasan itu. Dia juga ternyata sangat manusiawi. Ketika salah seorang anggotanya ada yang sakit, dia pasti akan menengoknya dan memberi semangat. Walaupun kata-katanya sangat keras dan menyengat.   

Bang Tokek suka merokok tetapi tidak mau beli rokok. Adalah kebanggaan baginya apabila rokok itu dipasok oleh anak-anak asuhannya. Bukan masalah uang dan kemampuan membeli, karena dia punya cukup uang. Tetapi masalah kepatuhan. Tersedia rokok yang cukup baginya dari anak buahnya itu merupakan indikator tegaknya kekuasaan.    

***

“YA. IBARAT PELEPAS uang dan tengkulak yang beroperasi di pedesaan. Kita semua menganggap mereka orang jahat. Lintah Darat. Tetapi siapa yang mampu membantu petani memberi pinjaman modal dan menjual hasil usahanya jika pemerintah tidak bisa menyediakan mereka fasilitas dan infrastruktur untuk pemasaran?” kata Polo dalam satu diskusi tentang anak jalanan di kampusnya.

“Aku setuju dengan pemikiranmu. Tinggal bagaimana meningkatkan peran para tengkulak itu dengan cara lebih adil agar sistem pemasarannya menjadi lebih efisien,” jawab kawannya.

“Dari sanalah seharusnya pemerintah mulai. Peran pelepas uang dan tengkulak itu setahap demi setahap diperbaiki agar lebih mendekati peran penyedia permodalan dan pelaku pemasaran yang lebih adil. Solusinya jangan dengan menghapuskan. Mau di kemanakan hasil pertanian itu?”

“Ada kasus bagus di Pakistan. Kan di bagian barat negara itu banyak sekali orang yang pintar membuat senjata. Senjata apapun bisa mereka tiru sehingga perdagangan senjata marak dan bisa memicu kerawanan dan pertikaian. Solusi yang dilakukan pemerintah cukup cantik. Mereka direkrut untuk menjadi pegawai di pabrik senjata yang dikelola pemerintah. Digaji besar,” kata Wajiha.

“Nah itu. Mereka dipekerjakan, hasilnya bagus tetapi pemasarannya terkontrol. Aku suka itu.”

“Hidup ini memang ironi. Aku semakin berpikir bahwa kita tidak bisa memilah hitam putih begitu saja. Banyak logika yang terbalik, tergantung kepada situasi yang melatarbelakanginya,” kata Polo.

“Dalam suatu model penelitian, situasi yang melatarbelakanginya itulah yang tidak pernah dijelaskan,” kata Safina.

“Salahnya, peneliti sering mengganggap enteng situasi itu, padahal itulah yang akan menentukan interpretasi hasil penelitian. Jangan kemudian hasil penelitian diaplikasikan untuk keadaan yang tidak sesuai dengan kondisi.” 

“Ya semacam itulah.”

“Baik dan buruk menurut pengertian manusia itu tidak bisa menjadi patokan. Bisa menjadi begitu tipis perbedaannya tergantung kepada situasinya. Tuhan sudah memberikan kita petunjuk. Kaya dan miskin misalnya. Kaya, yang didambakan manusia itu tidak lebih baik dari miskin di mata Tuhan. Dua-duanya adalah ujian,” kata Safina.

“Makanya sering disebut orang miskin itu lebih kaya dari orang kaya.”

“Contohnya banyak, ya.”

“Banyak sekali. Banjir itu sangat dibenci oleh masyarakat. Tapi masyarakat yang mana? Buat orang miskin dan tidak punya pekerjaan lain, itu adalah kesempatan untuk memperoleh penghasilan melalui mendorong mobil dan menyeberangkan orang dengan perahu.”

“Ha ha… kamu terlalu ekstrim contohnya. Itu bisa membikin Gubernur DKI teramat senang mendengarnya.”

“Hujan adalah sesuatu yang tidak diharapkan bagi yang punya pesta atau hajatan. Tapi berkah buat petani yang tanamannya perlu air.”

“Lalu contoh yang kamu sebutkan tadi. Ternyata pelepas uang dan tengkulak itu banyak peran bagusnya bagi petani yang tidak mendapat pelayanan kredit dan fasilitas pemasaran.”

“Malahan menurut si Bong dan kawan-kawannya, bang Tokek lebih baik dari satpol PP atau polisi. Dan orang miskin lebih penolong dari pada  orang kaya bermobil mewah?”

“Ironi, ya.”

“Betul. Makanya kita harus hati-hati kalau membuat asumsi. Ini dasar sebuah penelitian. Kalau sudah salah dari awal, maka kita akan mengambil kesimpulan yang salah.”

“Kita tidak pernah mengeneralisir suatu kasus. Orang psikolog seperti kita kan melihat kasus yang terbatas tetapi diteliti secara mendalam, makanya bisa melihat perbedaan antar kelompok individu lebih baik.”

“Ya, itulah perbedaannya.”     

“Nah, pertanyaan baru, apakah anak jalanan lebih baik dari anak lain?”

“Kamu mengada-ada. Yang jelas selalu ada kontra kepentingan. Yang mempunyai kekuatanlah yang mampu mendahulukan kepentingannya.”

“Menurutku, tekanan mental akibat kemiskinan di antara anak jalanan sangat besar. Orang akan melakukan apapun kalau kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Mereka bisa kehilangan akal, sehingga melakukan apapun di luar kontrol nilai kebenaran.”

“Orang gila divonis tidak bersalah jika melakukan kejahatan. Karena mereka tidak sadar bahwa yang mereka lalukan adalah kejahatan. Aku pikir, mereka yang ada dalam tekanan kehidupan yang begitu berat itu juga dalam kadar tertentu sulit membedakan nilai benar dan salah. Dan pembiaran terhadap mereka akan mengantarkan mereka menjadi orang yang apatis dan berbahaya.”

“Sebenarnya ini terjadi pada semua kelompok masyarakat. Orang yang sudah mulai frustrasi bisa melakukan hal yang di luar nalar.”

“Perkelahian antar kampung, kekerasan dalam rumah tangga, mabok minuman keras, sampai pada narkoba dan bunuh diri adalah dampak dari tekanan kehidupan.”

“Bagaimana menurut kamu mahasiswa yang terus tawuran dan masyarakat yang kerjanya demo?”

“Banyak yang dibayar, ya.”

“Yang membayarnyalah yang sakit jiwa ha ha….”

“Tahu gak, mahasiswa yang tawuran itu kebanyakan yang tidak berniat belajar. Aku pikir sih pecat saja semua mereka itu. Belum apa-apa sudah ngerusak. Bagaimana kalau sudah jadi pintar? Harus ada hukum yang tegas. Wibawa guru dan sekolah terus tercemar dengan kasus tawuran,” jawab Polo.

“Mereka berani melakukan sesuatu bila bersama-sama dengan kelompoknya. Bila seseorang berada didalam kelompok, rasa tanggung jawab, mereka pikul bersama-sama.”

“Tapi itu kelakuan pengecut. Dulu orang melakukan carok di Madura dan perkelahian mati hidup dalam sarung di Makassar adalah perkelahian satu lawan satu.”

Persoalan yang sepele menjadi besar tidak terkendali tanpa penyebab yang jelas. Mereka sudah kehilangan akal dan tidak lagi berperilaku sebagai mahasiswa yang mencari ilmu ketika bangunan sekolah dirusak, perpustakaan dibakar dan guru-gurunya dilawan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk melampiaskan kekesalannya.

“Dalam beberapa hal, anak jalanan ini lebih tertib dari mahasiswa,” kata Safina. 

Polo termenung. Bagaimana kita melihat fenomena anak jalanan sekarang ini? Bagaimana penanggulangannya? Apakah itu urusan pemerintah? Ataukah kita sebagai masyarakat juga ikut bertanggung jawab dalam masalah ini? Semua pertanyaan itu memenuhi kepalanya.

Perubahan dalam diri anak jalanan itu begitu cepat terjadi. Anak baik yang dibesarkan dengan kasih sayang pun lambat laun berubah disulap oleh keadaan yang keras dan hingar bingar. Sawitri kecil sempat menghilang beberapa saat setelah kejadian yang menyeramkan menimpa dirinya. Dia diperkosa. Sekarang dia sudah kembali. Hanya sebentar dia mengamen dengan musik tutup botol minumannya. 

Tetapi tiga bulan sesudah kejadian itu Sawitri berubah. Dia tidak lagi takut bergaul dengan laki-laki. Bahkan menantang. Bong melihat perubahan besar pada diri Sawitri yang entah mengapa membuat dia sedikit tidak senang. Kawan-kawannya banyak mengganggu Sawitri dengan banyolan konyol yang menyerempet masalah seksual. 

Kepalang basah. Sawitri mulai menyadari, ada yang lebih pantas untuk dipamerkan dan dijual dengan mudah. Sesudah nasibnya tetap terpuruk sekian lama, tidak ada perubahan dari waktu ke waktu. 

Sesudah kehormatannya dijarah kejiwaannya berubah. Dia bukan manusia dewasa, tetap anak-anak, tetapi anak-anak yang dipaksa bekerja keras mengeksploitasi badannya mengerjakan pekerjaan orang dewasa. Pekerjaan itu bukan hasil dari pikirannya. Pikirannya justru sedang dirusak, dan jiwanya diperkosa.

Bong timbul kekesalannya karena Sawitri tidak marah dan bahkan menanggapinya dengan santai dan senyum ketika dia dicolek dan digoda. Dia tidak malu ketika orang tahu bahwa dia sudah tidak perawan. Dia tidak sungkan lagi cerita bahwa pada umur semuda itu sudah mencicipi pengalaman seks walaupun dengan dipaksa. 

“Lu belum pernah? Bodoh, Lu,” katanya, membuat Bong sakit bukan kepalang.

“Sawitri sudah berubah,” pikirnya.

Dia sudah menjadi perempuan, bukan lagi anak-anak yang perlu dikasihani. Dia telah memamerkan dirinya. Dia telah tahu bagaimana seharusnya memanfaatkan dirinya.  

“Orang sudah memanfaatkanku, mengapa aku tidak memanfaatkan diriku sendiri?” pikir Sawitri.

Bong melihat Sawitri mulai agak genit. Pakainnya sudah diatur, rambutnya tersisir rapi, selalu membawa peralatan untuk membereskan pakaian dan rambutnya. Bahkan mulai memakai lipstik.

“Aku benci melihatnya,” katanya dalam hati.

Dia tidak banyak berkeliaran di jalan. Sekali-sekali kalau bertemu dia terlihat rapi, bersih dan  berdandan. Sawitri bukan lagi Sawitri yang dia kenal. Dia beda. Dan Bong tidak suka dengan perubahan itu. 

“Terlalu aneh untuk umur semuda dia,” katanya.

“Tapi apa boleh buat. Hal itu akan terjadi cepat atau lambat. Hidup di jalanan itu penuh dengan apapun yang nilainya buruk. Kekerasan, kejahatan, pelacuran dan sebut apapun.”

Semua diketahuinya tetapi dia tidak banyak bicara. Hanya kepada Polo dia bercerita terus terang. Orang yang tidak bisa berjalan normal itu sangat penuh perhatian dan benar-benar ingin membantu dengan tulus.

(Bersambung ke: Ujian Dunia Akherat)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018