Friday, 18 June 2021


Menikmati Kopi Telur Kocok di Pasar Tradisional Pidie

10 Jun 2021, 19:06 WIBEditor : Ahmad Soim

Bang Wan (kiri) dibantu pelayan (kanan) | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pidie -- Pasar tradisional Ie Leubeu sudah tak asing lagi. Namun bagi Sinar Tani suasana pasar yang berlangsung beberapa jam saja sangat unik dan menarik.

Bada Azan Shubuh masyarakat setempat sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing dalam menyiapkan bahan pangan yang dijajakan di pasar ini.

Tak terkecuali dengan Bang Wan, pemilik warung kopi Citra. Warung yang tampak bersih dengan meja kursi tersusun rapi, dalam sekejap mata sudah ramai dan penuh hiruk pikuk.

Boh Manok Weng (telur kocok) yang dicampur minuman kopi atau teh, adalah minuman khas yang disajikan warung tersebut, rasanya sungguh nikmat. "Telur ayam kampung asli Bang, harganya Rp 7.000 per gelas," jawabnya.

Kami berjualan tidak sampai setengah hari kata Bangwan. Pasar ini akan tutup sekira pukul 10 - 11 wib. Setiap hari warungnya menghabiskan ratusan telur ayam kampung, umumnya pengunjung yang datang merupakan pelanggan tetap. "Bahkan ada juga dari luar Pidie yang datang khusus kesini hanya menikmati sensasi Boh Manok Weng," bebernya.

Sinar Tani pun tak luput memesan minuman yang nota-bene maknyus. Ditambah lagi dengan kue khas pulut panggang, wah...tidak kebayang dan sulit untuk menceritakannya," ujar Saifullah yang kebetulan ikut sarapan bareng.

Bang Wan, pemilik warung kelahiran Kembang Tanjong 50 tahun lalu ini adalah pekerja yang giat dan bersungguh sungguh. Namun wajahnya masih terlihat awet muda. Kuncinya kata dia dalam segala hal kita harus yakin dan selalu berfikir positif serta bersyukur. 

Bang Wan menikah pada tahun 2000. Dari hasil perkawinannya dengan Malawiyah (39) kini telah dikaruniai 6 orang anak. Yang sulung namanya Nanda Rahayu, sekarang tengah kuliah semester IV di Keperawatan (PSIK) Sigli. Sementara yang bungsu belum masuk TK. 

BACA JUGA:

Warung milik keluarga yang terletak di dalam pasar tradisional kecamatan Kembang Tanjong, digunakan untuk menafkahi keluarganya. Saat ia masih lajang, Bang Wan sudah mulai berjualan kopi sejak tahun 1994.

Warungnya dikenal masyarakat secara meluas, mulai Polres Pidie dan komunitas bersepeda sampai orang nomor satu Pidie beberapa kali mampir. "Bahkan orang nomor satu Bireuen sering juga datang, karena kampungnya memang disini," bebernya. 

Sehari-hari Alhamdulillah bisa dapat di atas Rp 500.000, tapi kalau hari Sabtu dan Minggu omsetnya melebihi satu juta rupiah," ucapnya seraya bersyukur. 

Untuk telur, setiap hari rata rata dihabiskan 50 - 70 butir, kalau hari libur malah melebihi 100 butir. Tiap hari telur ayam kampung sudah ada yang memasoknya dengan harga Rp 3.000 per butir. Namun kalau sedang langka dia mencarinya hingga keluar masuk kampung. 

Dalam melayani konsumen Bang Wan sangat mengutamakan kualitas. Harga per gelas Boh Manok Weng relatif sama dengan warung lainnya. 

Sebagai pedagang Bang Wan, pernah juga mengalami masa masa pahit, tapi dirinya tetap bertawaqal kepada Allah. Apalagi saat Covid 19 sekarang ini, pengunjung luar daerah sudah mulai terbatas dan jarang datang. Namun dirinya tetap bertahan serta bersyukur dan selalu berikhtiar dengan selalu berdoa. "Semoga dari masa sulit ini nanti, akan  dimudahkan kembali urusannya" harapnya. 

Seiiring pertumbuhan anaknya, maka kebutuhan pun semakin  meningkat dan harus kita dipenuhi. Untuk itu, Istrinya juga turut berjualan kue Ade Ie Leubeu (Red kue khas Aceh) di depan warungnya. 

Mulai jam empat pagi bersama istri dan dibantu anak anak, kami sudah bangun dan turut membantu membuat kue. 

Kue yang dijajakan selain Ade dan putu, juga banyak lagi kue kue khas Aceh lainnya. "Anaknya yang sekolah SMA usai Shubuh selalu mengantar kue kue tersebut ke kampung lain (Meuraksa dan Pasi Lanca), begitu juga yang sulung turun tangan membantu, mereka sudah terbiasa dan tidak ada istilah gengsi lagi," timpalnya. 

Kalau kita yakin dan terus tetap berusaha maka, semua kebutuhan untuk membiayai sekolah anak, InshaAllah akan terpenuhi rezekiNya.

Mobil Agya tahun 2018 dan dua kendaraan bermotor hasil dari penjualan Boh Manok Weng, digunakan untuk keperluan keluarga dan anak anak bersekolah. Semoga kedepan selesai sekolah mereka lebih sukses lagi," ujarnya. 

____

 

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018