Wednesday, 21 October 2026


Pewangi Ruangan, Jadi Solusi Alternatif Krisis Petani Bunga

04 May 2020, 05:46 WIBEditor : Yulianto

Usaha bunga potong terkena imbas virus Corona

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Pandemi covid-19 membuat banyak sektor usaha lumpuh, terutama sektor pariwisata. Himbauan social/physical distancing sangat berpengaruh pada sektor ini, serta sektor yang beririsan antara lain, jasa penginapan, rumah makan, perdagangan, tidak terkecuali pertanian.

Usaha pertanian tanaman hias atau bunga potong yang banyak menjamur di lokasi sekitar wisata alam lesu. Tidak ada lagi seremoni atau tempat usaha yang biasa menyerap hasil mereka. Pada akhirnya petani-petani kecil dan buruh tani terkena imbasnya, asap dapur tak lagi bisa mengepul.

“Sejak awal diterapkannya social/physical distancing, tiap hari sekitar 1 pickup bunga mawar dibuang sia-sia. Bahkan banyak sekali yang digunakan sebagai pakan ternak atau bahan kompos, dari pada tidak dimanfaatkan sama sekali,” keluh Lily, salah satu petani millenial Kota Batu penggerak usaha di bidang bunga hias.

Sebagaimana arahan Mentan, Syahrul Yasin Limpo, bahwa pertanian harus terus berdaya di tengah wabah, bergerak dengan inovasi-inovasinya, memiliki solusi atas permasalahan yang ada. Pertanian tidak boleh berhenti. “Pertanian harus hadir meyakinkan rakyat bahwa Indonesia mampu mengatasi krisis bersama,” ujar Syahrul.

Menindaklanjuti arahan tersebut, salah satu Widyaiswara BBPP Ketindan, Saptini Mukti Rahajeng yang akrab disapa Ajeng, mendampingi Komunitas Tani Millenial untuk menyerap dan memberdayakan panenan bunga potong. Ajeng dan tim mengkreasikan beragam produk. Antara lain rangkaian bunga kering yang berfungsi sebagai air freshener.

“Kelemahan usaha tani di Indonesia ada dihilirisasi. Petani selama ini terlena dengan zona nyaman, serapan pasar mentah yang bersifat rutin. Tapi ketika dihadapkan dengan kondisi seperti ini mereka belum siap. Tidak ada kesiapan,” kata Ajeng.

Padahal menurutnya, jika petani bisa mengembangkan usaha hilir, maka tidak akan kesulitan pasar saat terjadi seperti ini. Misalnya, rangkaian bunga segar, bunga kering dan olahan bunga kering bisa menjadi bahan pewangi ruangan, sabun, menjadi alternatif untuk menyerap dan memanfaatkan panen bunga potong.

“Mudah-mudahan inovasi-inovasi produk ini dapat menjadi salah satu solusi, membantu kelanjutan penghasilan petani kecil dan buruh taninya, untuk dapat dikembangkan lebih luas lagi,” ungkapnya.

Ajeng mengaku, hingga kini belum banyak pemanfaatan bahan-bahan alami di Indonesia menjadi produk harian dengan tampilan alami. Pasar masih dikuasai produk instan berbahan sintetik. Padahal Indonesia kaya raya. “Mudah-mudahan pasar juga belajar menghargai kekuatan dan kekayaan alam Indonesia.” tambahnya.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pemngembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menegaskan, arahan Mentan, bahwa BPPSDMP harus mendeseminasikan teknologi-teknologi yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk bertahan di tengah COVID-19. BPPSDMP harus mampu hadir memberikan solusi bagi kesulitan yang dihadapi petani-petani.

Reporter : Ajeng/Yeni (BBPP KETINDAN).
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018