Senin, 15 Juli 2024


Berawal dari Keprihatinan, Milenial Ini Budidayakan Kangkung dan Bayam Organik

12 Mei 2020, 14:21 WIBEditor : Yulianto

Wardoyo di lahan kangkungnya | Sumber Foto:Sugeng H

TABLOIDSINARTANI.COM, Kebumen---Ada banyak alasan ketika seorang berniat untuk terjun ke dunia pertanian. Ada yang melihat peluangnya menggiurkan. Ada juga karena faktor lain.

Misalnya saja, Wardoyo, petani milenial asal Kebumen, Jawa Tengah yang memilih membudidayakan kangkung dan bayam organik. Lahan yang digarap tersebut mempunyai luas 16 m x 7 m dan berada di sekitar rumah.

“Saya budidaya kangkung dan bayam organik berawal dari keprihatinan. Banyak produk sayuran tercemar pestisida kimia yang dapat mengakibatkan efek yang tidak baik untuk tubuh,” ujar petani milenial yang tinggal di Desa Kajoran, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen ini.

Dalam pengolahan tanah sampai panen, Wardoyo melakukan bersama delapan orang temannya. Dengan mengajak temannya, ia berharap, kegiatannya bermanfaat menumbuhkan minat generasi muda dalam budidaya sayuran. Apalagi setiap hari mereka melakukan pemeliharaan tanaman sayuran.

Tak mudah memang untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk mencintai dunia pertanian,” ujarnya. Namun dengan kegigihan Wardoyo, kegiatan budidaya sayuran organik dapat berjalan baik dan menyenangkan.

Dalam budidaya kangkung dan bayam organik, Wardoyo mengggunakan media tanam  tanah, kotoran ternak, arang sekam, dan cocopeat. Lahan kangkung dan bayam organik dibuat green house untuk mencegah hama dan penyakit tanaman.

Budidaya sayuran dapat dilakukan di sekitar rumah kita, hal ini sesuai anjuran pemerintah untuk di rumah saja, dari rumah pun tetap bisa berproduksi,” ujar Wardoyo yang merupakan binaan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen serta Polbangtan Yogyakarta-Magelang ini.

Dalam pemasaran, Wardoyo melakukan secara online. Kangkung organik dijual seharga Rp 5.500/kg, sedangkan harga bayam organik Rp 15.000/kg.  Dengan permintaan sayuran organik yang terus  meningkat, ia beniat untuk memperluas lahan budidaya. “Apalagi kini masyarakat semakin sadar pentingnya sayuran organik untuk kesehatan,” katanya.

Selain budidaya sayuran organik, Wardoyo bersama milenial lainya juga membudidayakan pepaya calina di lahan seluas 600 ubin. Hasilnya ia jual dengan harga Rp 3.000/kg. Budidaya pepaya calina dirintis sejak tahun 2019 dan sampai sekarang masih berjalan.

Sementara itu Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Karanggayam, Triyono Setyo Budi saat berkunjung ke tempat Wardoyo mengapresiasi petani milenial yang sudah menjadi motor penggerak pertanian di desanya. Apalagi dengan mengajak generasi muda lainnya untuk budidaya pepaya dan sayuran organik.

Hal ini menjadi angin segar bagi perkembangan dunia pertanian di Indonesia. Selain itu dapat mengurangi angka urbanisasi dari desa ke kota,” kata Triyono saat melaksanakan kunjungan/anjangsana pada Minggu (10/5).

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan, selalu mengatakan adanya musibah wabah Covid-19 ini tidak boleh membuat aktivitas pertanian berhenti. Kementan akan terus optimalkan SDM Pertanian untuk menggenjot produksi dan produktivitas, bahkan ekspor.

Pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menegaskan, bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya.

Dedi mengatakan,  Kementan terus mendorong hadirnya petani milenial yang diharapkan bisa turut mendongkrak produksi pertanian di Tanah Air dengan inovasi yang dilakukan. “Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru,” katanya.

 

Reporter : Sugeng Haryadi/Yeni (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018