Thursday, 06 August 2020


Keringkan Cabai, Cara Petani Magetan Siasati Harga Anjlok

17 May 2020, 08:57 WIBEditor : Yulianto

Petani mengeringkan cabai untuk menyiasati harga anjlok | Sumber Foto:Trisni

TABLOIDSINARTANI.COM, Magetan---Salah satu komoditas pertanian yang terimbas pandemi Covid-19 adalah cabai. Panen raya saat wabah Covid-19 membuat harga turun drastis. Tapi petani di Magetan, punya cara sendiri menyiasati harga anjlok.

Seperti yang dialami petani cabai di Desa Pingkuk, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Meski produksi rata-rata mencapai 7,1 ton/ha, tapi tingginya biaya produksi berbanding terbalik dengan harga cabai yang hanya Rp 3.000-4.000/kg.

Kadar, petani sekaligus pedagang di Desa Pingkuk mengatakan, dengan harga cabai tersebut, kerugian petani diperkirakan sebanyak Rp 55,74 juta/ha. Padahal menurutnya, biasanya menjelang lebaran harga cabai bisa mencapai Rp 20.000-25.000/kg. “Tapi menjelang Lebaran tahun 2020 harapan petani cabai pupus akibat pandemi Covid-19,” katanya.

Namun sebagai pejuang pangan, petani tidak patah semangat. Pahit getir menanam cabai telah dirasakan, senyuman tetap mereka berikan di tengah kehancuran harapan. Dalam kondisi seperti ini, Kadar melakukan pengolahan cabai dengan dikeringkan.

Kadar mengatakan, tujuan pengeringan ini untuk mengurangi kadar air cabai hingga batas tertentu, sehingga mikroba tidak dapat tumbuh. Dengan pengolahan cabai juga dapat meningkatkan nilai tambah, terutama saat panen raya dan harga anjlok.

“Pengeringan cabai juga memperpanjang daya simpan, serta mempermudah dalam penyimpanan, pengemasan dan transportasi,” ujarnya.

Sementara itu Trisni Setiyaningrum, penyuluh pertanian yang mendampingi petani di Desa Pingkuk Kecamatan Bendo mengatakan, olahan cabai akan memberikan nilai tambah saat harga jatuh. Cabai yang telah dipanen dikeringkan dengan dijemur kurang lebih 1-2 hari.

Cabai yang telah kering, kemudian dimasukkan ke karung dan disimpan, lalu untuk dijual saat harga cabai mulai membaik.  Dengan pengolahan cabai, petani di Desa Pingkuk Kecamatan Bendo tidak akan merugi terlalu besar.

Pertanian menjadi salah satu sektor yang sangat vital dan dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19. Seperti yang disampaikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL). “Walau dalam kondisi pandemi Covid-19, pertanian jangan berhenti, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan," kata Mentan SYL.

Sejalan dengan seruan Menteri Pertanian, secara terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi juga menganjurkan agar petani senantiasa membuat secara mandiri input produksinya.

“Masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya,” ujar Dedi.

Reporter : Trisni Setyaningrum/ Yeniarta (BBPP KETINDAN)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018