Monday, 10 August 2020


Dirjen Horti: Aksi Pedagang Sayur Malang Akibat Penerapan PSBB

17 May 2020, 19:08 WIBEditor : Yulianto

Petani sayur Malang membagikan sayuran ke pengguna jalan | Sumber Foto:Dok.Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna mencegah penyebaran virus Covid-19, berdampak krisis pada berbagai sektor dari kesehatan hingga ekonomi. Di Kota Malang Raya, penerapan PSBB yang mulai Minggu (17/5) diwarnai aksi buang dan bagikan gratis sayuran oleh petani dan pedagang .

Seperti diketahui, jagat maya dikejutkan aksi viral pedagang Desa Kedungrejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur  yang membuang produk sayuran yang semestinya dijual. Bukan hanya membuang, sebagian sayuran dibagikan gratis kepada pengguna jalan yang melintas. Aksi itu dilakukan lantaran sayuran tidak laku.

Jadi itu buang sayur karena pasarnya itu tutup di sana (Jawa Timur). Jadi mereka nggak bisa jual sayurannya, jadi terpaksa sayur mereka dibuang-buang," kata Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto.

Prihasto mengatakan, jika aksi buang sayur ke sungai maupun membagikan gratis ke pengguna jalan bukan karena harga panen sayur yang anjlok akibat panen melimpah dalam waktu bersamaan. "Kendala ini sudah diselesaikan. Jadi sekali lagi, itu karena pasarnya tutup karena lagi lockdown, ujar dia.

 

Video  yang merekam aksi pedagang membagikan sayuran beredar dan viral di beberapa platform media sosial, seperti twitter dan instagram terjadi di pasar sayur Kedungboto. Sudah sejak lama pasar itu menjadi sentra perdagangan komoditas sayuran, hasil dari pertanian warga sekitar. Tiap sore pasar tersebut ramai oleh aktivitas jual-beli sayuran.

Dalam video tersebut, tampak seorang pedagang berhelm biru dan berbaju hitam ikut membuang sayur sawi ke sungai. Selain itu, tampak pedagang lainnya berbaju ungu dan oranye serta bertopi cokelat ikut aksi buang sayur sawi ke sungai tersebut.

"Wis entek duwik e golek maneh, ajur-ajur. Rombonge sisan. Wis gak onok maneh, (sudah habis uangnya cari lagi, hancur-hancur, rombongnya juga, sudah tak ada lagi)" ucap salah seorang petani dalam video yang beredar. 

Melihat aksi pedagang dalam video tersebut, Prihasto mengatakan bahwa dampak dari PSBB salah satunya memang berkurangnya permintaan bahan pangan hasil petani karena banyak restoran atau usaha kuliner lainnya ditutup sementara. "Semoga pandemi ini segera berlalu, jadi aktivitas kita bisa berjalan normal kembal," katanya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018