Tuesday, 07 July 2020


Yuuk Budidaya Jahe Komersial di Pekarangan

28 May 2020, 17:33 WIBEditor : Ahmad Soim

Budidaya jahe di pekarangan | Sumber Foto:Dok

TABLOIDSINARTANI.COM - Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman rimpang yang biasa digunakan untuk bumbu masak dan jamu tradisional. Rasanya pedas dan hangat di badan. Jahe juga dapat untuk menjaga imunitas atau daya tahan tubuh untuk melindungi diri dari serangan penyakit, termasuk untuk menangkal serangan virus Corona 19.

 Sejak pandemi virus Corona 19, banyak orang mencari jahe. Harganyapun menjadi mahal, bahkan di pasar kota-kota besar sampai kosong atau kehabisan stok. Kondisi ini merupakan peluang bagi para petani dan masyarakat umum untuk melakukan budidaya jahe. Jahe dapat ditanam di pekarangan sekitar rumah.  

 Kelompok Wanita Tani (KWT) Cahaya Mas di Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, para anggotanya dapat meningkatkan pendapatan dari banyaknya orang membeli jahe yang ditanam di pekarangan.

 Orisa,  Penyuluh Pertanian Pembina  KWT Cahaya Mas dan KWT Hapakat Handep untuk mengembangkan tanaman jahe merah dan empon-empon lainnya di pekarangan masing-masing anggota yang sebelumnya sudah dilakukan tetapi tujuan semula hanya untuk mencukupi bumbu dapur sendiri saja.

 Jahe memiliki sifat antimuntah, anti peradangan, antimikroba, dan antirimetik. Keempat sifat tersebut  penting dalam menangkal dan mengobati virus jahat yang menjalar di dalam tubuh, termasuk virus Corona 19. Penderita terinfeksi virus Corona 19 memiliki gejala yang dapat dicegah dengan jahe, yaitu demam, batuk-batuk, pilek,dan sesak nafas.

 Cara mengkonsumsi jahe bisa diolah sebagai campuran minuman teh atau langsung direbus hingga mendidih sehingga kandungannya dapat larut dalam air. Setelah dingin, air rebusan jahe tersebut dapat langsung diminum agar bisa mendapatkan khasiatnya. Kalau ingin rasa yang lebih nikmat, air jahe bisa dicampurkan dengan susu atau madu.

  Penataan Tanaman di Pekarangan

 Pekarangan menurut luasnya dapat dibedakan menjadi 4 (empat) kategori, yaitu: (1) pekarangan sempit, mempunyai luas kurang dari 120 m2;; (2) pekarangan sedang, luasnya 120 - 400 m2;, (3) pekarangan luas berukuran 400 - 1.000 m2;; dan (4) pekarangan sangat luas, ukuranya lebih dari 1.000 m2;. Katagori pekarangan ini dapat digunakan untuk penataan tanaman di pekarangan.

 Di pekarangan sempit (luas kurang dari 120 m2;), dapat ditata dengan sistem verticulture  yaitu: (1) Tanaman pada halaman ditata secara vertikal (disusun keatas) agar menampung banyak tanaman jahe sehingga hasil panen persatuan luas dapat lebih banyak bahkan dapat berlipat ganda; dan (2) Tanaman pada bak-bak tanaman yang diatur bertangga (cascade planting).

 Pekarangan ukuran sedang (120 - 400 m2;), pekarangan luas (400 - 1.000 m2;), dan pekarangan sangat luas dengan ukuran lebih dari 1.000 m⊃2;, penataan tanaman sebagai berikut: halaman depan dengan tanaman buah-buahan dan tanaman jahe dapat ditanam pada halaman samping (kiri dan kanan) serta belakang, bisa ditanam langsung di tanah atau ditanam dalam polybag.

 Sebagai contoh 2 orang petani anggota Kelompok Tani Daya Kaleko di Desa Telang, Kecamatan Paju Epat Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, telah menanam jahe di polybag, masing-masing 100 polybag. Setelah jahe dipanen hasilnya  lumayan, setiap polybag bisa mencapai 1 kg. Melihat pasar yang menjanjikan saat ini, kelompok tani akan mengembangkan tanaman jahe merah di lahan-lahan yang belum dimanfaatkan kebetulan banyak ditemui di sekitar tempat tinggal mereka. Semoga terlaksana dan sukses.   

 Jenis Jenis Jahe

 Jahe dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: jahe emprit, jahe gajah, dan jahe merah. Jahe emprit juga disebut dengan jahe putih ini paling banyak dijual di pasar-pasar. Jahe ini bentuknya kecil dan sedikit pipih dengan serat lembut, dagingnya berwarna putih, dan  aroma kurang tajam tetapi rasanya pedas. Selain itu kandungan minyak atsiri yang tinggi, yaitu sekitar 1,7 – 3,8 persen dari berat kering. Minyak atsiri juga biasa dikenal dengan minyak esensial atau aromatik yang sangat mudah menguap. Jahe emprit ini paling sering digunakan sebagai penyedap masakan dan untuk jamu bentuk segar maupun kering.             

 Jahe gajah sering disebut jahe badak, berukuran besar dan gemuk, ruas rimpang menggembung dibanding jenis jahe lainnya. Warna dagingnya cenderung putih kekuningan dan kandungan minyak atsiri paling sedikit hanya sekitar 0,18 - 1,66 persen dari berat kering, maka rasanya kurang pedas dibandingkan dengan jahe emprit maupun jahe merah. Jahe gajah ini paling cocok digunakan untuk bahan utama pembuatan permen atau minuman karena dagingnya yang tebal. Banyak juga orang yang menggunakannya sebagai penyedap masakan.

 Sedangkan jahe merah mempunyai kulit rimpang berwarna merah sesuai namanya, ukuran lebih kecil dibanding dua jenis jahe lainnya, serat kasar. Kandungan minyak atsiri sangat tinggi, sekitar 2,58 – 3,90?ri berat kering, sehingga rasanya sangat pedas. Jahe merah ini cukup langka dan harganya lebih mahal disbanding dengan jahe emprit dan jahe gajah. Meskipu begitu, jahe merah tetap banyak dicari oleh para produsen (perusahaan), karena digunakan sebagai bahan utama pembuatan minyak jahe, obat-obatan, dan jamu tradisionil.

  Sehat dan Ramah Lingkungan

 Ketiga jenis jahe tersebut di atas dapat ditanam di pekarangan dan jika ingin produk jahe yang sehat dan ramah lingkungan, lakukan budidaya secara organik, yaitu proses produksi tanaman jahe dengan menggunakan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia/sintetis untuk pupuk, pestisida, herbisida, dan zat pengatur tumbuh. Proses budidaya jahe secara organik mulai dari pengolahan tanah, pemilihan serta perlakuan benih, penanaman benih, sampai perawatan tanaman (antara lain: pemupukan, penyiangan, serta pengendalian hama dan penyakit).

 Budidaya jahe dianjurkan secara organik ada beberapa alasan, yaitu pemakaian pupuk kimia berlebihan dapat mencemari hasil produksi jahe dan sangat berbahaya dikonsumsi oleh manusia, antara lain: 1) Zat timbal berbahaya pada anak, karena dapat merusak otak dan kerusakan ginal; 2) Zat merkuri dan siklidiena dapat menyebabkan kerusakan ginjal parah; 3) Organofosfat dan karmabat dapat menyebabkan gangguan saraf otot; dan 4) Pelarut yang mengandung klorin mengganggu pada hati dan ginjal serta penurunan sistem syaraf pusat dan jelas tingkat penyebab kematian tinggi.

 Sedangkan pemakaian pestisida kimia yang berlebihan pada budidaya jahe akan berakibat residu (endapan) pada produk jahe dan dapat juga kontaminasi pada air tanah. Jika jahe tersebut dikonsumsi, maka badan kita akan keracunan dan lama kelamaan akan terjadi akumulasi dalam tubuh kita yang selanjutnya akan berakibat timbul penyakit berbahaya, antara lain: diabetes, kanker, autisme dan gangguan perkembangan anak lainnya, obesitas, penyakit Parkinson, kemandulan; dan bayi lahir cacat.

 

 

 

Reporter : Susilo Astuti H - PP Pusluhtan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018