Wednesday, 23 September 2020


Polikultur, Solusi Keterbatasan Lahan Pengembangan Manggis

11 Jun 2020, 16:23 WIBEditor : Yulianto

Polikultur manggis-karet menjadi salah satu solusi mengatasi keterbatasan lahan | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Permasalah keterbatasan lahan yang dimiliki petani menjadi kendalan tersendiri dalam upaya peningkatan. Berbagai upaya telah dilakukan Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi permasalahan tersebut. Di antaranya memanfaatkan lahan kehutanan dan perkebunan dengan menggunakan sistem penanaman tumpangsari (polikultur).

Cara cerdas inilah yang dilakukan Amdi Suib di Nagari Muarobodi, Kecamatan IV Nagaring, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Amdi mengadopsi sistem tanam ganda atau polikultur. Melihat ada potensi lahan di hutan karet yang sudah tidak produktif, ia memulai pola tanam polikultur manggis dan karet pada tahun 2007 dengan luas lahan 4 hektar (ha).

Amdi mulai menanam manggis di sela-sela pohon karet tersebut dengan jarak antar tanaman manggis 10 x10 meter atau 10 x 8 meter dan jarak antara karet dan manggis sekitar 2 meter. Manggis yang ditanam adalah varietas Ratu Kamang, khas Sumatera Barat.

Setelah umur pohon manggis berusia 2,5 tahun, pohon karet di sekitar manggis mulai ditebangi. Rata-rata per tahun ia memanen hingga 3,5 ton dari 14 batang pohon manggis.  Sedangkan 10 batang yang lain belum menghasilkan. Sekali panen Amdi bisa mendapatkan keuntungan mencapai Rp 52 juta dengan harga jual 15 ribu/kg. Sedangkan hasil dari pohon karet hanya Rp 500-700 ribu/ minggu.

Amdi mengakui, penanaman manggis di sekitar pohon karet dapat mengurangi tingkat kematian pohon manggis yang baru, dibandingkan menanam manggis langsung di hamparan kosong. “Pohon karet berfungsi sebagai naungan, membuat intensitas cahaya matahari ke tanah turun, suhu turun, dan kelembapan terjaga," ungkapnya.

Selama ini Amdi mengaku telah melakukan pembinaan kepada petani muda Margodi yang kini mulai melakukan pola tanam yang sama di Desa Batu Sangkar. Saat ini tanaman manggisnya sudah berumur 1,5 tahun yang ditanam di kebun karet yang usia pohonnya sudah 15 tahun. Sudah ada 4 lokasi yang menerapkan polikultur dengan karet, 2 di Desa Muarobodi dan 2 di Desa Batu Sangkar.

"Selain polikultur dengan karet, manggis ditanam juga  dengan jeruk nipis maupun jeruk purut. Polikultur dengan jeruk juga bisa menguntungkan karena bisa mendapatkan hasil harian dari daun jeruk purut," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman mengatakan, lahan terbatas bukan menjadi kendala untuk melakukan pengembangan buah-buahan. Bahkan penanaman buah dengan sistem tumpangsari atau polikultur memiliki keuntungan.

Diantaranya, efisiensi lahan dan biaya produksi, panen dapat dilakukan secara berkala dan bisa meningkatkan produktivitas tanaman jika diterapkan dengan benar. Namun Liferdi mengingatkan, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah pemilihan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan.

Jangan sampai, menimbulkan masalah penyakit serta hama,” ujarnya. Terkadang lanjut Liferdi, hama bisa ditularkan dari tanaman jenis lainnya, selain itu juga berpotensi menularkan  penyakit. Di samping itu juga sering terjadi perebutan unsur hara antara satu tanaman dengan tanaman lainnya, tambahnya.

"Apa yang sudah dilakukan Pak Amdi di daerah Sijunjung tersebut bisa dijadikan contoh untuk petani lainnya. Apalagi tanaman buah yang dipilih adalah manggis, sangat menjanjikan untuk dibudidayakan, permintaan pasarnya terutama ekspor tak pernah surut dan harganya relatif stabil, tidak pernah merugikan petani,” tutur Liferdi.

Pentingnya Naungan

Liferdi menjelaskan, yang perlu diperhatikan dalam menanam manggis adalah pemberian naungan. Naungan pada tanaman manggis merupakan suatu keharusan. Kebutuhan naungan, terutama ketika tanaman masih di area perbibitan dan selama periode baru dipindah ke lapangan, sampai tanaman benar-benar mampu beradaptasi pada kondisi lapang yaitu sekitar 2 tahun.

Bahkan tanaman manggis muda yang ditanam pada lahan terbuka tanpa naungan menunjukkan pertumbuhan yang sangat lambat. Termasuk munculnya daun muda tidak serentak. “Titik tumbuh mati dan sulit untuk menghasilkan daun baru. Daun mengering dan terbakar Pada kondisi parah dan kurang air dapat mengakibatkan kematian," katanya.

Namun Liferdi juga mengingatkan, naungan yang terlalu rimbun atau kelebihan naungan juga tidak baik untuk tanaman manggis karena akan terjadi etiolasi. Kebutuhan naungan untuk tanaman yang baru ditanam dilapang sekitar 50-75 persen dan dapat dikurangi sejalan dengan peningkatan umur dan pertumbuhan tanaman. “Naungan harus diatur dengan penetrasi cahaya sekitar 50-75 persen,” ujarnya.

Karena itu Liferdi menilai, multiple cropping dengan tanaman karet yang kurang produktif lagi merupakan suatu terobosan baru. Pasalnya selama ini yang digunakan sebagai naungan tanaman manggis muda adalah pisang dan pepaya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018