Monday, 21 September 2020


NTP Buktikan Kesejahteraan Petani Hortikultura Membaik

09 Jun 2020, 14:11 WIBEditor : Yulianto

Senyum petani sayuran di Lembang | Sumber Foto:Dok. Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Nilai Tukar petani (NTP) Pertanian pada Triwulan I 2020 mencapai 103,29 atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 102,80. Bahkan NTP Hortikultura pada periode Triwulan I 2020 tercatat rata-rata 104,33 melampaui NTP pertanian secara umum.

Hal tersebut mengindikasikan kesejahteraan petani, khususnya hortikultura semakin membaik. Artinya, pendapatan petani hortikultura meningkat lebih besar dibanding pengeluarannya.

Indikator keberhasilan lainnya adalah terkendalinya pasokan dan harga bahan pangan pokok nasional di tengah badai pandemi Covid-19. Bahkan selama Puasa dan Lebaran tahun ini, nyaris tidak ada gejolak harga yang signifikan untuk berbagai komoditas pertanian seperti beras, daging ayam, telur, daging dan komoditas hortikultura lainnya. Tercatat komoditas hortikultura seperti cabai, bawang putih, hingga bawang bombai harganya stabil dan terjangkau oleh masyarakat.

Adanya penguatan harga bawang merah sejak April 2020 dinilai masih wajar dan terkendali. Nyatanya, kondisi tersebut tidak memicu gejolak di masyarakat, bahkan sebaliknya petani bawang merah bisa menikmati harga bagus. Setelah sebelumnya petani bawang merah mengalami kerugian yang cukup besar di akhir tahun 2019 lalu, karena harga bawang merah sempat menyentuh level Rp 3.000-5.000/kg.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian dibawah kepemimpinan Menteri Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus melakukan berbagai terobosan guna memantapkan ketersediaan pangan bagi 260 juta lebih rakyat Indonesia, sekaligus menyejahterakan petani.

Terlebih dalam situasi perubahan global yang begitu dinamis saat ini. Selama kurun waktu 6 bulan terakhir, berbagai indikator capaian kinerja sektor pertanian dinilai menunjukkan optimisme positif.

Lebih komprehensif

Muhammad Syafrudin, Anggota Komisi IV DPR-RI saat dihubungi di Jakarta, meminta semua pihak melihat persoalan pangan dan pertanian lebih komprehensif. Masalah pertanian ini sangat kompleks, tidak bisa dilihat sesaat atau parsial.

Waktu 6 bulan belum bisa untuk menjustifikasi posisi psikologis kinerja seorang Menteri atau kabinet. Kalaupun ada yang melihat kekurangan, tidak cukup dengan berdebat. Apalagi hanya untuk hal-hal yang dianggap masih kurang saja. Mari lebih fleksibel melihatnya," tegasnya.

Syafrudin mengapresiasi kerja keras Kementerian Pertanian menjaga pasokan pangan tetap survive di tengah situasi alam yang semakin tidak bisa diprediksi, termasuk pandemi Covid-19. Bahkan saat ini situasi seluruh sektor termasuk pertanian sedang menuju arah normal.

“Waktu Pak Menteri ke Bima, terlihat petani antusias dan senang menyambut karena harga bawang merah dan jagung sangat bagus. Ini perlu terus dipertahankan. Kalau dalam situasi tidak normal saja bisa, apalagi situasinya normal,” katanya.

Syafrudin optimis pemerintahan Jokowi bersama kabinetnya saat ini akan mampu menggiring Indonesia lebih sejahtera bagi semua stakeholder, termasuk petani dan nelayan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto menyebut harga komoditas hortikultura secara umum selama pandemi Covid-19, puasa dan lebaran relatif stabil. Harga bawang merah di pasar retail terpantau rata-rata Rp 50.000- 55.000/kg dan Rp 30.000-35.000/kg di tingkat petani.

Menurutnya, penguatan harga bawang merah terjadi karena tingginya permintaan saat Puasa dan Lebaran. Terlebih dengan adanya pembatasan sosial akibat Covid-19, ternyata justru mendorong peningkatan konsumsi dan stok rumah tangga. “Seiring dengan panen di berbagai sentra, pasokan dan harga bawang merah akan berangsur normal,” ungkap pria yang akrab dipanggil Anton di Jakarta, Senin (8/6).

Anton menegaskan, Kementan masih terus mendorong produksi bawang putih di dalam negeri meski untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masih harus mendatangkan impor. Kebutuhan bawang putih nasional sekitar 570.000 ton/tahun, sementara produksi lokal baru 88.000 ton/tahun.

"Suka tidak suka harus diisi oleh impor. Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 semua negara di dunia termasuk Indonesia harus mampu menjamin ketersediaan pangan bagi rakyatnya,“ terang Anton.

Sejak tahun 2017, Kementan telah menggelontorkan anggaran APBN untuk mendukung pengembangan bawang putih ke berbagai daerah termasuk Temanggung sebagai sentra terbesarnya. Anggaran tersebut meliputi bantuan sarana produksi, alat mesin pertanian hingga pemasaran.

Selain APBN, Kementan juga memfasilitasi penanaman melalui skema kemitraan dengan pelaku usaha penerima RIPH bawang putih. “Kedepan kita akan fokus pada peningkatan daya saing. Kuncinya ada 2 yaitu perbaikan size (ukuran) dan price (harga),” kata Anton.

Menyinggung pemberitaan tentang tingginya angka impor sayuran yang mencapai Rp 11 triliun lebih, Anton kembali menjelaskan, istilah impor sayuran adalah semata nomenklatur statistik yang mengacu data BPS.  Angka tersebut meliputi semua jenis sayuran segar dan olahan.

Sebagian besar impor itu didominasi sayuran asal negara subtropis seperti bawang putih, bawang bombai dan kentang olahan industri. Kalau produksi sayuran segar untuk konsumsi kita masih sangat aman bahkan bisa ekspor,” tuturnya.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018