Sunday, 24 January 2021


Alkesa, si Kuning Lonjong yang Kian Langka

30 Dec 2020, 21:54 WIBEditor : Yulianto

Pedagang buah alkesa | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bagi sebagian orang, terutama kaum milenial mungkin nama buah Alkesa tidak familiar.  Memang buah ini termasuk sangat langka di pasaran. Namun di Ibukota DKI Jakarta, terutama di pinggiran kota masih cukup banyak yang menjual.

Jika Anda tengah berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan, akan mendapati pedagang buah menjajakan Alkesa. Karena sangat langka, sehingga sulit menemukan pedagang yang menjualnya. Jika ingin mencobanya, para pedagang sekitar kawasan kebun binatang menjual dengan harga Rp 25 ribu/kg.

Adi (39 Tahun), salah seorang pedagang buah di kawasan Taman Margasatwa mengatakan, buah alkesa ini termasuk langka. Jika sedang musim menurut Adi, buah alkesa banyak ditemui di daerah Bogor.

“Sekarang lagi musim jadi banyak buahnya dan banyak juga peminatnya. Karena mereka tahu manfaatnya,” ujarnya saat ditemui Sinartani baru-baru ini. “Namanya buah ya musim- musiman. Kalau lagi ramai, ya ramai, tapi Alhamdulillaah saya setiap hari untuk jual alkesa bisa sampai 15 kg,” tambah Adi.

Adi mengungkapkan, biasanya yang membeli Alkesa mengonsumsi dengan membuat Jus. Buah ini juga cocok dikonsumsi untuk yang memiliki penyakit diabetes, karena bagus untuk mengontrol kadar gula dalam darah.

Adi mengakui, meskipun banyak manfaatnya, namun Alkesa ini termasuk sangat langka, sehingga hanya dikenal orang sebagai buah jadul. Karena itu ia berharap, ke depan akan ada yang membudidayakan buah jadul tersebut agar banyak orang makin mengenal Alkesa.

“Banyak tanaman buah yang hampir punah, tapi kaya manfaatnya. Nah sekarang kalau kita tanya sama anak-anak muda, apakah tahu buah ini? Pasti jawabnya tidak tahu,  karena memang buah ini sudah langka,” ungkapnya.

Buah. yang sudah ada dari jaman penjajahan Belanda ini semakin langka karena semakin sedikit daerah di Indonesia yang membudidayakan. Ditengah semakin langka Alkesa sebenarnya dapat menjadi peluang bagi petani muda untuk memulai budidaya, bahkan mempopulerkan Alkesa.

Buah Amerika Tengah

Orang banyak menyebut buah berwarna kuning bersih ini sebagai Kesah, Kanistel,  Sawo Walanda, Sawo Belanda, atau Sawo Ubi (Pouteria campechiana). Di negara asalnya, Amerika Tengah dan Meksiko Selatan sana, buah ini dikenal dengan nama Canistel, Egg Fruit atau Yellow Sapote.

Warnanya yang kuning dan sering tersisa menempel di gigi membuat secara kelakar disebut sebagai buah jigong (kotoran gigi). Buah ini sebenarnya berasal dari kota Campeche, Mexico. Namun ternyata banyak ditanam di wilayah pinggir Ibukota Jakarta.

Bentuk Alkesa lonjong, melengkung, ujungnyaa runcing mengerucut. Daging buahnya yang juga berwarna oranye sangat lembut dan ternyata rasanya manis. Buah ini sangat mirip dengan sawo, namun rasanya mirip seperti ubi cilembu. Tidak heran jika ada juga yang menyebut buah ini dengan Sawo Ubi atau Sawo Mentega. 

Sebanyak namanya, manfaat buah Alkesa ini rupanya tidak kalah beragam khasiat.  Hasil analisis kimia yang dilakukan di Kuba dan Filipina menunjukkan, buah yang matang mengandung nutrisi. Seperti serat, kalsium, fosfor, besi, karoten thiamin, riboflavin, niasin, Vitamin C. Adapun kandungan energi karena mengandung lemak, protein, karbohidrat yang tinggi. Bahkan di Meksiko dan Kuba, kulit buahnya biasa digunakan sebagai obat penurun panas.

Di negara lain, buah yang juga disebut Campoleh ini cocok dikonsumsi dengan garam, lada, sari jeruk, mayones. Lalu dijadikan selai untuk mengoles roti. Selain di makan langsung, alkesa kadang dimanfaatan sebagai bahan campuran milkshake, serta es krim.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018