Wednesday, 14 April 2021


Kebun Buah Naga di Kaki Gunung Seulawah yang Menakjubkan

05 Apr 2021, 16:14 WIBEditor : Ahmad Soim

Kebun Buah Naga di Kaki Gunung Seulawah | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Mengunjungi kebun Buah Naga di Balai Benih Hortikultura Tanaman Pangan dan Perkebunan (BBH-TPP) Unit Saree, Aceh dengan latar belakang Gunung Seulawah sungguh menakjubkan. Selain dapat menikmati pemandangan yang indah dan udaranya yang lumayan segar, kita juga disuguhi dengan tanaman langka.

Penulis bersama peneliti BPTP Aceh dan tim, dekan FP UNAYA dan juga pakar Proteksi Tanaman,  Prof Dr Rina Sriwati MSi dari FP Universitas Syiah Kuala (USK),  menghubungi Ka. BBH-TPP Saree, Ir Mahdi Milsa dan meminta waktu untuk wawancara. 

Memasuki areal kebun yang terletak di kaki gunung Seulawah tersebut, terhampar lahan seluas 45 hektar. Selain terdapat berbagai jenis tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura, juga ada bunga yang sangat indah yaitu bunga Ajisai sebutan orang orang Jepang. 

Menurut Prof Rina yang juga alumni Kyoto University Jepang, lahan ini sangat bagus untuk dikembangkan menjadi agroeduwisata, apalagi kalau tersedia bungalow untuk homestay  dan Cafe pasti akan lebih banyak pengunjung yang datang.

Mahdi menyebutkan bahwa kondisi kebun buah Naga saat ini mengalami kekeringan akibat kemarau dan jarang turun hujan, "padahal dulunya air di Saree banyak dan berlimpah bersumber dari mata air pegunungan", sebutnya. Untuk itu pihaknya terpaksa menggunakan air dari sumur untuk menyiram. Kebun buah Naga yang ditanam pada lahan seluas 2,5 hektar sebanyak 2500 batang hanya melibatkan dua tenaga kerja.

BACA JUGA:

"Agar buah Naga tetap tumbuh dan berkembang maka kami siram dengan pompa", lirihnya. 

Diakuinya selama menanam buah Naga sejak 3 tahun lalu, tidak pernah terserang hama penyakit, karena setiap usai panen kebunnya langsung dibersihkan.

"Selesai panen langsung dibersihkan dan dilakukan pengapuran dengan Dolomit", sambungnya. 

Untuk merawat tanaman buah Naga agar menuai hasil, kata dia harus sering dilakukan pemangkasan. Sedangkan pemupupukan yang diberikan selain pupuk hijau juga pupuk NPK dan SP36.

Saat ini karena keterbatasan anggaran, pihaknya terkadang menggunakan dana pribadi untuk merawat kebun. Sehingga kebun terlihat bersih dan terawat dengan baik. Namun yang paling penting untuk menjaga kelembaban dalam areal tanaman Naga diperlukan juga lampu. 

Produksi buah Naga dalam satu batangnya untuk satu kali masa panen bisa mencapai 100 kg, untuk setahun dapat dipanen tiga kali.

Harga yang dijual ke Mall Banda Aceh hanya Rp.25.000 per kilogram. Sementara untuk lingkungan sekitar  dijual lebih murah. Padahal di pasaran harga buah tersebut dipatok dengan label Rp.35.000.

"Walaupun telah ditanam 3 tahun lalu, namun Buah yang dihasilkan semua premium", timpalnya.

Dari hasil panen tersebut, bahkan mampu membeli sepeda motor untuk operasional pekerja.

Terkait dengan tenaga kerja dengan luas lahan tidak menjadi kendala, asal saja ada kemauan yang serius InshaAllah akan berhasil. 

Kebun tersebut selama ini telah dikunjungi mahasiswa praktek baik dari Universitas Teuku Umar Meulaboh, Unversitas Malikulsaleh, Lhokseumawe dan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh juga ada Universitas Al Muslim Bireuen serta Universitas Abulyatama Aceh Besar.

Dirinya juga membuka peluang jika ada dari universitas dan lembaga penelitian untuk bekerjasama. 

Kebun ini katanya, juga sudah pernah dikunjungi oleh isteri Gubernur Aceh Dr. Dyah Erti Idawati beberapa waktu lalu. Dan beliaupun kagum dan bangga, tidak menyangka di Saree ada kebun seluas 45 hektar. Jika tersedia anggaran dan dikelola dengan baik bisa jadikan kebun andalan.

Jika semua fasilitas telah memadai, Kedepan dia merencanakan akan memasang tarif masuk untuk sumber PAD/PNBP bagi daerah dan negara.

Nantinya tidak saja terbuka untuk pelajar dan mahasiswa bahkan juga untuk masyarakat umum.

Rencana saat panen bulan depan, pihaknya juga akan mengundang kembali ketua Tim Penggerak PKK Aceh.

Prof Rina menyarankan agar kebun buah Naga selain diberikan pupuk kimia, diharapkan juga ada pemberian pupuk organik atau kompos. 

Hal ini penting untuk menjaga daya tahan tanaman, karena lanjut Rina semakin lama suatu tanaman berproduksi maka semakin rentan  serangan hama dan penyakit. Unsur hara yang terus menerus digunakan tanpa dikembalikan lagi ke tanah maka ditahun ke 4 dan ke 5 tanaman akan menurun kesuburannya sehingga gampang terserang HPT. Solusi nutrisi untuk tanaman yang tepat adalah memberikan bahan organik.  

Melalui pupuk organik, tidak saja untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tanaman, namun juga berdampak pada kesehatan tanaman itu sendiri.

"Pemberian pupuk organik cair atau padat, merupakan suatu tindakan yang baik dalam mengembalikan unsur hara yang hilang akibat panen. Selain itu menjadikan tanah lebih sehat, dan tanamanpun kuat", imbuhnya.

 

 -+ 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018