Kamis, 14 November 2019


Penanganan Penyakit Cabai di Musim Penghujan

16 Jan 2019, 15:33 WIBEditor : Yul

Menyiasati tanam cabai saat musim hujan

TABLOIDSINARTANI.COM -- Cabai merah atau yang mempunyai nama latin Capsicum annum. merupakan komoditas hortikultura yang menjadi kebutuhan wajib untuk bumbu dapur di rumah tangga. Dibandingkan dengan komoditas sayuran lainnya, cabai termasuk dalam komoditas yang bernilai ekonomis tinggi. Karena harganya yang tinggi bahkan pada waktu tertentu dapat meroket pesat, tidak sedikit para ibu-ibu rumah tangga menyiasatinya dengan menanam sendiri. Penanamannya pun tidak membutuhkan lahan yang luas, dapat dilakukan di pekarangan rumah atau pot tanaman.

Memasuki awal tahun, curah hujan yang tinggi menyebabkan tanaman cabai rentan terserang Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Penyakit yang sering ditemui masyarakat atau petani cabai pada masa musim hujan diantaranya penyakit virus kuning, antraknosa dan lalat buah. Serangan hama dan penyakit ini tentunya merugikan karena mengganggu produktivitas tanaman.

Gejala serangan penyakit cabai yang muncul pun beragam. Untuk gejala serangan tulang daun yang menggulung serta berwarna kuning merupakan gejala serang virus kuning. Keberadaan penyakit ini tentu sangat merugikan karena dapat mengurangi produksi cabai.

Pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya, pertama, penanaman varietas tahan seperti hotchillli. Kedua, melakukan sanitasi lingkungan terutama tanaman inang seperti ciplukan, terong, gulma bunga kancing. Ketiga, pemupukan tambahan untuk meningkatkan daya tahan tanaman sehingga tanaman tetap berproduksi walaupun terserang virus kuning. Keempat, penggunaan mulsa plastik. Kelima, penanaman tanaman pembatas seperti jagung.

Untuk gejala buah cabai yang membusuk baik itu yang masih muda ataupun sudah matang merupakan gejala serangan lalat buah atau bisa juga terkena penyakit busuk buah antraknosa. Serangan berat lalat buah terjadi pada musim hujan karena bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi oleh cendawan sehingga cabai yang terserang menjadi busuk.

Pengendalian yang dapat dilakukan, pertama, pemusnahan cabai terserang agar tidak menyebar ke cabai yang sehat. Kedua, melakukan rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup OPT. Ketiga, memasang perangkap lalat buah sederhana dengan araktan metil eugenol (ME). Keempat, pengendalian secara kimiawi juga dapat dilakukan apabila dirasa cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. Pestisida yang digunakan harus efektif, terdaftar dan sesuai anjuran.

Gejala serang busuk buah antraknosa juga tidak jauh berbeda. Pencegahannya dapat dilakukan dengan membersihkan lahan dan tanaman yang terserag agar tidak menyebar serta melakukan seleksi benih atau menggunakan benih cabai yang tahan penyakit ini. Hal tersebut karena penyakit buah antraknosa termasuk patogen tular benih.

Berdasarkan keterangan Balitbang Kementan, OPT penting yang menyerang tanaman cabai antara lain kutu kebul, trips, kutu daun, ulat grayak, ulat tomat, lalat buah, antraknosa, penyakit layu, virus kuning. Pengendalian OPT dilakukan bergantung pada OPT yang menyerang.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain. Pertama, penggunaan pestisida nabati. Kedua, penggunaan pestisida kimia sesuai kebutuhan dengan dosis yang direkomendasikan, pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar, baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya. Ketiga, penggunaan border 4-6 baris jagung. Keempat, pemanfaatan musuh alami. Kelima, penggunaan perangkap (kuning, metil eugenol).

Balitbang juga menyarankan untuk pemberian mulsa baik itu mulsa jerami atau mulsa plastik hitam perak. Mulsa jerami setebal 5 cm yang dapat diaplikasikan pada 2 MST. Mulsa plastik hitam perak dapat digunakan di dataran tinggi pada musim kemarau maupun musim hujan.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018