Jumat, 22 Februari 2019


Mampu Gaet Durian Mania Internasional, Durian Lokal Semakin Bersaing

08 Peb 2019, 17:57 WIBEditor : Gesha

Durian Lokal Indonesia kian mampu bersaing dan diminati pecinta durian mania Internasional | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Mojokerto --- Kementerian Pertanian (Kementan) optimis durian lokal mampu bersaing dengan durian negara lainnya di pasar ekspor. 

”Durian lokal sudah tembus ke pasar manca negara seperti Hongkong, China, Malaysia, Vietnam, Timur Tengah dan lainnya. Bahkan ekspornya semakin meningkat,” ungkap Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi dalam acara panen dan pesta durian di Trawas, Mojokerto, Jumat (8/2). 

Bahkan berdasarkan data BPS, di tahun 2017 neraca perdagangan durian defisit, maka baru 2018 Indonesia sudah surplus 700 ton.

Ini membuktikan ekspornya jauh lebih banyak dari pada impor.

Bahkan dalam waktu dekat, durian lokal Indonesia akan memasuki pasar Taiwan. Seperti yang diungkapkan Director General Taipei Economic and Trade Office dari Taiwan, Benson D.S. Lin menuturkan dirinya tengah menjajaki kerjasama bisnis buah dan sayuran dengan Indonesia, termasuk durian.

Tak hanya itu, pesta durian lokal kini banyak diadakan di dalam negeri. Penghobinya pun tidak hanya dari dalam negeri, melainkan durian mania internasional.

Seperti yang digelar oleh pecinta durian yang tergabung dalam Yayasan Durian Nusantara yang berlangsung pada tanggal 7 - 8 Februari 2019 di Mojokerto, Jawa Timur.

Anggota yayasan ini terdiri dari pecinta durian yang memiliki kebun durian dari berbagai provinsi, yakni hadir dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali bahkan ada dari Taiwan dan Anthoine pehobi durian dari Perancis.

Tak hanya itu, mereka juga berkumpul guna membahas upaya-upaya mengembangkan buah durian lokal yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Berbagai jenis durian lokal antara lain durian Bido, Matahari, D 168, Bawor, Pelangi, Srombut, Petruk, Pelangi, Madu Racun, Bangau dan jenis lainnya.

“Kami harapkan, melalui acara ini, para durian mania yang tergabung di Yayasan Durian Nusantara dapat mengelola durian lokal dengan baik sehingga berkelas dan bersaing dengan durian negara lain,” ujarnya.

Kelola Agrowisata

Lebih lanjut Suwandi menjelaskan langkah nyata dalam mengelola durian lokal agar kualitasnya bersaing dengan durian negara lain yakni di setiap daerah harus memiliki durian khas setempat sebagai ikon dan dikelola secara profesional.

Daerah harus membangun kebun durian percontohan dan mampu memasok ke supermarket maupun ekspor.

“Contohnya kebun durian bisa dikemas secara rapih dan dapat dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata seperti yang sukses di Warso Farm Cijeruk Bogor dan salah satu anggota Yayasan Durian Nusantara, Pak Tirto Santoso memiliki kebun durian 10 hektar di Trawas,” jelasnya.

Suwandi juga berharap agar  Yayasan Durian Nusantara terus meningkatkan kinerjanya dan menjadi barometer bagi perkembangan durian nusantara.

"Berbagai pengalaman yang dimiliki anggota yayasan ini disebarluaskan ke masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Direktur Yayasan Durian Nusantara Muhamad Reza Tirtawinata mengatakan Indonesia memiliki potensi durian lokal yang luar biasa, sedikitnya ada 13 jenis,

Diantaranya yang favorit adalah durian Pelangi dari Manokwari, Super Tembaga dari Bangka, Srombut, Tembaga Mini dan Tigger Borneo 88 dari Kalbar, Sunrise of jawa durian merah dari Banyuwangi, Matahari dari Bogor, Gundulan dan Sipakem dari Narmada, NTB

Reza mengatakan ada beberapa tipe pemgelolaan diantaranya dikelola karena hobby, keperluan riset, maupun komersial baik skala kecil maupun estate/orchad.

Sebagai ilustrasi untuk analisis pola top working pohon durian bagi 100 pohon pada lahan satu hektar, dimana pada tahun 1-2 tanaman vegetatif belum menghasikan,

Sedangkan tahun ketiga sudah menghasilkan 10 kg perpohon senilai Rp 40 juta pertahun, selanjutnya tiap meningkat pada tahun kelima 80 kg perpohon senilai 320 juta dan tahun kedelapan sudah menghasilkan Rp 800 juta.

Bila Thailand dikenal durian Chanee, Montong dan Kan Yao, Malaysia dikenal durian D24, Musangking dan ke depan favorit Ochee.

"Maka Indonesia favorit dengan durian Petruk, Matahari dan kedepan favorit durian Pelangi," ujarnya.

Sementara pekebun 10 hektar di Desa Belik, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, Tirto Santoso mengatakan dirinya mengembangkan berbagai durian lokal dan Montong sejak 20 tahun yang lalu pada lahan ketinggian 650 m dpl.

"Kami juga tanam jenis Musangking, Ochee dan D24 sudah berumur 6 tahun, hasilnya bagus dan terserap oleh pasar dan mitra kami. Harga pun kompetitif kelas supermarket. Misal Ochee Rp 300 ribu perkg, Musangking Rp 200 ribu perkg dan Matahari Rp 90 ribu perkg, " jelas Tirto.

Pemerhati durian nusantara dari Jayapura Karim Aristides mengatakan dirinya sangat senang sekarang banyak tumbuh kebun kebun durian lokal, ada di Kalbar, Kaltim, Kaltara, Babel, Lampung, dan lainnya.

Sedangkan penikmat durian Perancis dan sekaligus Chief International, Anthoine mengatakan  dirinya sewaktu di Thailand tidak suka durian.

"Namun setelah berada di Indonesia saya sekarang suka durian lokal, karena rasanya lebih beraroma kuat," tukasnya.

Reporter : Abiyadun
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018