
Ilustrasi Hewan Kurban
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di balik nilai spiritual Ibadah Kurban, tersimpan sejumlah peluang ekonomi sangat besar: perputaran ekonomi rakyat, penguatan peternakan nasional, peningkatan konsumsi protein masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja.
Pada Idul Adha 2025, Kementerian Pertanian mencatat ketersediaan hewan kurban nasional mencapai 3,21 juta ekor, sedangkan kebutuhan sekitar 2,07 juta ekor. Terdapat surplus sekitar 1,14 juta ekor. Studi lembaga IDEAS memperkirakan potensi ekonomi kurban tahun 2024 mencapai sekitar Rp28,2 triliun, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sekitar Rp24,5 triliun. Rumah tangga yang berpotensi berkurban diperkirakan mencapai 2,16 juta rumah tangga. Semua ini merupakan peluang ekonomi yang sangat menjanjikan.
Kurban merupakan salah satu “Pasar Ekonomi Rakyat” terbesar di Indonesia. Uang dari masyarakat perkotaan mengalir ke desa-desa melalui pembelian hewan kurban dan melibatkan kegiatan peternak, pedagang pakan, sopir angkutan ternak, tenaga kandang, jagal, dokter hewan hingga UMKM pengolahan pangan.
Kurban juga memiliki fungsi sosial yang sangat penting karena membantu masyarakat miskin memperoleh akses protein hewani. Jika distribusi dilakukan lebih baik, disertai teknologi pendinginan dan pengolahan modern, maka manfaat sosialnya akan jauh lebih besar.
Peternakan sapi, kerbau dan kambing nasional masih menghadapi banyak tantangan karena kualitas bibit belum merata, skala usaha kecil, efisiensi pakan rendah, teknologi kandang tradisional, dan akses pembiayaan terbatas, sementara kebutuhan daging nasional terus meningkat. Momentum kurban dapat menjadi penggerak transformasi menuju peternakan modern berbasis teknologi, smart farming, artificial insemination, hingga pemasaran daring. Industri peternakan modern menyimpan peluang besar bagi anak muda.
Kurban dapat menjadi pintu masuk lahirnya petani dan peternak milenial memasuki industri pangan modern berbasis teknologi, data, dan pasar yang jelas. Saat inilah dana masyarakat kota mengalir ke desa-desa sentra peternakan yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Potensi yang sering dilupakan adalah pembangunan sistem pertanian sirkular atau zero waste agriculture. Dalam sistem ini, hampir tidak ada limbah yang terbuang. Kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk organik dan biogas sedangkan limbah pertanian seperti jerami, tongkol jagung, dedak, dan limbah agroindustri dapat dijadikan pakan ternak. Urin ternak dapat diolah menjadi pupuk cair organik. Sisa pemotongan ternak dapat dimanfaatkan untuk industri kulit, pakan ikan, hingga energi. Model seperti ini mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga lingkungan. Integrasi tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan harus menjadi arah pembangunan pertanian nasional.
Kurban jangan dipandang sebagai kegiatan tahunan yang sifatnya temporer, tetapi harus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi berbasis ternak sepanjang tahun. Bukankah peternak sudah memelihara dan menyiapkan hewan kurban berbulan-bulan sebelum Hari Raya Idul Adha?
Ritual kurban mengajarkan nilai pengorbanan dan solidaritas sosial. Dalam konteks pembangunan bangsa, kurban juga dapat menjadi energi besar untuk memperkuat ekonomi desa, meningkatkan konsumsi gizi masyarakat, menarik generasi muda ke sektor pertanian, serta membangun sistem pertanian modern yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.