Sunday, 09 May 2021


Aplikasi Smart Farming 4.0 untuk Petani Kecil yang Raih Penghargaan di Jerman

21 Apr 2021, 14:19 WIBEditor : Ahmad Soim

Aplikasi smart farming 4.0 untuk petani | Sumber Foto:Dok MSMB

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Dosen FakultasTeknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta DR Bayu Dwi Apri Nugroho berhasil mengembangkan aplikasi smart Farming 4.0 yang praktis dan aplikatif untuk petani di bidang cuaca, lahan dan pemupukan tanaman secara persisi.

Lewat aplikasi sensor cuaca dan tanah itu, startup yang didirikan Bayu Nugroho dapat membantu petani menghadapi perubahan iklim dalam pengelolaan tanaman. Ia pun meraih Hermes Startup Award senilai 10.000 euro pada tahun 2020. Hadiahnya dianugerahkan tahun ini.

“Kalau alatnya kalah canggih dengan yang dibuat dari Israel, namun aplikasi yang kita buat ini unggul karena aplikatif,” jelas Bayu Dwi Nugroho kepada Sinar Tani, Selasa (20/04/2021). Malaysia, India lanjut Bayu tertarik untuk membeli aplikasi yang dibuatnya.

BACA JUGA:

Sensor ditanam untuk mengambil data real time di lokasi sawah. Sensor ini berperan sebagai alat pengumpul data, mulai dari data cuaca, hujan, suhu, kelembaban, kekuatan angin dan arah mata angin.

 Dari data tersebut, Bayu mengembangkan algoritma yang dapat membantu menerjemahkan data menjadi informasi yang mudah dipahami oleh petani. "Hasil algoritma tadi dikaitkan dengan pertumbuhan komoditas yang sedang ditanam oleh petani," ungkap Dosen yang juga pendiri startup PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) itu.

Petani bisa secara bebas mengunduh aplikasi yang dikembangkan dosen UGM ini. Agar aplikasi ini bisa berfungsi maksimal maka petani perlu memasang sensor di lahan sawahnya. “Selain itu, kami wawancara petani tentang kebiasaan mereka budidaya tanamannya, memupuknya, jenis dan dosisnya, cara menangani hama dan penyakit. Data hasil wawancara ini kita masukkan ke sistem aplikasi dan digabung dengan data sensor, maka keluar notifikasi dan rekomendasi untuk petani," katanya.

Pujiono petani sayuran di Malang Jawa Timur, dalam FGD Rasionalisasi Aplikasi Pupuk dengan Teknologi Ramah Lingkungan dan 4.0 mengatakan dengan alat ini dia bisa menghemat biaya pupuk sampai 50 persen, dengan hasil produksi bawang merah yang lebih baik.  

 

--+

 

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018