Monday, 23 May 2022


Budidaya Maggot, Tekan Sampah Organik Masyarakat Kota Bogor

19 Jan 2022, 12:12 WIBEditor : Gesha

Suasana budidaya di TPS 3R Paledang | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Sampah menjadi permasalahan krusial bagi perkotaan, seperti yang kini dialami oleh Kota Hujan, Bogor. Namun dengan adanya budidaya maggot, sampah organik yang khususnya dihasilkan rumah tangga dan restoran bisa ditekan semaksimal mungkin. 

Kota Bogor kini telah menjelma menjadi Kota Metropolitan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakatnya. Wilayah dengan 6 kecamatan dan 68 kelurahan ini memiliki jumlah penduduk mencapai 1.096.828 jiwa. Jumlah ini tentunya menghasilkan sampah hasil konsumsi yang tidak sedikit. 

"Setiap harinya, Kota Bogor menghasilkan sekitar 600 ton per hari dengan 60 persen sampah organik dan 40 persen sampah anorganik. Setiap hari 135 armada truk mengangkut sampah-sampah dari sekolah, rumah tangga, rumah makan/restoran, kantor hingga tempat wisata," ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Feby Darmawan dalam webinar "Maggot : Peluang Bisnis Masa Depan" yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (19/01).

Baca Juga : Maggot, Emas dari Sampah

Biasanya masyarakat membuang sampah langsung ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan diangkut oleh Dinas LHK ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Sumber sampah tersebut ada yang terpilah dan tak terpilah yang kemudian diangkut oleh gerobak/motor sampah bahkan truk sampah untuk dibawa ke TPS maupun TPS 3R yang memiliki teknologi mesin pencacah sampah dan pengayak kompos. "Dari sini residunya baru diangkut ke TPA. Dari TPS 3R juga menghasilkan kompos," sebutnya.

Diakui Feby, kebiasaan memilah sampah memang harus dilakukan oleh masyarakat. Namun itu semua kembali pada pilihan masyarakat. Sebab jika tidak terpilah, 100 persen residu dihasilkan dari sampah. Sedangkan pada sampah terpilah hanya ada 20 persen residu saja yang masuk ke TPA. Kabid ini menjelaskan jika sampah tidak terpilah, bisa menimbulkan banyak permasalahan. Mulai dari penyebab banjir, longsor tumpukan sampah, sumber penyakit bahkan terjadi pencemaran lingkungan.

Ada beberapa cara pengelolaan sampah yaitu dengan pemilahan sampah tuntas di sumber.  Dimana nantinya sampah organik bisa diolah lanjut menjadi komposter cair, komposter padat, maggot maupun bahan biopori. Sedangkan anorganik seperti plastik bisa masuk bank sampah untuk diolah agar memiliki nilai tambah atau didaur ulang. Untuk residu, baru dibuang ke TPA. "Sampah domestik (rumah tangga) seperti sayur, buah, aneka daun bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot," tuturnya.

Karena itu, di tahun 2017, Pemkot Bogor sudah mulai mencoba pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot. TPS 3R Dinas LHK dilakukan ujicoba untuk menghasilkan budidaya maggot dari sampah organik yang dikumpulkan dari beberapa restoran dan rumah tangga sekitar. 

"Kurang lebih sampah organik tiap hari 300-500 kg sampah organik masuk ke TPS 3R Paledang. Januari -Desember bisa mereduksi hingga tersisa 15-10 persen sisa sampah residu yang masuk ke TPA. Rata-rata per hari 50 gram-300 gram telur maggot yang dihasilkan dalam satu siklus," tuturnya.

Baca Juga : Lima Alasan Budidaya Maggot

Adapun maggot yang dihasilkan Dinas LHK dari TPS 3R Paledang, paling tinggi di bulan Desember 2021 mencapai 1032 kg maggot. Diakui Feby, mulai pertengahan tahun 2021 (Juli-Desember) mengalami kenaikan produksi seiring dengan naiknya sampah organik yang dihasilkan masyarakat. "Saat PPKM kemarin ada kenaikan sampah, sampai 30 persen. Kenaikannya dari sampah rumah tangga," tuturnya.

Solusi Jitu

Untuk menggeluti budidaya maggot, Feby menegaskan perlu adanya konsistensi dari pelaku budidaya. Mulai dari teknis budidaya hingga manajemennya. Sehingga budidaya maggot bisa menjadi solusi jitu menyelesaikan sampah organik di perkotaan. "Dengan adanya budidaya maggot, diharapkan bisa mendorong pengurangan sampah organik yang dikirimkan ke TPA. Kalau tidak diurai dari sumbernya, TPA bisa dipastikan penuh dengan sampah dari masyarakat," tuturnya. 

Diakui Feby, maggot bisa menggunakan lahan terbatas dan menggunakan media tanam bahkan low cost untuk bisa dilakukan di tingkat RT, RW bahkan rumah tangga. Sehingga bisa membentuk prototipe sederhana untuk mengurai/mengurangi sampah organik di skala lingkungan RT RW. Pola pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini menjadi pemberdayaan yang mandiri dan berkelanjutan. 

Baca Juga : Begini Cara Budidaya Maggot untuk Pemula

Hasil panen maggotnya bisa menjadi pakan alternatif bagi ternak, maupun kasgot sebagai pupuk kompos yang relatif lebih singkat daripada kompos konvensional. "Bagi masyarakat Kota Bogor yang ingin belajar budidaya maggot, bisa datang ke TPS 3R Paledang milik Dinas LHK Kota Bogor dan akan kami fasilitasi dengan telur maggot untuk bisa dikembangkan sendiri," tuturnya.

Karena itu, untuk pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot perlu kerjasama yang apik antar pihak. Mulai dari tingkat RT-RW, Kelurahan, Kecamatan hingga Kabupaten/Kota. "Dari TPS 3R yang ada di Kota Bogor, baru 10 persennya saja yang mengelola budidaya maggot," jelasnya.

Karena itu, yuk kita mulai dengan memilah sampah, membudidayakan maggot untuk mengurai sampah organik dan dapatkan hasil yang menguntungkan dari maggot seperti pupuk organik, maggot kering dan lainnya. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018