Sunday, 18 October 2026


Riset Top-Down Jadi Andalan, BRIN Targetkan Inovasi Langsung Berdampak ke Ekonomi

14 Jan 2026, 14:55 WIBEditor : Gesha

BRIN menjadikan riset top-down sebagai andalan baru agar inovasi tak berhenti di laboratorium. Targetnya jelas: hasil riset cepat diterapkan, mendorong industri, dan berdampak nyata bagi ekonomi nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- BRIN menjadikan riset top-down sebagai andalan baru agar inovasi tak berhenti di laboratorium. Targetnya jelas: hasil riset cepat diterapkan, mendorong industri, dan berdampak nyata bagi ekonomi nasional.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan arah baru kebijakan riset nasional dengan mengedepankan pendekatan top-down guna memastikan hasil riset memberikan dampak nyata bagi pembangunan dan perekonomian Indonesia. Kebijakan ini dinilai krusial agar riset tidak berhenti pada tataran akademik, melainkan berujung pada pemanfaatan konkret di sektor industri dan masyarakat.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pendekatan tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menempatkan riset sebagai instrumen strategis pembangunan nasional. Presiden, kata dia, meminta agar riset mampu menjawab kebutuhan prioritas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung.

“Presiden menekankan bahwa riset tidak boleh hanya menambah pengetahuan, tetapi harus berdampak langsung pada ekonomi. Karena itu, percepatan hilirisasi riset menjadi sebuah keniscayaan,” ujar Arif dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Arif menjelaskan, melalui pendekatan top-down, BRIN memprioritaskan riset yang berasal dari kebutuhan kementerian dan lembaga serta proyek strategis nasional. Riset semacam ini tidak dikompetisikan karena bersifat mendesak dan ditujukan untuk menjawab persoalan konkret yang dihadapi negara.

Menurut dia, fokus utama kebijakan tersebut adalah riset terapan dengan tingkat kesiapan penerapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) yang tinggi. Selain itu, BRIN juga menargetkan waktu penyelesaian riset yang lebih singkat agar hasilnya dapat segera dimanfaatkan oleh industri maupun masyarakat.

“Dengan dukungan pendanaan dari LPDP, riset yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun kami dorong agar bisa diselesaikan lebih cepat. Harapannya, hasil riset bisa segera dirasakan dampaknya,” kata Arif.

Ia menambahkan, percepatan riset tidak hanya bertujuan mengejar target waktu, tetapi juga memastikan kualitas dan relevansi hasil riset tetap terjaga. BRIN, kata dia, terus melakukan pengawasan dan evaluasi agar riset yang dijalankan benar-benar selaras dengan kebutuhan pembangunan nasional.

Selain riset terapan, BRIN juga mengembangkan riset berbasis future technology forecast. Pendekatan ini digunakan untuk memetakan arah perkembangan teknologi global di masa depan sehingga industrialisasi nasional dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi.

“Jangan sampai investasi industri kita sudah berjalan, tetapi teknologi yang digunakan justru tertinggal. Riset hari ini harus mampu memandu industrialisasi masa depan,” ujarnya.

Dalam peta kebijakan riset strategis nasional, BRIN menetapkan tiga jalur utama. Jalur pertama adalah pemanfaatan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jalur ini diarahkan agar UMKM mampu naik kelas melalui dukungan teknologi dan inovasi hasil riset dalam negeri.

Jalur kedua difokuskan pada penguatan industri dan UMKM strategis berbasis teknologi menengah hingga tinggi. Melalui jalur ini, BRIN mendorong penguasaan teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu menjadi produsen dan pengembang teknologi.

Sementara jalur ketiga adalah pengembangan bersama atau co-development, termasuk melalui skema reverse engineering. Strategi ini dinilai penting untuk memastikan alih teknologi benar-benar terjadi dan dapat dikuasai oleh sumber daya nasional.

“Kita tidak ingin investasi asing masuk, tetapi teknologinya tidak pernah kita kuasai. Itu bukan strategi yang berkelanjutan,” tegas Arif.

Untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, BRIN juga tengah menyiapkan Rumah Inovasi Indonesia. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara periset, pelaku industri, investor, dan pemerintah. Melalui Rumah Inovasi Indonesia, BRIN menargetkan percepatan hilirisasi riset melalui pengelolaan kekayaan intelektual, inkubasi teknologi dan bisnis, hingga business matching dan pelibatan modal ventura.

Selain itu, model Rumah Inovasi Indonesia akan direplikasi di daerah melalui penguatan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida). Langkah ini bertujuan membangun ekosistem riset dan inovasi berbasis kebutuhan lokal serta mendukung perumusan kebijakan berbasis sains.

Di sisi penguatan sumber daya manusia, BRIN bersama LPDP juga menjalankan berbagai program pengembangan talenta riset nasional, seperti doctoral research, post-doctoral researcher, dan program talenta nasional lainnya.

Arif menegaskan BRIN berkomitmen menjadikan riset sebagai penggerak utama kedaulatan ekonomi nasional, ketahanan bangsa, serta pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Menurut dia, riset yang berdampak dan terintegrasi dengan kebutuhan pembangunan menjadi kunci agar inovasi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018