
BMKG memprediksi fenomena El Nino muncul pada semester II 2026. Sektor pertanian diminta siaga menghadapi potensi kemarau lebih kering dan berkepanjangan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- BMKG memprediksi fenomena El Nino muncul pada semester II 2026. Sektor pertanian diminta siaga menghadapi potensi kemarau lebih kering dan berkepanjangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berpeluang muncul pada semester kedua tahun 2026 dengan intensitas lemah hingga moderat.
Kondisi ini diperkirakan akan memperkuat karakter musim kemarau yang sudah lebih dulu datang lebih awal, lebih kering, dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, mengatakan bahwa dinamika iklim global saat ini masih berada dalam fase netral setelah La Nina berakhir pada Februari 2026.
Namun, sejumlah model iklim menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang dapat memicu El Nino mulai pertengahan tahun.
“Peluang El Nino pada semester kedua 2026 berada di kisaran 50 sampai 60 persen dengan kategori lemah hingga moderat. Ini perlu diantisipasi karena dapat memperparah kondisi musim kemarau,” ujarnya dalam Forum Diskusi #1 Perhimpi yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).
Awal Musim Kemarau
BMKG mencatat bahwa musim kemarau tahun ini tidak datang secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.
Awal musim kemarau terjadi bertahap sejak April hingga Juni 2026, dengan puncak dominasi awal musim terjadi pada Mei.
Sebanyak 46,5 persen zona musim atau sekitar 325 wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih awal dibandingkan kondisi normal.
Sementara 24,7% wilayah mengalami waktu yang sama dengan normal, dan hanya 10,3% yang mengalami kemunduran musim kemarau.
Wilayah yang lebih dulu memasuki musim kemarau sejak April antara lain Jawa Barat bagian utara, pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian besar Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga sebagian Sulawesi Selatan.
Adapun wilayah lain seperti Sumatera bagian tengah, Jawa, Kalimantan, hingga Papua akan mulai masuk musim kemarau pada Mei hingga Juni.
Tidak hanya datang lebih awal, BMKG juga memprediksi karakter musim kemarau 2026 akan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Sebanyak 64,5 persen zona musim diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal.
Wilayah yang terdampak kondisi kering meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Selain itu, durasi musim kemarau juga diprediksi lebih panjang di 57,2 persen wilayah Indonesia.
Kondisi ini meningkatkan potensi kekeringan, terutama di daerah yang bergantung pada curah hujan untuk sektor pertanian dan sumber air.
“Ini yang perlu menjadi perhatian bersama, karena durasi yang lebih panjang berarti tekanan terhadap ketersediaan air akan semakin besar,” kata Fachri.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Sebagian wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli dan September.
Wilayah yang mencapai puncak kemarau pada Agustus mencakup sebagian besar Jawa, Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku dan Papua.
Sementara itu, beberapa wilayah seperti Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian utara diprediksi mencapai puncak lebih awal pada Juli.
El Nino Perkuat Kemarau
BMKG menegaskan, musim kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena yang berbeda dan tidak saling bergantung secara langsung.
Musim kemarau adalah siklus tahunan, sedangkan El Nino merupakan fenomena global yang terjadi akibat pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik.
Namun, kehadiran El Nino dapat memperkuat dampak musim kemarau, terutama dalam menurunkan curah hujan dan memperpanjang periode kering.
Dalam kondisi El Nino, wilayah Indonesia umumnya mengalami defisit hujan yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan pada sektor pertanian.
“Perlu dipahami bahwa kemarau tetap terjadi setiap tahun. Namun, jika bertepatan dengan El Nino, maka tingkat kekeringannya bisa lebih tinggi,” jelas Fachri.
Berdasarkan pemantauan BMKG, indeks anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 masih berada pada kondisi netral pada Maret 2026.
Namun, tren pemanasan mulai terlihat dan diproyeksikan meningkat secara bertahap.
BMKG mencatat bahwa April–Mei–Juni 2026 Indonesia masih dalam kondisi netral, sedangkan Mei–Juni–Juli mulai masuk El Nino lemah, sedangkan Juli–Agustus–September meningkat menjadi moderat dan pada Oktober–November kembali melemah
Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga diprediksi tetap netral hingga pertengahan tahun sebelum berpotensi menjadi positif pada semester kedua.
Kondisi IOD positif biasanya turut mengurangi curah hujan di Indonesia.
Dampak Global dan Regional
Secara global, El Nino memiliki dampak yang berbeda di setiap wilayah.
Di Indonesia dan Asia Tenggara, fenomena ini umumnya menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan peningkatan risiko kebakaran hutan.
Di Australia, El Nino sering dikaitkan dengan kekeringan ekstrem.
Sementara di Amerika Latin, terutama Peru dan Ekuador, justru meningkatkan curah hujan ekstrem yang berpotensi menimbulkan banjir dan longsor.
Sektor Pertanian
BMKG secara khusus mengingatkan sektor pertanian untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi musim kemarau 2026 yang lebih ekstrem.
Petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim yang diprediksi lebih kering dan panjang.
Penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta pengelolaan irigasi yang efisien menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gagal panen.
Selain itu, pemerintah daerah diharapkan memperkuat sistem distribusi air dan menjaga ketersediaan cadangan air, terutama di wilayah rawan kekeringan.
“Koordinasi lintas sektor sangat penting. Informasi iklim harus digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, khususnya di sektor pertanian dan sumber daya air,” tegas Fachri.
Dengan potensi kemarau panjang dan El Nino, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
BMKG mengimbau peningkatan kesiapsiagaan sejak dini, termasuk patroli terpadu, penguatan sistem deteksi dini, serta pengendalian pembukaan lahan dengan cara pembakaran.
Selain itu, potensi krisis air bersih juga menjadi perhatian, khususnya di daerah dengan sumber air terbatas. Pemerintah daerah diminta menyiapkan langkah mitigasi seperti distribusi air bersih dan optimalisasi waduk serta embung.
Akses Informasi Iklim
BMKG telah merilis informasi lengkap terkait prediksi musim kemarau 2026 yang dapat diakses publik melalui situs resminya.
Data tersebut mencakup rincian per wilayah hingga tingkat zona musim.
Masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah diharapkan dapat memanfaatkan informasi ini untuk perencanaan kegiatan, terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian, energi, dan pengelolaan sumber daya air.