Sunday, 08 November 2026


Daftar Varietas Padi Paling Cocok untuk PM-AAS 2026, Potensi Panen Tembus 12 Ton per Hektare

07 Jul 2026, 11:08 WIBEditor : Gesha

Jangan asal pilih benih padi. Kenali varietas yang direkomendasikan untuk PM-AAS 2026 agar panen lebih melimpah, tahan hama, dan hasilnya maksimal.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Jangan asal pilih benih padi. Kenali varietas yang direkomendasikan untuk PM-AAS 2026 agar panen lebih melimpah, tahan hama, dan hasilnya maksimal.

Upaya pemerintah meningkatkan produktivitas padi nasional kini tidak lagi hanya mengandalkan perluasan areal tanam atau penambahan jumlah pupuk.

Melalui konsep Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS), Kementerian Pertanian mendorong perubahan cara budidaya padi secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, penggunaan alat dan mesin pertanian modern, pengelolaan air, hingga pemilihan varietas unggul yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Konsep tersebut dituangkan dalam Buku Saku Petunjuk Teknis Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) Tahun 2026 yang diterbitkan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Buku saku ini menjadi pedoman teknis bagi petani, penyuluh, hingga pemerintah daerah dalam menerapkan sistem budidaya padi modern yang lebih efisien sekaligus mampu meningkatkan hasil panen.

Salah satu poin penting yang menjadi perhatian dalam buku tersebut adalah pemilihan varietas.

BRMP menilai penggunaan varietas unggul yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan PM-AAS karena mampu memaksimalkan produktivitas sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan maupun serangan organisme pengganggu tanaman.

Menariknya, sejumlah varietas yang direkomendasikan dalam PM-AAS memiliki potensi hasil di atas 10 ton gabah per hektare.

Bahkan, varietas padi hibrida tertentu mampu menghasilkan hingga 12,08 ton per hektare apabila dibudidayakan sesuai standar teknis yang telah ditetapkan.

Persiapan Lahan

Namun sebelum membahas varietas yang direkomendasikan, buku saku tersebut menegaskan bahwa produktivitas tinggi tidak akan tercapai apabila tahapan awal budidaya diabaikan. Oleh karena itu, seluruh proses dimulai dari persiapan lahan yang benar.

BRMP menyarankan petani menggunakan lahan sawah dengan sistem irigasi teknis maupun semi teknis yang memiliki kondisi tanah subur, permukaan relatif rata, dan mudah diatur sistem pengairannya. Ketersediaan air menjadi salah satu syarat penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman sejak fase awal.

Tahapan pertama diawali dengan penggenangan lahan menggunakan air setinggi sekitar 2 hingga 5 sentimeter selama dua sampai tiga hari. Penggenangan ini bertujuan melunakkan tanah sehingga proses pengolahan berikutnya menjadi lebih mudah dilakukan. Selain itu, air juga membantu mempercepat pelapukan sisa jerami yang masih tertinggal di lahan.

Setelah kondisi tanah cukup lunak, petani dianjurkan melakukan pengolahan tanah pertama menggunakan traktor roda dua, traktor roda empat maupun rotavator. Pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern menjadi bagian penting dalam PM-AAS karena mampu mempercepat pekerjaan sekaligus menghasilkan olahan tanah yang lebih seragam dibandingkan cara konvensional.

Pada tahap ini, perbaikan pematang sawah juga menjadi perhatian. Pematang yang baik akan memudahkan pengaturan air selama masa pertumbuhan tanaman sehingga distribusi air dapat berlangsung lebih merata.

Pengelolaan kesuburan tanah selanjutnya dilakukan melalui penambahan bahan organik. Dalam buku saku dijelaskan bahwa jerami sisa panen sebaiknya tidak dibakar, melainkan dikembalikan ke lahan melalui proses pengomposan. Selain jerami, petani juga dapat memanfaatkan pupuk kandang, kompos maupun pupuk organik cair sebagai sumber bahan organik tambahan.

Pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan memperbaiki struktur tanah, tetapi juga meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan penting dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman. Dengan demikian, kesuburan tanah dapat terjaga dalam jangka panjang.

Selain bahan organik, kondisi keasaman tanah juga menjadi perhatian. BRMP merekomendasikan penggunaan dolomit sesuai hasil pengukuran pH tanah. Untuk lahan dengan pH di bawah 5, kebutuhan dolomit mencapai sekitar 1 ton per hektare. Sementara pada lahan dengan pH antara 5,5 hingga 6, dosis yang dianjurkan sekitar 500 kilogram per hektare. Apabila pH tanah telah berada pada kisaran ideal, penambahan dolomit tidak lagi diperlukan.

Setelah pengolahan pertama selesai, lahan kembali digenangi selama dua hingga tiga hari. Sekitar satu minggu kemudian dilakukan pengolahan kedua agar tanah semakin halus, lumpur tercampur sempurna, dan permukaan lahan benar-benar rata sehingga siap memasuki tahap penanaman.

Untuk menekan pertumbuhan gulma sejak awal, BRMP juga menyarankan penggunaan herbisida pra-tumbuh sekitar tiga hingga lima hari sebelum tanam sesuai dosis anjuran. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi persaingan gulma dengan tanaman padi dalam menyerap unsur hara, air, maupun cahaya matahari.

Tidak kalah penting adalah memastikan kondisi tanah saat tanam berada pada kondisi macak-macak, yakni lembap tetapi tidak tergenang air. Kondisi tersebut dinilai paling ideal karena memungkinkan akar berkembang lebih baik sekaligus mempercepat adaptasi bibit setelah dipindahkan ke lahan.

Sebaliknya, lahan yang terlalu becek dapat menyebabkan akar membusuk dan bibit mudah rebah. Sementara kondisi yang terlalu kering berisiko menghambat pertumbuhan akar serta menyebabkan tanaman mengalami stres sejak awal pertumbuhan.

Lahan yang masih dipenuhi gulma juga perlu dibersihkan agar tanaman padi tidak kehilangan unsur hara akibat persaingan dengan tanaman pengganggu.

Lantas Varietas apa yang direkomendasikan oleh BRMP? Klik Selanjutnya....

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018