Kamis, 27 Juni 2019


Inilah Ciri Ulat Tentara yang Bikin Geger !

29 Mei 2019, 07:02 WIBEditor : Gesha

FAW memiliki ciri morfologi, adanya 3 garis pada bagian atas tubuh, yaitu sebuah pada dorsal dan pada masing-masing sub dorsal. | Sumber Foto:Dewi Sartiami

Siklus hidup FAW sangat bergantung pada suhu dan berlangsung sekitar 30 hari di musim panas, hingga 90 hari di musim dingin.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Fall Armyworm, jenis Spodoptera frugiperda (FAW) yang menyerang tanaman jagung di Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) sudah sepatutnya diwaspadai oleh petani dan pemangku kepentingan lainnya. Seperti apa cirinya?

Serangan ulat tentara ini sudah masuk Indonesia dan lebih dari 44 negara lainnya. Bahkan, ada sebanyak 80 jenis tanaman di dunia terinfeksi hama FAW kurun tiga tahun terakhir.

Hama serangga asal Negeri Paman Sam tersebut pertama kali terdeteksi di Nigeria, Afrika pada tahun 2016. 

Kemudian, pada tahun 2018 FAW terlihat mulai masuk Asia, seperti  ke India, Thailand, Sri Lanka, Myanmar dan Bangladesh. 

Penyebaran serangga mirip ulat grayak tersebut ke sejumlah benua berlanjut pada tahun 2019 yang dideteksi di Pu’er City dan Dehong di Provinsi Yunnan, Tiongkok.

Hama FAW juga ditengarai mulai menyerang di daerah penghasil jagung di Brazil, Afrika dan India.

Berdasarkan pengamatan kerusakan jagung yang dilakukan tim analisa Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Dewi Sartiami, kerusakan tanaman jagung yang terjadi di Pasaman Barat, Sumbar sesuai ciri dan morfologinya diduga kuat disebabkan serangan Spodoptera frugiperda (FAW).

 “Tanaman jagung yang diserang berusia muda, yakni sekitar 3 bulan. Kerusakan pada daun tanaman juga ditandai dengan sisa kotorannya yang spesifik,” ujar Dewi, di Jakarta (28/5)

Analisa tim ahli IPB menyebutkan,  berdasarkan gambar-gambar larva dan kerusakan dan kunjungan lapang untuk melihat langsung di lapangan. 

Kemudian, dilakukan identifikasi larva serta imago, dan diskusi dengan pemilik lahan/petani terhadap serangga tersebut, diduga kuat kerusakan tanaman tersebut akibat serangan Spodoptera frugiperda (FAW).

“Artinya, FAW asal AS sudah ada di Indonesia, dan ini bukan hal mengejutkan karena serangga yang satu ini punya daya jelajah cukup tinggi,” ujar Dewi.

Berdasarkan nama hama asli (native) dan hama pendatang (exotic) di Indonesia sendiri telah tercatat beberapa hama pendatang dan hingga saat ini masih menjadi masalah.

Diantara hama tersebut adalah  Heteropsylla cubana, Liriomyza huidobrensis, Paracoccus marginatus dan Phenococcus manihoti, dan dikawatirkan selanjutnya hama Spodoptera frugiperda (FAW) juga berpotensi menjadi masalah bagi petani jagung pada khususnya.

Sesuai perhitungan Pusat Biosains Pertanian Internasional Afrika, serangan FAW akan menurunkan hasil produksi jagung sebesar 21-53% per tahun.

Ciri Khusus

Nah, Spodoptera frugiperda (FAW) dapat dikenali melalui ciri morfologinya. Diantaranya terdapat garis mirip huruf Y terbalik pada kepala ulat tersebut. 

Kemudian, terdapat empat buah bintik yang besar (pinacula). Pada abdomen segmen 8 (A8) membentuk segi empat.

FAW juga memiliki ciri morfologi, adanya 3 garis pada bagian atas tubuh, yaitu sebuah pada dorsal dan pada masing-masing sub dorsal. Ulat tersebut juga  memiliki garis lebar seperti pita pada lateral tubuh.

Siklus hidup FAW sangat bergantung pada suhu dan berlangsung sekitar 30 hari di musim panas, hingga 90 hari di musim dingin.

Dengan siklus tersebut menghasilkan generasi setiap tahunnya. Bahkan, pada spesies ini tak terdapat masa penangguhan pertumbuhan.

Hama dewasa aktif di malam hari, menghasilkan telur 2.000 butir. Bahkan, 900-1.000 telur terdaoat pada daun.

Tahap telur berlangsung 2-3 hari. Tahap larva berlangsung selama 14-30 hari dan biasanya terdapat 6 instar. Pembentukan pupa terjadi di tanah dan berlangsung 8-30 hari.

Menurut Dewi,  hama FAW ini sudah diantisipasi sejumlah petani  dengan insektisida. Akan tetapi, serangga yang menyerang bagian daun jagung muda itu ternyata resisten terhadap insektisida.

Nah, untuk mengantisipasi serangan FAW tak menyebar ke daerah lain, ia menyarankan, perlunya dilakukan pendekatan pengelolaan hama terpadu (PHT). 

Salah satunya adalah, akses petani untuk  mencegah kerusakan tanaman mereka antara lain dengan insektisida atau melalui musuh alami hama tersebut.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018