Friday, 18 June 2021


Ada Kawanan Domba di Antara Kebun Kurma

11 May 2021, 15:56 WIBEditor : Ahmad Soim

Zulfurqon dengan ternak kambing dombanya di kebun kurma | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Saat kebun kurma ini dibangun, 3,5 tahun yang lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Global Wakaf Aceh sudah bekerjasama dengan kebun kurma Almahdi .

  Zulfurqan yang juga Kepala Cabang Global Wakaf ACT Aceh, mengatakan pihaknya memerlukan kolaborasi dengan Pak Mahdi Muhammad SE dan Syukri selaku penggagas kebun kurma tersebut.

"Selama bulan Ramadan ada ini 17 batang pohon kurma sedang belajar berbuah. Karena belum semuanya pohon kurma itu menghasilkan buah," terang Zulfurqon.

Umur panen yang baik saat tanaman kurma berumur sekitar 5 tahun. Sementara masa produksi pohon kurma bisa mencapai hingga 100 tahun. "Dari beberapa batang yang di panen muda hanya menghasilkan 20 kg buah per batangnya", sebutnya. 

Walaupun belum dijual hasil panennya, tapi tak sedikit yang datang ingin membeli kurma muda tersebut. Pasalnya, kurma muda berkhasiat untuk kesuburan ibu - ibu yang sedang melaksanakan program kehamilan.

Dikatakannya kebun kurma untuk masa pertumbuhannya sudah baik. Kini lebih fokus untuk masa perawatan, agar produksinya lebih optimal.

Untuk itu dirinya mengajak para milenial atau mahasiswa yang ingin melaksanakan praktek dapat bersinergi melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

Pihaknya kedepan mempunyai Big Plan, agar lumbung ternak wakaf juga dapat menjadi sarana edukasi bagi murid sekolah dasar, sedangkan untuk mahasiswa dapat pula dijadikan sebagai objek praktek maupun penelitian.

Begitu juga halnya kebun kurma, diharapkan dapat menjadi sebagai objek agroeduwisata baru, sehingga setiap pengunjung bisa merasakan sensasi di saat panen tiba. 

Selain itu, hasil kurma wakaf dan lumbung ternak nanti setelah dijual akan disedekahkan bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebanyak 30 persen hasilnya akan dinikmati oleh masyarakat di sekitar lokasi, 30 persen untuk wilayah Aceh dan Indonesia dan sisanya untuk dunia internasional.

Integrasi dengan Domba

Zulfurqan (27) yang juga alumni FKIP Bahasa Inggris USK, Banda Aceh menyebutkan, di kebun kurma seluas 6 hektar itu, katanya ada 700 batang kebun kurma. Sementara lahan seluas 3,5 hektar akan digunakan sebagai lahan untuk peternakan domba. 

Pakan yang diberikan, selain memanfaatkan rumput yang ada disekitar lokasi juga diberikan dedak dalam bentuk konsentrat.

Sistem pemeliharaan, paginya dilepas dan sorenya dikandangkan kembali. Umur domba yang dipelihara saat ini, bervariasi antara 5 bulan hingga 2 tahun. Untuk itu, timnya dituntut agar lebih banyak belajar lagi dalam pengembangan usaha ternak domba.

BACA JUGA:

Hasil kotoran domba tersebut lanjutnya, akan dimanfaatkan kembali untuk dijadikan sebagai pupuk pada pohon kurma. Pihaknya juga membuka diri kalau ada pengusaha atau milenial yang ingin bersinergi. "Baik untuk pemeliharaan ayam potong dan ayam petelur juga untuk pemeliharaan ikan di kolam," paparnya. Sehingga ini merupakan peluang besar untuk memanfaatkan semua limbah sehingga tidak ada yang terbuang (zero waste).

Dijelaskan bahwa ACT juga memiliki lahan wakaf di Lhok Geulumpang, kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya. Saat ini ada juga dipelihara sapi yang terintegrasi dengan lahan wakaf serai wangi. Jumlah sapi yang dipelihara sebanyak 25 ekor. Insya Allah akan terus mengalami perkembangan. 

ACT katanya, merupakan sebuah lembaga/NGO yang bergerak di bidang kemanusiaan seperti membagikan Kurban, Zakat, Wakaf dan ada juga penanggulangan bencana yang menyentuh segala aspek kehidupan dan sendi ekonomi masyarakat, serta pemberian modal usaha seperti UMKM.

UMKM ini sifatnya dapat menerima pinjaman tanpa bagi hasil. Bagi yang meminjam akan mengembalikan sejumlah pinjaman tanpa ada suku bunganya. Memang pinjaman yang disalurkan masih relatif kecil jumlahnya sekitar Rp 500.000 - 3 juta.

Dimasa Pandemi Covid-19 ini ada sejumlah program. Sebagai fasilitator pihaknya menerima sejumlah donasi dan menyalurkan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Termasuk menyalurkan 13 ekor domba ke Dayah Al-Mahfudhah kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar untuk dikembangkan kembali. Dalam operasionalnya pihaknya juga melibatkan Masyarakat Relawan Indonesia yang tersebar di hampir sebagian wilayah Aceh.

Wakaf merupakan solusi pengembangan ekonomi umat dan kesejahteraan masyarakat. Pihaknya, tidak lagi fokus untuk wakaf 3 M seperti wakaf Madrasah, Majid dan Makan. Lembaganya hanya fokus bagaimana pemberdayaan ekonomi produktif. Salah satunya melalui wakaf lumbung ternak dan kebun kurma agar bisa dijalankan secara bergulir. "Sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya," bebernya.

Semangat terbentuknya ACT katanya, dimulai saat Aceh terkena bencana tsunami. Pada tahun 2005 baru terbentuk embrionya saja. Namun secara resmi ACT di Aceh disahkan pada tahun 2017 lalu.

ACT di Aceh selain ada di kota Banda Aceh ada juga di Calang, Lhokseumawe, Subussalam dan kota Langsa.

Selain kurma dan domba, di lokasi tersebut juga dibudidayakan 12 sarang madu kelulut. Tapi yang baru berproduksi hanya 3 sarang saja. Walaupun saat ini sifatnya hanya untuk konsumsi pribadi dan belum dikembangkan untuk usaha bisnis. Namun dia  berharap kedepannya untuk dijadikan peluang bisnis baru yang sangat prospektif dan menjanjikan.

"Per sarang hasilnya baru menghasilkan 500 ml," ungkapnya. Namun untuk lokasi di Gampong Mureu Ulee Titi, kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, kerjasama dengan PLN, ternak madu kelulut sudah mendekati keberhasilan yaitu 500 ml/sarang selama 3 bulan. Untuk satu sarang dibelinya seharga Rp 700.000.

Dalam menjalankan tugasnya, belum lama ini ACT Aceh juga turut menyalurkan bantuan untuk bencana di NTT sebesar Rp 60 juta.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya juga akan menyalurkan bantuan 1.500 paket pangan untuk seluruh Kabupaten/kota di Aceh.

Tiga Aspek Penting

Disisi lain, saat dihubungi ketua Pergizi Pangan Aceh, Dr drh. Iskandar Mirza MP menyambut baik atas inisiasi yang akan melibatkan pihaknya. Dia mengatakan domba adalah salah satu jenis hewan Herbivora yang menyukai berbagai jenis rerumputan. 

Untuk itu dalam pemeliharaan domba katanya, perlu diperhatikan tiga aspek, yaitu manajemen budidaya, manajemen pemberian pakan, manajemen perkawinan serta manajemen kesehatan.

Dikatakannya, manajemen budidayanya bisa dengan cara digembalakan,  dikandang atau juga kombinasi keduanya.

Selain itu, jika sistem budidaya dengan cara digembalakan, sebaiknya pejantan tetap dikandangkan dan jangan digembalakan bersama betina. Ini penting diperhatikan agar tidak terjadi perkawinan sedarah (in breeding).

Waktu penggembalaan lanjut dia, sebaiknya setelah lahan penggembalaan  kering dari embun, jangan dilakukan terlalu pagi karena dikhawatirkan mudah terinfeksi dengan cacing

Sistem perkawinan pada domba bisa dilaksanakan dengan cara menempatkan pejantan ke dalam kelompok betina, atau pejantan dipisahkan dari kelompok betina, dan dimasukkan ke dalam kelompok betina pada saat ada betina yang estrus (minta kawin)

Sementara yang perlu diperhatikan pada aspek kesehatan yaitu, pemberian mineral dan pemberian antelmintik (obat cacing) secara teratur dengan interval pemberian 3-4 bulan.

Penyakit Grass tetany sering terjadi pada ternak domba. Penyakit ini disebabkan karena defisiensi mineral terutama Ca dan Mg. Penyakit ini bisa dicegah dengan pemberian mineral secara rutin pada domba

Sedangkan untuk penyakit Nematodiasis (cacingan) juga sering terjadi pada domba. Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kematian terutama pada domba yang berumur muda. Penyakit cacingan dapat dicegah dengan program pemberian obat cacing secara tepat.

Selain itu, penyakit Coccidiosis (berak darah) juga sering terjadi pada domba muda. "Penyakit ini juga bisa menimbulkan kematian terutama pada domba muda karena dehidrasi," pungkasnya.

  === 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018