Friday, 18 June 2021


Senyum H Bahri Petani Cabai Rawit, Dapat Rp 120 Juta Sekali Panen

10 May 2021, 11:00 WIBEditor : Ahmad Soim

H Bahri Petani Cabai Rawit | Sumber Foto:Suriady

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sidrap – H Bahri tersenyum lega. Menjelang lebaran harga cabai rawit stabil. Ia bisa menikmati pendapatan yang cukup membanggakan.

H. Bahri (64) bertani di Desa Mojong, Kecamatan Wattang Sidenreng, Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan. Ia telah memulai membudidayakan tanaman cabai rawit pada pertengahan tahun 2020, jumlah tanaman cabai rawit yang dibudidayakan 12.000 pohon dengan luas lahan 3 ha dan sudah memproduksi cabai rawit 3 ton setiap panennya.

H. Bahri   merantau ke Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 1987 dan menetap di Palu selama 30 tahun, sekitar awal tahun 2020 akhirnya pulang kampung ke Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengadu nasib dengan bercocok tanam cabai rawit.

Untuk sampai ke lokasi tempat budidaya cabai rawit milik H. Bahri dapat ditempuh dengan jarak sekitar 10 km ke arah timur dari kota Pangkajene Ibukota Kabupaten Sidrap.

Lokasi yang ditempati H. Bahri membudidayakan tanaman cabai rawit pernah ditanami  jeruk harum namun harga dan pasarannya waktu itu tidak bagus sehingga lahan seluas 3 ha itu diolah untuk budidaya tanaman cabai rawit.

Saat Reporter tabloidsinartani.com menemuinya, H. Bahri menjelaskan mengenai proses dalam budidaya cabai rawit mulai pengolahan tanah hingga panen.

"Pertama harus dilakukan yakni pengolahan, penggemburan tanah dan pembuatan bedengan dengan lebar 80 cm, tinggi bedangan 30 cm, dengan jarak bedengan ke bedengan lain 1,5 meter, setelah itu dilanjutkan dengan pemberian pupuk kandang dan SP 36 untuk menyuburkan dan menggemburkan tanah, 10 hari setelah tanam pemberian pupuk NPK 1616, kemudian pada saat tanaman cabai rawit mulai berbunga diberikan pupuk ZA dicampur dengan Ponska dengan sistem tugal," jelas H.Bahri.

BACA JUGA:

"Apabila tanaman cabai rawit daunnya masih berwarna kuning berarti masih perlu untuk diberikan pupuk dan yang perlu sekali diperhatikan dalam budidaya tanaman cabai rawit yakni air yang harus memadai dan harus dilakukan penyiraman dengan menggunakan air bersih setiap sekali seminggu,"ll lanjut H.Bahri.

Lebih jauh, H. Bahri mengatakan bahwa "Untuk mengatasi hama dan penyakit, kami menggunakan insektisida bamex dan mupento sedangkan untuk fungisida kami gunakan antracol untuk mengatasi penyakit daun dan menyehatkan buah," lanjutnya.

Cabai rawit milik H.Bahri dipanen pada umur tiga bulan dan setelah itu dilakukan pemetikan selanjutnya setiap sekali seminggu.

Untuk pemasaran hasil panen cabai rawit milik H.Bahri tidak perlu lagi membawanya ke pasar untuk dijual karena para pedagang datang langsung ke lokasi pertanaman cabai rawit H.Bahri, pedagang tersebut berasal dari Sidrap sendiri seperti Pangkajene dan Rappang bahkan ada dari luar provinsi Sulsel yakni Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

H.Bahri menambahkan bahwa "Apabila perawatan cabai rawit diperhatikan dengan baik dapat memproduksi hingga dua tahun, Alhamdulillah harga cabai rawit saat ini masih stabil sehingga kami bisa menikmati hasilnya dan membuat kami masih bisa tersenyum," tutup H.Bahri.

Harga cabai rawit untuk  tingkat petani Rp 30 ribu -Rp 40 ribu dan Omset H.Bahri dalam budidaya tanaman cabai rawit dalam setiap panennya mencapai Rp 120 juta.

  === 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Suriady
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018