Sabtu, 01 Oktober 2022


Pengembangan Maggot Perlu Dukungan Regulasi Pemerintah  

09 Sep 2022, 11:31 WIBEditor : Yulianto

Ternak maggot | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pengembangan maggot perlu mendapat dukungan regulasi dari pemerintah. Meski sudah ada regulasi terkait penanganan sampah organik sebagai bahan dasar budidaya maggot, tapi yang terkait langsung dengan usaha tersebut belum ada, khususnya dukungan infrastruktur dan sarana prasarana.

Harapan tersebut disampaikan Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara (PPMN), Ardhi Elmeidian saat webinar Bimtek Trik Budidaya dan Peluang Bisnis Maggot yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (7/9)

Seperti diketahui, maggot merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan bermetamorfosis menjadi lalat dewasa. Budidaya larva lalat atau Black Soldier Fly (BSF) relatif cukup mudah dan bisa menjadi ide usaha. Bahkan membudidayakan larva lalat tidak membutuhkan lahan yang luas. “Asal tahu saja, di antara banyaknya sampah di Indonesia, setidaknya lebih dari 50 persen atau sekitar 60 persen merupakan sampah organik,” katanya.

Ardhi mengatakan, saat ini memang telah ada regulasi yang lengkap seperti UU No 18 tahun 2008, PP No 81 tahun 2012, Permen KLHK, Permen PU, Perda dan Peraturan Walikota/Bupati. Bahkan Kementerian LHK juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri tentang Bank Sampah.

”Yang saya lihat Permen (KLHK,red) ini masih ada kekurangan yaitu sangat sedikit menyinggung permasalahan tentang BSF ini sebagai salah satu solusi konkrit dari pengurangan sampah organik,” kata Ardhi.

Namun Ardhi mengapresiasi beberapa daerah sudah ada membuat Perda/Perbup tentang BSF. Salah satu contohnya Kabupaten Banyumas yang sangat interaktif dengan membuat Perda terkait usaha maggot. “Contoh yang baik adalah di Kabupaten Banyumas. Di kabupaten tersebut Bupatinya sangat interaktif dengen merevisi Perda. Di daerah itu, pengolahan sampah cukup berhasil dan produksi maggot juga besar,” tuturnya.

Ardhi menilai, pengembangan nmaggot sangat terkait dengan bagian hulu. Namun regulasi dibagian hulu belum jelas yakni terkait bahan baku (sampah atau limbah organik). Selain itu, bagian hulu juga terkait lahan, infrastruktur, sarpras dan operasional.

“Harapan kami ada dukungan dari pemerintah dan dukungan infrastruktur serta prasarana. Konsep hilir lebih gampang daripada hulu, dimana ketika barang tersedia, suplai banyak, continue, stabil maka hilir akan mudah membentuknya,” kata Ardhi.

Saat ini PPMN sudah mengelola sampah organik atau biasa disebut SOD sekitar 80,9 ton perhari. Jumlah Ekuivalen dengan emisi yang tidak dibuang keudara sekitar 32.438 ton CO2e per tahun. Maggot BSF yang sudah diproduksi PPM Nusantara sebanyak 14 ton per hari.

Ardhi melihat, persoalan sampah ke depan harus segera diatasi. Apalagi hampir setiap hari akan ada sampah dari aktivitas rumah tangga, termasuk sampah organik. Sampah tersebut bisa merupakan sisa makanan seperti sayuran atau buah-buahan, bumbu dapur yang sudah tak terpakai, hingga dedaunan yang rontok di halaman rumah.

“Jika tidak diolah dengan tepat, bukan hanya menimbulkan bau tidak sedap, tapi juga berbahaya. Pasalnya, sampah organik bisa menghasilkan gas metana yang berisiko menciptakan ledakan dan juga pemanasan global,” katanya.

Menurutnya, jika sampah organik terdekomposisi tercampur secara anerob, maka bisa menimbulkan gas berbahaya berupa metana. Metana jika dilepaskan ke udara, maka lapisan stratosfer itu akan menjadi tipis dan menyebabkan efek gas rumah kaca. “Jadi kenapa pemilahan sampah organik dari rumah tangga menjadi hal yang penting dan sangat bermanfaat,” ujarnya.

Karena itu langkah PPMN adalah membantu mengurangi risiko bahaya yang bisa terjadi yakni dengan mendorong budidaya maggot. Ternak maggot terbukti efektif mengurai sampah organik yang ada, karena memiliki kemampuan mengonsumsi sampah organik tiga hingga lima kali lipat dari bobot tubuhnya selama kurang dari 24 jam. “Kalau sampahnya lembut dan sudah basi bisa lebih cepat. Misalnya, maggot-nya 1 kilogram dan ada sampah 3 kilogram, itu kurang dari 4 jam habis,” katanya.

Bukan hanya itu, menurut Ardhi, maggot juga memiliki peluang bisnis, terutama untuk pakan ternak. Bahkan permintaan di pasaran cukup besar dan kadang stoknya masih kurang untuk memenuhi permintaan yang ada. “Makanya, jadi peluang pengusaha yang menjanjikan. Telur maggot BSF pun mempunyai harga jual yang tinggi. Di pasaran harga maggot dijual mulai Rp20.000 sampai Rp30.000 per 100 gram,” ujarnya.

Selain itu, maggot dapat diolah menjadi maggot beku, maggot kering, dan tepung maggot. Produk tersebut sebagai pakan alternatif protein tinggi pada ternak, unggas, dan ikan. Dibandingkan jenis pakan lainnya, maggot cenderung lebih tidak berbau amis.

Namun demikian Ardhi mengingatkan, pengembangan maggot BSF itu sebenarnya ujungnga adalah pelestarian alam dan lingkungan hidup yang akhirnya berdampak pada kesehatan manusia. “Kehadiran PPMN memiliki tujuan membangun jejaring komunikasi sesama pegiat maggot dan perencanaan strategis untuk membangun jejaring baru, advokasi, audiens bersama stakeholder, mengkaji dan bergerak menjaga lingkungan hidup,” tuturnya.

Reporter : Echa/Ni'matun
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018