Rabu, 28 September 2022


Hendra Kurnia, Dirikan Rumah Maggot di Tengah Hutan Beton

09 Sep 2022, 10:26 WIBEditor : Yulianto

Hendra Kurnia (kanan) bersama Pimpinan Perusahaan Tabloid Sinar Tani, Mulyono Machmur | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sampah bagi sebagian orang hanya limbah yang harus dibuang. Tapi bagi Hendra Kurnia Harasjid justru limbah rumah tangga justru menjadi bisnis yang menjanjikan. Bahkan layak ditekuni bagi warga Ibukota DKI Jakarta.

Tinggal di kawasan elit, Menteng, Hendra dengan bendera Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya Harapan Masyarakat Cikini (P4S Harmani) membangun Rumah Maggot Cikini. Bahkan ia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar dari nol bisnis belatung dari lalat hitam tentara (black soldier fly).

Hendra menceritakan dirinya bersama Kelompok Tani Harmani mulai kenal dengan maggot tahun 1992. Awal sebagai penggiat urban farming, ia bersama warga di wilayah tempat tinggalnya sangat membutuhkan pupuk organik dan pakan ternak.

“Saat itu untuk mengolah sampah organik, kami menggunakan tong-tong melalui sistem komposter. Tapi kemudian muncul belatung di sampah tersebut. Kemudian saya teliti dan sambil mencoba memberikan belatung tersebut untuk pakan, ternyata ternak cepat panen. Ternyata belatung dari lalat hitam itu mengandung protein tinggi,” tuturnya.

Hendra kemudian mempelajari lebih lanjut maggot yang ternyata sangat berkaitan erat dengan keberadaan sampah organik. Dengan adanya budidaya maggot ini, ia mengakui, permasalahan sampah organik di perkotaan bisa ditekan seminimal mungkin.  Tahun 2015, Hendra pun mengembangkan budidaya maggot di kawasan elit Cikini, Menteng.

Dengan dukungan berbagai pihak, Hendra membuat Rumah Maggot dalam skala yang lebih besar di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3-R Rawasari, Cempaka Putih. Letak TPST ini berada di lingkungan pemukiman warga yang lumayan padat, tepatnya warga RW 01 dan RW 02 Kelurahan Cempaka Putih Timur. 

Sejak tahun 2020 Hendra bersama penggiat maggot lainnya juga membentuk Rumah Maggot Cikini di Jalan Gondangdia, Kelurahan Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat. Dengan dukungan dari Yayasan Baitul Ma’al (YBM) unit Induk Distribusi Jakarta Raya bekerjasama dengan PT. KAI Daop Jakarta, Rumah Maggot Cikini ini hadir menjadi sarana pelatihan bersama budidaya maggot.

Menggunakan lahan kolong rel Stasiun Gondangdia, Rumah Maggot ini menjadi salah satu area terbuka pelatihan maggot yang bisa dikunjungi siapa saja.

Rantai Bisnis Maggot

Meskipun digeluti secara tidak sengaja oleh Hendra, rantai bisnis maggot ternyata menggiurkan untuk digeluti secara serius. Bagaimana tidak, bukan hanya untuk pakan ternak, tapi juga dalam bentuk fresh maggot, dry maggot dan tepung maggot, bahkan minyak maggot.

Hendra merinci, untuk fresh maggot kisaran harga jualnya adalah Rp 7 ribu-10 ribu/kg. Fresh maggot ini bisa diolah menjadi dry maggot dengan harga Rp 65 ribu-85 ribu/kg.  “Bahkan saat kami studi banding ke Jerman, maggot diolah menjadi makanan, seperti permen dan pasta. Namun di Indonesia memang ada pembatas seperti kehalalan,” ujarnya.

Konsumen dari maggot ini pun beranekaragam, bahkan tersegmentasi dari jenis olahannya. Misalnya fresh maggot dengan pasarnya peternak ayam, peternak ikan, peternak burung.

Fresh maggot biasanya peternak ikan konsumsi seperti lele, nila, patin dan bawal. Saat booming ikan cupang, permintaan dry maggot lumayan tinggi. Dengan konsumsi dry maggot, warna ikan hias bisa muncul lebih  bagus,” tuturnya.

Dengan banyaknya manfaat dari maggot, Hendra mengatakan, kini telah mengembangkan berbagai inovasi produk maggot. Di P4S Harmani, kini limbah bekas media budidaya maggot, populer dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Limbah maggot ini dijual per kemasan 5 kg dengan harga Rp 10 – 15 ribu.

Bagi pelaku usaha yang berminat ingin mengembangkan maggot, Hendra mengatakan, P4S Harmani tengah mempersiapkan paket waralaba budidaya maggot. Pihaknya akan menyiapkan segala kebutuhan infrastruktur seperti bibitnya. Bahkan, P4S Harmani juga siap membeli hasil panen. “Maggot ini peluang usaha yang bagus. Untuk penggiat maggot baru kami siap mendampingi hingga panen,” katanya.

Namun dirinya mengingatkan, bagi yang ingin terjun ke maggot harus mengetahui tujuannya dulu. “Apakah ingin mengurangi sampah, untuk ternak sendiri atau skala industri, apa hanya ikut-ikutan tren. Kalu iseng jangan terjun ke budidaya maggot,” sarannya

Reporter : Gsh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018