Rabu, 28 September 2022


Koperasi MSP Mojokerto Bangun Industri Maggot di Kawasan TPA

09 Sep 2022, 10:45 WIBEditor : Yulianto

Lokasi TPA Karangdiyeng | Sumber Foto:Pemda Mojokerto

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Permasalahan bau sampah yang menggangu masyarakat yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Begitu juga yang dialami warga Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur. Bahkan berdirinya TPA tersebut sempat menimbulkan protes warga.

Masalah sampah itu lah yang kemudian mendorong terbentuknya Koperasi Mega Sejahterakan Petani (MSP) dengan unit pengelolaan maggot. Dibangun pada lahan seluas 6000 meter, unit pengelolaan maggot Koperasi MSP mencoba memanfaatkan sampah organik yang berasal dari TPA sebagai media budidaya magot.

“Sampah organik kami manfaatkan sebagai media budidaya magot sedangkan sampah anorganik kita manfaatakan untuk dibuat berbagai bahan bangunan seperti genteng, paving block, dan lain sebagainya,” ungkap Ketua Unit Pengelolaan Maggot Koperasi MSP, Santoso Bekti Wibowo saat webinar Bimtek Trik Buidaya dan Peluang Bisnis Maggot yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (7/9).

Selain untuk mengatasi permasalahan sampah, Santoso mengaku hadirnya Koperasi MSP dengan unit pengelolaan maggot ialah untuk membangun kesadaran masyarakat sekitar terkait pentingnya pemanfaatan sampah organik dan anorganik dengan sebaik-baiknya. “Untuk mendukung hal tersebut, di Koperasi MSP kami bangun tempat pendidikan budidaya maggot dan tempat pendidikan terkait pengolahan sampah,” ujarnya.

Saat ini maggot hasil budidaya Koperasi MSP digunakan sebagai pakan ternak, khususnya ikan air tawar yang menjadi salah satu lini bisnis koperasi. Dengan adanya maggot, pengeluaran biaya pakan bisa ditekan dan dialihkan untuk mendorong kegiatan lain. Maggot digunakan sebagai pakan ikan air tawar di lahan perikanan seluas 2 ha.

Santoso menambahkan, saat ini ikan air tawar yang diperlihara Koperasi MSP mendapatkan asupan pakan sebanyak 80 persen dari maggot dan 20 persen dari pellet (pakan pabrik). Dari pemberian pakan tersebut, setiap bulanya kolam ikan Koperasi MSP bisa menghasilkan 2-4 ton berbagai jenis ikan air tawar per bulan.

Meski baru berdiri sekitar 1 tahun, namun keberadaan Koperasi MSP sudah bisa memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan. Paling tidak setiap harinya, sebanyak 2-5 ton sampah bisa di olah menjadi media budidaya maggot dengan hasil sekitar 2 kwintal maggot per hari dan berbagai olahan sampah lainnya.

Selain itu kesadaran masyarakat juga sudah mulai terbentuk, hal tersebut tunjukkan dengan makin banyaknya msyarakat yang membudidayakan magot dengan mamanfaaatkan sampah organik yang ada di rumah, sehingga tidak harus dikirim ke TPA. “Budiaya maggot disini sudah mulai bergairah mulai dari skala rumah tangga hingga skala insdustri kecil yang menghasilkan fresh maggot untuk di pasarkan,” ujarnya. 

 

 

Reporter : Herman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018