Jumat, 13 Desember 2019


Masih Ada Disparitas Harga Livebird, Ini Himbauan dari Ditjen PKH

07 Sep 2019, 20:21 WIBEditor : Gesha

Peternak mandiri dan integrator dihimbau Kementan agar tetap tenang menghadapi masalah perunggasan | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Menyikapi situasi perunggasan saat ini, khususnya terkait harga livebird di tingkat peternak (farm gate), Langkah-langkah yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan memberikan himbauan bagi peternak mandiri dan integrator. 

Harga ayam livebird dengan harga ayam di tingkat konsumen memang masih fluktuatif hingga sekarang. Data dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menunjukkan bahwa terjadi anomali harga livebird di tingkat farm gate (peternak) dengan harga Rp. 11 ribu-17 ribu dibandingkan dengan harga di pasar yang masih stabil tinggi sebesar Rp. 30 ribu-35 ribu,  sangat jelas menunjukan adanya disparitas harga yang sangat tinggi. 

Untuk hal tersebut dalam rangka percepatan kembali normalnya harga livebird di tingkat farm gate (peternak) ke HPP, Dirjen PKH menghimbau kepada seluruh pelaku usaha peternakan baik integrator maupun peternak mandiri, sebagai berikut:

Pertama, agar peternak mandiri tidak melakukan aksi demo yang dapat menyebabkan situasi tidak kondusif. Kedua, pelaku usaha atau integrator memaksimalkan kapasitas pemotongan ayam di RPHU dan selanjutnya disimpan di cold storage minimal 30?ri produksi.

Ketiga, pelaku usaha/integrator dihimbau membuat perencanaan produksi DOC FS secara baik dan benar dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar (keseimbangan supply demand).

Keempat, Surat Edaran Ditjen PKH Nomor: 095009/SE/PK.010/F/09/2019 tanggal 2 September 2019 tentang Pengurangan Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS) tahun 2019 dilaksanakan dengan tertib dan penuh tanggungjawab oleh berbagai pihak.

Kelima, agar seluruh Integrator berempati kepada peternak mandiri untuk mendorong stabiltas harga Permendag No. 96 tahun 2018. 

Keenam, seluruh pelaku usaha dan integrator dapat mengirimkan data yang benar dan transparan ke sistem pelaporan online pada tautan http://bitpro.ditjenpkh.pertanian.go.id/unggas, karena Ditjen PKH hanya menggunakan data yg dilaporkan via online dalam menganalisis produksi dan supply demand yang dilakukan oleh tim analisa penyediaan dan kebutuhan ayam ras dan telur konsumsi.

Sebagai bentuk transparansi, hasil pelaporan populasi, produksi dan distribusi GPS, PS, dan FS per propinsi per bulan dapat dilihat oleh masyarakat pada tautan http://bitpro.ditjenpkh.pertanian.go.id/unggas/Publik.html. 

Surplus Produksi

Dari data yang terekam di Ditjen PKH sampai bulan September, potensi kebutuhan daging ayam ras tahun 2019 (Januari-Desember) sebesar 3.251.745 ton atau rata-rata 270.979 ton/bulan, sedangkan potensi produksi daging ayam ras tahun 2019 (Januari - Desember) sebesar 3.829.663 ton atau rata-rata 319.139 ton/bulan. 

Dari data tersebut terdapat *potensi surplus* sebanyak 577.918 ton atau *17.77%* selama periode 2019. Namun demikian, dari data potensi di atas realisasi sesungguhnya sampai saat ini (Agustus 2019) sebesar 2.334.042 ton atau per bulan 291.755 ton.

Artinya terdapat surplus sampai saat ini sebesar 7.29?ri kebutuhan nasional. Dari surplus sebanyak 7.29%, sebenarnya sangat ideal untuk cadangan pangan khususnya daging unggas secara nasional. 

Langkah Cutting HE Umur 19 hari dan tunda setting berdasarkan Surat Edaran Ditjen PKH Nomor: 095009/SE/PK.010/F/09/2019 tanggal 2 September 2019 tentang Pengurangan Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS) tahun 2019 juga dilakukan untuk mempercepat berkurangnya produksi DOC FS dengan harapan peternak mandiri menikmati harga HPP yang stabil sesuai Permendag No 96 tahun 2018.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018