
Kenali tanda ayam mulai sakit dari perubahan jengger, mata, tingkah laku, nafsu makan, produksi telur hingga bentuk dan warna kotorannya.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kenali tanda ayam mulai sakit dari perubahan jengger, mata, tingkah laku, nafsu makan, produksi telur hingga bentuk dan warna kotorannya.
Ayam tidak bisa memberi tahu saat tubuhnya mulai bermasalah. Namun, peternak sebenarnya bisa mengenali tanda awal penyakit dari perubahan tingkah laku, kondisi fisik, nafsu makan, produksi telur hingga bentuk kotorannya.
Karena itu, mengamati ayam setiap hari bukan sekadar rutinitas untuk memastikan pakan dan air minum tersedia. Pengamatan juga menjadi langkah penting untuk mengetahui lebih cepat jika ada ayam yang mulai sakit.
drh. Nafrina Lammiari, M.Si., Widyaiswara Ahli Madya dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, menjelaskan peternak perlu memahami terlebih dahulu seperti apa kondisi ayam yang normal.
Dengan begitu, perubahan kecil akan lebih mudah dikenali. Ayam yang biasanya aktif bergerak, makan dengan lahap dan berkumpul bersama kelompok, misalnya, tiba-tiba menjadi diam dan menyendiri. Kondisi tersebut patut diperhatikan.
“Kalau biasanya ayam aktif, makan lahap dan bergerak bersama kelompok, kemudian ada yang tiba-tiba diam atau menyendiri, perubahan itu perlu diperhatikan,” ujar Nafrina.
Lantas, apa saja tanda ayam mulai sakit yang bisa dilihat langsung oleh peternak?
1. Jengger Pucat atau Kebiruan
Salah satu bagian tubuh ayam yang mudah diamati adalah jengger. Pada ayam sehat, jengger umumnya terlihat dalam kondisi normal sesuai umur dan jenis kelaminnya.
Namun, jika jengger tiba-tiba tampak pucat atau berubah menjadi kebiruan, peternak perlu meningkatkan kewaspadaan.
Perubahan warna jengger dapat menjadi petunjuk adanya gangguan seperti anemia, masalah peredaran darah atau kondisi penyakit tertentu.
Meski begitu, perubahan warna jengger tidak bisa digunakan untuk memastikan satu jenis penyakit. Peternak sebaiknya menjadikannya sebagai tanda awal untuk melakukan pengamatan lebih lanjut.
Artinya, jangan buru-buru menyimpulkan ayam terkena penyakit tertentu hanya karena melihat warna jengger berubah.

2. Mata Layu, Terpejam atau Berair
Tanda berikutnya bisa dilihat dari mata ayam.
Ayam yang sehat umumnya terlihat aktif dan responsif terhadap lingkungan. Sebaliknya, ayam yang matanya tampak layu, sering terpejam atau berair perlu diperhatikan.
Menurut Nafrina, perubahan pada mata dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan, termasuk masalah pernapasan seperti Chronic Respiratory Disease (CRD) atau snot.
Peternak bisa mengamati apakah perubahan pada mata hanya terjadi pada satu ekor atau sudah ditemukan pada beberapa ayam.
Jika jumlah ayam dengan gejala serupa bertambah, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan agar gangguan kesehatan tidak berkembang di dalam kandang.
3. Ayam Megap-megap dengan Paruh Terbuka
Ayam yang membuka paruh dan terlihat seperti megap-megap juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Dalam kondisi cuaca panas, ayam memang bisa melakukan panting atau bernapas dengan paruh terbuka sebagai respons terhadap stres panas.
Namun, jika ayam terus-menerus megap-megap, terlebih disertai gejala lain seperti lemas, suara napas tidak normal atau keluar cairan dari hidung, peternak perlu mengecek kondisi ayam dan lingkungan kandang.
Jadi, jangan langsung menganggap semua ayam yang membuka paruh sedang sakit. Lihat juga kondisi suhu, ventilasi dan perilaku ayam secara keseluruhan.
4. Bulu Berdiri dan Tubuh Meringkuk
Tanda ayam mulai sakit juga bisa terlihat dari bentuk tubuh dan kondisi bulunya.
Ayam yang tubuhnya meringkuk dengan bulu berdiri sering terlihat seperti “bola bulu”. Ayam biasanya menjadi kurang aktif dan tampak tidak nyaman.
Kondisi tersebut dapat menjadi tanda ayam mengalami demam atau gangguan kesehatan tertentu.
Peternak bisa membandingkan ayam tersebut dengan ayam lain di sekitarnya. Jika sebagian besar ayam aktif sementara ada satu atau beberapa ekor yang terus meringkuk dan bulunya berdiri, kondisi itu patut dicatat.
Pengamatan seperti ini penting karena perubahan perilaku sering kali muncul sebelum gejala penyakit terlihat lebih jelas.
5. Sayap Terkulai dan Ekor Menunduk
Selain bulu, posisi sayap dan ekor juga bisa menjadi petunjuk.
Ayam yang sakit dapat terlihat lemas dengan sayap terkulai. Pada kondisi tertentu, sayap bahkan terlihat menggantung hingga mendekati lantai.
Peternak juga perlu memperhatikan ayam yang berdiri dengan ekor menunduk atau menunjukkan posisi tubuh yang tidak biasa.
Salah satunya adalah posisi seperti penguin. Ayam terlihat berdiri atau berjalan dengan postur berbeda dari biasanya.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu, termasuk egg binding, yaitu kondisi ketika telur tersangkut pada saluran reproduksi.
Karena itu, perubahan postur tubuh jangan dianggap sekadar ayam sedang malas bergerak.
6. Tidak Mau Makan dan Memilih Menyendiri
Perubahan nafsu makan merupakan tanda yang relatif mudah diamati peternak.
Ayam yang biasanya aktif mendatangi tempat pakan kemudian tiba-tiba tidak mau makan atau minum perlu mendapat perhatian.
Dalam istilah sederhana, ayam bisa disebut mengalami “GTM” atau Gerakan Tutup Mulut. Pakan dan air minum tidak lagi disentuh seperti biasanya.
Namun, penyebabnya tidak bisa langsung dipastikan hanya dari gejala tersebut.
Peternak perlu melihat tanda lain. Misalnya, ayam tidak mau makan sekaligus lebih banyak diam, menyendiri di pojok kandang, bulunya berdiri atau menunjukkan perubahan pada kotorannya.
Ayam yang biasanya bergerombol tetapi kemudian memilih menjauh dari kelompok juga menjadi tanda penting.
Perubahan perilaku seperti ini justru sering menjadi alarm awal bagi peternak.
7. Produksi Telur Turun dan Kotoran Berubah
Pada ayam petelur, perubahan produksi telur menjadi indikator penting kondisi kesehatan ternak.
Jika produksi telur yang biasanya stabil tiba-tiba turun dalam waktu singkat, peternak perlu mencari penyebabnya.
Penurunan produksi akan semakin patut dicurigai apabila terjadi bersamaan dengan ayam yang malas makan, lebih banyak diam atau menunjukkan perubahan fisik.
Karena itu, pencatatan produksi telur sebaiknya dilakukan secara rutin. Data tersebut bukan hanya berguna untuk menghitung hasil usaha, tetapi juga dapat membantu mendeteksi adanya masalah pada ayam.
Selain produksi telur, peternak juga perlu melihat kotoran.
Kotoran hijau berbuih dapat menjadi salah satu petunjuk yang mengarah pada gangguan seperti Avian Influenza (AI) atau Newcastle Disease (ND). Sementara kotoran putih seperti kapur dapat menjadi tanda yang mengarah pada Pullorum atau berak kapur.
Adapun kotoran berwarna merah atau cokelat karena darah dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada saluran pencernaan, termasuk koksidiosis.
Sekali lagi, perubahan kotoran tidak berarti peternak bisa langsung memastikan penyakit tertentu. Kotoran hanya menjadi salah satu indikator yang perlu dilihat bersama tanda-tanda lainnya.
Jangan Tunggu Ayam Sakit Parah
Menurut Nafrina, pengamatan ayam sebaiknya dilakukan secara rutin. Peternak tidak perlu menunggu ayam benar-benar lemas atau mati untuk mulai bertindak.
Ketika menemukan ayam dengan tingkah laku atau kondisi fisik yang berbeda dari biasanya, lakukan pengamatan lebih lanjut.
Jika ayam dicurigai sakit, segera pisahkan dari ayam sehat. Karena itu, peternak sebaiknya memiliki tempat atau kandang khusus untuk isolasi.
Langkah ini penting untuk mengurangi risiko kontak antara ayam yang sakit dengan ayam sehat, terutama jika penyebab gangguan ternyata berkaitan dengan penyakit menular.
Nafrina menekankan prinsip sederhana yang bisa diterapkan peternak, yaitu “Temukan, Karantina, Obati.”
Pertama, temukan ayam yang menunjukkan perubahan. Kedua, pisahkan atau karantina ayam tersebut. Ketiga, berikan penanganan setelah kondisi ayam diperiksa dan penyebabnya diketahui.
Peternak juga tidak dianjurkan sembarangan memberikan obat hanya berdasarkan satu gejala. Pasalnya, satu gejala bisa muncul pada beberapa gangguan kesehatan yang berbeda.
Jika ditemukan kematian mendadak, jumlah ayam sakit terus bertambah atau muncul tanda yang mengarah pada penyakit menular, peternak sebaiknya segera menghubungi petugas atau tenaga kesehatan hewan.
Dengan pengamatan yang rutin, perubahan kecil pada ayam bisa diketahui lebih cepat. Ujungnya, peternak punya kesempatan lebih besar untuk mencegah masalah kesehatan berkembang dan meluas di dalam kandang.
Sederhananya, ayam memang tidak bisa bicara, tetapi tubuh dan tingkah lakunya bisa memberi banyak tanda. Tinggal bagaimana peternak mau melihat dan membacanya sejak awal.